Kabut Asap Ancam Kesehatan, Menkes Prioritaskan Perlindungan Kelompok Rentan

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau kelompok rentan membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan pelindung saat harus keluar selama kabut asap berlangsung (foto: kementerian kesehatan)

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau kelompok rentan membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan pelindung saat harus keluar selama kabut asap berlangsung (foto: kementerian kesehatan)

Sisipublik.com – Kabut asap meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi bayi, balita, lansia, dan ibu hamil. Karena itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau kelompok rentan membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih menyelimuti wilayah terdampak.

Imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap masyarakat. Selain membatasi kegiatan di luar ruangan, masyarakat perlu menggunakan pelindung yang sesuai dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan kesehatan.

Kabut Asap dan Risiko bagi Kelompok Rentan

Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa kabut asap dapat mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Paparan partikel asap juga dapat memicu iritasi pada mata dan kulit. Oleh sebab itu, kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian lebih selama kondisi udara belum membaik.

Dalam keterangannya kepada media di Kementerian Dalam Negeri pada Kamis (15/10/2026), Budi menyarankan keluarga mengutamakan anggota yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di luar rumah. Dengan demikian, bayi, balita, lansia, dan ibu hamil dapat mengurangi risiko paparan asap.

Baca Juga :  Integrasi SATUSEHAT-SIAK Bikin Bayi Baru Lahir Dapat 3 Dokumen Sekaligus

Langkah Perlindungan saat Harus Keluar Rumah

Meski masyarakat sebaiknya mengurangi kegiatan di luar ruangan, sebagian orang mungkin tetap perlu keluar untuk memenuhi kebutuhan penting. Dalam kondisi tersebut, penggunaan alat pelindung menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan partikel asap.

Menkes menganjurkan masyarakat menggunakan masker, terutama respirator N95 jika tersedia. Masyarakat juga dapat mengenakan kacamata untuk membantu melindungi mata serta pakaian berlengan panjang untuk mengurangi kontak partikel asap dengan kulit.

Selain itu, masyarakat perlu membersihkan diri setelah kembali ke rumah. Langkah tersebut dapat membantu menghilangkan partikel yang menempel pada kulit dan pakaian.

Namun, penggunaan alat pelindung tidak menggantikan upaya mengurangi waktu di luar ruangan. Karena itu, masyarakat sebaiknya menunda kegiatan yang tidak mendesak selama kabut asap masih mengganggu kualitas udara.

Kenali Gejala dan Segera Periksa ke Puskesmas

Masyarakat perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh setelah terpapar kabut asap. Batuk, iritasi mata, serta kulit yang terasa gatal atau mengalami iritasi berkepanjangan menjadi keluhan yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga :  Kesiapan Kesehatan Jemaah Haji Jadi Prioritas, Menhaj Minta Pemeriksaan Objektif

Budi mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu hingga gejala memburuk sebelum mencari pertolongan medis. Jika keluhan mulai muncul, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Kemenkes juga menyiapkan pasokan obat-obatan di puskesmas wilayah terdampak untuk mendukung penanganan gangguan kesehatan akibat paparan asap. Ketersediaan obat tersebut menjadi bagian dari upaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat selama kondisi darurat kabut asap.

Pencegahan Menjadi Kunci Menjaga Kesehatan

Kemenkes tidak dapat menghentikan sumber kabut asap secara langsung. Meski demikian, pemerintah terus mendorong upaya pencegahan dan penanganan dampak kesehatan yang muncul akibat paparan asap.

Masyarakat dapat berperan dengan membatasi aktivitas di luar rumah, melindungi diri saat harus bepergian, serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan. Keluarga juga perlu memberi perhatian khusus kepada bayi, balita, lansia, dan ibu hamil yang lebih membutuhkan perlindungan.

Dengan menerapkan langkah pencegahan dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan, masyarakat dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan selama kabut asap masih berlangsung.

Berita Terkait

Skrining Mata Kemenkes Sasar 60.000 Siswa dan Pekerja, Layanan Diperluas ke Puskesmas
Digitalisasi Layanan Haji, Pemerintah Benahi Antrean dan Biaya Pemeriksaan Kesehatan
Investasi Sektor Kesehatan Jadi Peluang Dorong Ekonomi Indonesia hingga 8 Persen
KKSK Perkuat Pengawasan Obat dan Jaminan Kesehatan Lewat Integrasi Data
RS Dustira Perkuat Layanan Kesehatan Prajurit dan Masyarakat, Pengembangan Jadi Sorotan
Rujukan Pasien Teluk Wondama Diperkuat Lewat Rekam Medis Elektronik
Kemenkes Turunkan Syarat SKP Dokter Jadi 160, Fokus Kompetensi Bergeser ke Pelayanan
SATUSEHAT Raih Dua Penghargaan, Integrasi Layanan Kesehatan Digital Terus Meluas
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Skrining Mata Kemenkes Sasar 60.000 Siswa dan Pekerja, Layanan Diperluas ke Puskesmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Kabut Asap Ancam Kesehatan, Menkes Prioritaskan Perlindungan Kelompok Rentan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Digitalisasi Layanan Haji, Pemerintah Benahi Antrean dan Biaya Pemeriksaan Kesehatan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Investasi Sektor Kesehatan Jadi Peluang Dorong Ekonomi Indonesia hingga 8 Persen

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:00 WIB

KKSK Perkuat Pengawasan Obat dan Jaminan Kesehatan Lewat Integrasi Data

Berita Terbaru