Kemenag Perbarui Data Penerima, Bantuan Pemulihan 821 Pesantren di Aceh Capai Rp74,24 Miliar

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Agama menyalurkan bantuan pemulihan sarana dan prasarana bagi pesantren terdampak bencana di Aceh setelah melakukan verifikasi tingkat kerusakan. (Ilustrasi AI: sisipublik.com)

Kementerian Agama menyalurkan bantuan pemulihan sarana dan prasarana bagi pesantren terdampak bencana di Aceh setelah melakukan verifikasi tingkat kerusakan. (Ilustrasi AI: sisipublik.com)

Sisipublik.com – Kementerian Agama (Kemenag) memperbarui data penerima bantuan pemulihan sarana dan prasarana pesantren terdampak bencana di Aceh. Dari rencana awal 902 lembaga dengan alokasi Rp80,215 miliar, hasil verifikasi menetapkan 821 pesantren sebagai penerima dengan nilai bantuan Rp74,24 miliar.

Pemutakhiran tersebut sekaligus mengubah komposisi penerima berdasarkan tingkat kerusakan. Kemenag menyesuaikan bantuan dengan kondisi nyata setiap pesantren agar anggaran dapat menjawab kebutuhan pemulihan di lapangan.

Bantuan Pesantren Aceh Disesuaikan dengan Tingkat Kerusakan

Bantuan pesantren Aceh kini mengacu pada hasil verifikasi terhadap tingkat kerusakan fasilitas akibat bencana. Kemenag mencatat tujuh lembaga masuk kategori rusak total dengan nilai bantuan Rp1,96 miliar.

Selanjutnya, 250 pesantren dengan kerusakan berat memperoleh Rp33,98 miliar. Sebanyak 404 lembaga dalam kategori rusak sedang mendapat Rp30,3 miliar, sedangkan 160 pesantren dengan kerusakan ringan memperoleh Rp8 miliar.

Hasil pemutakhiran tersebut membuat jumlah penerima berkurang 81 lembaga dari data awal. Penyesuaian terutama menyasar kategori kerusakan sedang dan ringan, setelah petugas melakukan verifikasi terhadap kondisi masing-masing lembaga.

Baca Juga :  Mandiri Jogja Marathon 2026 Catat Rekor, 10.200 Pelari dari 17 Negara Ramaikan Sport Tourism Yogyakarta

Dengan perubahan tersebut, Kemenag mencatat efisiensi anggaran sebesar Rp5,975 miliar dari alokasi awal.

Verifikasi Menjadi Dasar Penyaluran

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Suyitno, menilai pemutakhiran data penting untuk menjaga ketepatan sasaran program. Menurut dia, pemerintah perlu menggunakan kondisi riil pesantren sebagai dasar pemberian bantuan, bukan sekadar mengandalkan data administratif.

Suyitno juga menekankan bahwa pemulihan pesantren memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan pendidikan dan pengasuhan santri. Karena itu, perbaikan fasilitas harus berjalan seiring dengan upaya mengembalikan aktivitas belajar dan kehidupan pesantren secara layak.

Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Kemenag yang sebelumnya juga menekankan sinkronisasi data dalam penanganan dampak bencana di Aceh. Kemenag pada Juni 2026 melaporkan penanganan lintas sektor dengan nilai lebih dari Rp85 miliar dan menyatakan pemutakhiran data terus berjalan agar bantuan dapat tersalurkan secara bertahap.

Penyaluran Bantuan Berjalan dalam Dua Tahap

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, M. Arskal Salim, menjelaskan bahwa perubahan jumlah penerima dan nilai bantuan muncul setelah proses verifikasi serta penyesuaian berdasarkan tingkat kerusakan.

Baca Juga :  Jadwal KRL Jogja-Solo Lengkap, Simak Jam Keberangkatan dari Semua Stasiun

Kemenag kemudian menyalurkan bantuan dalam dua tahap. Tahap pertama mencapai Rp63,458 miliar atau 85,5 persen dari total realisasi. Sementara itu, tahap kedua mencapai Rp10,782 miliar atau 14,5 persen.

Menurut Arskal, mekanisme bertahap tersebut membantu pemerintah mengendalikan penggunaan anggaran sekaligus mempercepat pemanfaatan dana bagi pesantren yang telah memenuhi persyaratan.

Pemulihan Pesantren Menjaga Aktivitas Santri

Pemulihan sarana pesantren tidak hanya menyangkut bangunan yang mengalami kerusakan. Fasilitas yang layak juga menentukan keberlangsungan kegiatan belajar, pengasuhan, dan aktivitas harian santri.

Karena itu, Kemenag mengarahkan proses penyaluran dan pemanfaatan bantuan agar mengikuti kebutuhan setiap lembaga. Pemerintah juga perlu menjaga akuntabilitas agar dana pemulihan benar-benar mendukung pesantren yang terdampak bencana.

Dengan basis data yang terus diperbarui, Kemenag berharap proses rehabilitasi dapat berjalan lebih tepat sasaran. Pada akhirnya, pemulihan fasilitas pesantren menjadi bagian dari upaya mengembalikan kegiatan pendidikan dan pengasuhan santri di Aceh secara aman dan layak.

Berita Terkait

Pascagempa NTT, Siswa SMA Muhammadiyah Boleng Dapat Pendampingan Kesehatan Mental
Jembatan Manyar Dibuka, Jalur Logistik Gresik ke KEK JIIPE Kini Lebih Lancar
Potensi Laut Momiwaren Dibidik untuk Buka Lapangan Kerja Baru
1.000 Pompa Air Disiapkan untuk Jaga Panen Padi dan Jagung di Grobogan
Museum Cipta Mahardika Jadi Model Penguatan Literasi Budaya dan Ekonomi Kreatif
Bendungan Cibeet Jadi Andalan Kendalikan Banjir Karawang-Bekasi, Pembangunan Dipercepat
Petani Pala Papua Barat Belajar Bahasa Inggris untuk Buka Akses Pasar Global
JIAT Jadi Sumber Air Alternatif, Petani Kalobo dan Waibu Tetap Bertani Saat Kering
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 15:00 WIB

Pascagempa NTT, Siswa SMA Muhammadiyah Boleng Dapat Pendampingan Kesehatan Mental

Rabu, 16 September 2026 - 13:00 WIB

Jembatan Manyar Dibuka, Jalur Logistik Gresik ke KEK JIIPE Kini Lebih Lancar

Rabu, 16 September 2026 - 07:00 WIB

Potensi Laut Momiwaren Dibidik untuk Buka Lapangan Kerja Baru

Selasa, 15 September 2026 - 14:00 WIB

1.000 Pompa Air Disiapkan untuk Jaga Panen Padi dan Jagung di Grobogan

Selasa, 15 September 2026 - 12:00 WIB

Museum Cipta Mahardika Jadi Model Penguatan Literasi Budaya dan Ekonomi Kreatif

Berita Terbaru