Sisipublik.com – Pascagempa NTT, sejumlah siswa SMA Muhammadiyah Boleng, Manggarai Barat, harus mengikuti pembelajaran di tenda darurat setelah kerusakan melanda ruang kelas. Situasi tersebut turut memengaruhi kondisi psikologis siswa karena mereka masih menghadapi kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan.
Untuk membantu siswa menghadapi situasi tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Boleng memberikan pendampingan melalui kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kegiatan berlangsung di lingkungan sekolah yang masih menggunakan fasilitas darurat.
Pascagempa NTT, Pendampingan Menyasar Ketahanan Mental Siswa
Kepala SMA Muhammadiyah Boleng Jamaludin mengatakan kondisi sekolah yang serba terbatas turut memengaruhi psikologis siswa. Selain belajar di tenda, para siswa masih menghadapi rasa cemas setelah bencana.
Karena itu, pihak sekolah menyambut pendampingan KUA Boleng yang memberikan penguatan mental dan spiritual. Menurut Jamaludin, dukungan tersebut membantu siswa mempertahankan semangat belajar selama proses pemulihan.
Sementara itu, Kepala KUA Boleng Ahmad M. Sahar mengingatkan para siswa agar kondisi pascabencana tidak menghentikan rencana mereka untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita.
Ahmad menekankan pentingnya membangun ketangguhan, saling memberikan dukungan, serta tetap mempersiapkan masa depan meskipun aktivitas sekolah belum kembali normal.
Materi BRUS Membahas Stres dan Resiliensi Remaja
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Boleng Susiyanti menyampaikan materi tentang hubungan antara kehidupan remaja dan cita-cita. Materi itu mengajak siswa menyusun langkah untuk mencapai tujuan mereka.
Selanjutnya, Aliwardana membahas kesehatan mental remaja. Materi tersebut mencakup psiko-edukasi keagamaan, pengelolaan stres setelah bencana, penguatan resiliensi, serta pentingnya dukungan dari teman sebaya.
Para siswa mengikuti kegiatan di dalam tenda darurat meskipun sekolah masih menghadapi keterbatasan ruang dan logistik. Kondisi tersebut membuat pendampingan tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga pada kemampuan siswa menghadapi tekanan setelah bencana.
KUA Boleng Hadir Selama Masa Pemulihan
Pelaksanaan BRUS menjadi salah satu bentuk dukungan KUA Boleng kepada masyarakat yang terdampak gempa. Melalui kegiatan tersebut, pendampingan kepada siswa mencakup aspek keagamaan, karakter, cita-cita, dan ketahanan mental.
Dengan pendekatan tersebut, layanan kepada remaja tetap berjalan di tengah kondisi sekolah yang belum sepenuhnya pulih. Pendampingan juga memberi ruang bagi siswa untuk membicarakan tekanan pascabencana sekaligus menjaga motivasi mereka dalam melanjutkan pendidikan.











Komentar