JIAT Jadi Sumber Air Alternatif, Petani Kalobo dan Waibu Tetap Bertani Saat Kering

- Jurnalis

Jumat, 11 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) mendukung pasokan air untuk lahan pertanian di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya, saat kondisi kering (foto: kementerian pekerjaan umum)

Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) mendukung pasokan air untuk lahan pertanian di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya, saat kondisi kering (foto: kementerian pekerjaan umum)

Sisipublik.com – JIAT menjadi sumber air alternatif bagi petani di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya, saat kondisi kering mengurangi ketergantungan lahan pertanian terhadap curah hujan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun jaringan irigasi air tanah untuk menjaga pasokan air ke kawasan pertanian sekaligus mendukung keberlanjutan produksi pangan.

Pembangunan infrastruktur tersebut menyasar wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan. Melalui sumur bor, pompa, jaringan saluran, dan sejumlah bangunan pendukung, sistem irigasi itu menyediakan alternatif pasokan air ketika kondisi cuaca tidak mendukung kegiatan budidaya.

JIAT Menjaga Pasokan Air untuk Lahan Pertanian

JIAT di Kalobo dan Waibu melayani lahan pertanian sekitar 100 hektare dan memberikan manfaat bagi sekitar 90 petani. Sistem tersebut memanfaatkan air tanah dari 10 titik sumur bor yang kemudian mengalirkannya melalui jaringan irigasi menuju lahan pertanian.

Secara teknis, setiap titik sumur bor memiliki kapasitas debit sekitar 12 liter per detik. Sementara itu, debit layanan irigasi mencapai sekitar 2,5 liter per detik pada setiap titik. Infrastruktur tersebut juga memiliki jaringan sepanjang sekitar 10 kilometer dan 80 bangunan pendukung.

Baca Juga :  Kedelai Grobogan Ditargetkan Tembus 3 Ton per Hektare, Kementan Siapkan Ekspansi Lahan

Selain jaringan saluran, Kementerian PU menyiapkan bak penampung berkapasitas 50 meter kubik untuk mendukung distribusi air. Dengan demikian, sistem tidak hanya mengandalkan sumur dan pompa, tetapi juga memiliki jaringan penyaluran hingga ke kawasan pertanian.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT bertujuan menjaga ketersediaan air sekaligus memperkuat produktivitas pertanian. Menurut dia, keberadaan sumber air yang lebih andal dapat mendukung ketahanan pangan ketika petani menghadapi periode kering.

“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Dody.

Kementerian PU juga menekankan pentingnya pembangunan saluran tersier dalam pengembangan JIAT. Infrastruktur tersebut membantu mengalirkan air dari sumber menuju lahan secara lebih efektif, terutama pada kawasan yang tidak memperoleh layanan irigasi dari sumber air permukaan.

Akses Sulit Tak Menghentikan Pembangunan Infrastruktur

Pembangunan JIAT di Kalobo berlangsung di wilayah dengan tantangan aksesibilitas. Dari Kota Sorong, perjalanan menuju kampung tersebut menggunakan speedboat dengan jarak sekitar 26,3 kilometer dan waktu tempuh kurang lebih satu jam.

Baca Juga :  Petani Pala Papua Barat Belajar Bahasa Inggris untuk Buka Akses Pasar Global

Kondisi geografis itu membuat penyediaan infrastruktur dasar membutuhkan dukungan akses dan distribusi yang sesuai dengan karakter wilayah. Karena itu, pembangunan jaringan air tanah menjadi salah satu bentuk intervensi infrastruktur untuk menjangkau kawasan pertanian yang menghadapi keterbatasan sumber air.

Keberadaan JIAT juga berpotensi mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan. Dengan pasokan air alternatif, kegiatan budidaya memiliki dukungan irigasi ketika periode kering berlangsung.

Pada sisi lain, keandalan pasokan air dapat membantu menjaga kesinambungan produksi pertanian. Jika produktivitas meningkat, petani juga memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik dari hasil budidaya.

Melalui pembangunan tersebut, Kementerian PU menempatkan infrastruktur sumber daya air sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air dan pangan. Pendekatan itu menjadi semakin penting bagi kawasan pertanian yang menghadapi keterbatasan sumber air permukaan serta perubahan kondisi iklim.

Dengan cakupan layanan sekitar 100 hektare, JIAT di Kalobo dan Waibu tidak hanya menyediakan sumber air alternatif. Infrastruktur tersebut juga menjadi penopang aktivitas pertanian agar petani tetap dapat mengelola lahan ketika pasokan air dari hujan berkurang.

Berita Terkait

Kilang LPG Cilamaya Pasok 160 Ton per Hari, Perkuat Kemandirian Energi Jabar dan Jakarta
Longsor Tapan–Jambi Rusak Delapan Titik Jalan, Kementerian PU Kerahkan Alat Berat
Karhutla Tanjung Puting Meluas, Prabowo Siapkan 200 Pompa dan 200 Titik Bor Air
KDKMP Sorowako Dorong Hilirisasi Pertanian, Produk Lokal Kuasai 70 Persen Gerai
Pelatihan Vokasi Kemnaker di NTT Sasar Pemulihan Ekonomi Penyintas Gempa
Budidaya Lebah Trigona Sumalata Buka Peluang Usaha Madu Berbasis Potensi Lokal
Dapur SRT 3 Sulsel Ditarget Rampung 6 Oktober, Mensos Dorong Sekolah Rakyat Mandiri Pangan
Kapal Fiberglass Buka Akses Warga Segun Saat Sungai Surut
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Kilang LPG Cilamaya Pasok 160 Ton per Hari, Perkuat Kemandirian Energi Jabar dan Jakarta

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Longsor Tapan–Jambi Rusak Delapan Titik Jalan, Kementerian PU Kerahkan Alat Berat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Karhutla Tanjung Puting Meluas, Prabowo Siapkan 200 Pompa dan 200 Titik Bor Air

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:00 WIB

KDKMP Sorowako Dorong Hilirisasi Pertanian, Produk Lokal Kuasai 70 Persen Gerai

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Pelatihan Vokasi Kemnaker di NTT Sasar Pemulihan Ekonomi Penyintas Gempa

Berita Terbaru