Sisipublik.com – Warga empat kampung di Distrik Segun, Sorong, Papua Barat Daya, mulai mempelajari pembuatan kapal fiberglass sebagai alternatif transportasi yang lebih ringan dan tahan lama dibandingkan kapal kayu. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 8 Universitas Brawijaya mendampingi masyarakat Klasin, Klasegun, Waimlabat, dan Majemau dalam proses pembuatan perahu tersebut.
Selama ini, kapal kayu menjadi sarana penting bagi warga untuk bergerak melalui jalur sungai dan laut. Namun, bobot kapal membuat mobilitas masyarakat terkendala ketika permukaan sungai surut. Kondisi tersebut bahkan dapat menghambat pengangkutan hasil panen maupun akses warga yang membutuhkan pertolongan medis.
Kapal Fiberglass Ringankan Mobilitas Warga Segun
Penggunaan kapal fiberglass menawarkan solusi terhadap persoalan tersebut karena material serat kaca memiliki bobot lebih ringan sekaligus lebih tahan dibandingkan kapal kayu yang sudah berusia tua.
Dengan karakter tersebut, perahu diharapkan tetap dapat digunakan ketika debit sungai menurun. Karena itu, keberadaan kapal baru tidak hanya berkaitan dengan transportasi, tetapi juga menyentuh kebutuhan ekonomi dan layanan dasar masyarakat.
Nelayan setempat, Max, menyambut pelatihan tersebut karena masyarakat tidak hanya menerima kapal, tetapi juga memperoleh pengetahuan untuk membuatnya sendiri.
“Harapan kami, kiranya ilmu yang kami dapat di sini membawa nilai yang terbaik bagi kami, bahkan meningkatkan taraf ekonomi kami,” ujar Max di Balai Kampung Klasin, Sabtu (26/9/2026).
Mobilitas dari dan menuju Segun selama ini juga membutuhkan biaya besar. Warga harus mengeluarkan sekitar Rp3 juta hingga Rp3,5 juta untuk perjalanan pulang-pergi dari Sorong melalui jalur sungai dan laut.
Warga Mulai Belajar Membuat Kapal Secara Mandiri
Selain mengerjakan kapal, TEP 8 Universitas Brawijaya membangun galangan kapal kecil di lokasi. Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari program karena masyarakat dapat melanjutkan produksi kapal fiberglass setelah pendampingan berakhir.
Tim menargetkan pembuatan empat kapal dengan panjang sekitar 7 meter, lebar 1,3 meter, dan kedalaman 0,6 meter. Hingga saat ini, dua kapal telah selesai, sedangkan tim sedang mengerjakan cetakan kapal ketiga.
Sebanyak 40 warga terlibat dalam proses pembuatan cetakan. Dari jumlah tersebut, 10 orang yang mewakili empat kampung mengikuti pelatihan secara langsung.
Dengan demikian, program tersebut tidak berhenti pada penyediaan sarana transportasi. Pengetahuan mengenai pembuatan kapal juga dapat menjadi modal bagi masyarakat untuk mengembangkan kemampuan produksi secara mandiri.
Penyerahan empat kapal secara resmi rencananya berlangsung pada bulan berikutnya setelah seluruh proses pembangunan selesai.
Transportasi Berpengaruh pada Ekonomi Masyarakat
Kondisi geografis Segun membuat transportasi memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi warga. Kapal menjadi penghubung utama untuk membawa hasil panen, menjalankan aktivitas nelayan, serta mengakses kebutuhan layanan di wilayah lain.
Karena itu, kapal yang dapat beroperasi dalam kondisi sungai surut berpotensi memperpanjang waktu mobilitas masyarakat. Akses yang lebih lancar juga dapat membantu warga mengurangi hambatan ketika mengangkut hasil produksi dari kampung.
Pemerintah sebelumnya juga menempatkan konektivitas sebagai salah satu unsur penting dalam pembangunan kawasan terpencil. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai keterhubungan antarwilayah dapat memperluas akses ekonomi, distribusi barang dan jasa, serta membuka peluang pekerjaan.
Program di Segun kemudian memperlihatkan pendekatan yang lebih spesifik di tingkat kampung. Masyarakat memperoleh sarana sekaligus keterampilan untuk membuat alat transportasi yang sesuai dengan kondisi wilayah mereka.











Komentar