Sisipublik.com – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memperkuat keselamatan layanan melalui Standar Kesehatan dan Psikologi Pramudi. Langkah ini bertujuan memastikan setiap pramudi memiliki kesiapan fisik dan psikologis sebelum menjalankan tugas.
Transjakarta menggelar Diseminasi Standar Kesehatan dan Psikologi Pramudi untuk menghimpun masukan dari regulator, akademisi, organisasi profesi, mitra operator, dan pemangku kepentingan.
Standar Kesehatan dan Psikologi Pramudi Perkuat Keselamatan
Melalui Standar Kesehatan dan Psikologi Pramudi, Transjakarta memperkuat sistem manajemen keselamatan secara menyeluruh. Program ini mencakup kesehatan fisik dan kesiapan psikologis pramudi. Pramudi memegang peran penting dalam layanan transportasi publik. Mereka berada di garis depan pelayanan dan bertanggung jawab memastikan perjalanan pelanggan berlangsung aman dan nyaman.
Transjakarta menyusun standar tersebut bersama Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI) dan Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (APKI). Selain itu, mitra operator, Safety Agent, instruktur, perwakilan pramudi, serta berbagai fungsi internal Transjakarta turut memberikan masukan melalui forum diskusi dan kajian. Kolaborasi tersebut membantu Transjakarta menyusun standar berdasarkan kajian ilmiah sekaligus kebutuhan operasional transportasi publik.
Transjakarta Kaitkan Kesehatan dengan Kompetensi Pramudi
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Welfizon Yuza, menegaskan bahwa keselamatan menjadi nilai utama dalam layanan Transjakarta. Menurut Welfizon, kualitas layanan tidak hanya bergantung pada armada dan infrastruktur. Kesiapan fisik serta psikologis pramudi juga menentukan keamanan perjalanan pelanggan.
“Melalui penyusunan standar ini, kami ingin memastikan setiap pramudi berada dalam kondisi terbaik saat bertugas sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh pelanggan,” ujar Welfizon, Kamis (6/8). Selanjutnya, Transjakarta akan mengintegrasikan standar tersebut dengan pengembangan kompetensi melalui TJ Academy.
Standar itu juga menjadi acuan dalam rekrutmen, pelatihan, pembinaan, hingga penilaian fit to work bagi pramudi. “Sehingga pengembangan kompetensi tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis mengemudi, tetapi juga memastikan setiap pramudi memiliki kesiapan fisik dan psikologis dalam menjalankan tugasnya,” katanya.
Dinkes DKI Apresiasi Program Transjakarta
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengapresiasi langkah Transjakarta dalam memasukkan aspek kesehatan ke sistem keselamatan transportasi publik. Menurut Ani, program tersebut dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus membantu mengurangi risiko kecelakaan.
“Kami berharap standar ini dapat di implementasikan secara konsisten oleh seluruh mitra operator sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan keselamatan transportasi publik,” ucap Ani. Sementara itu, Ketua PERDOKI Agustina Puspitasari mengatakan forum diseminasi menjadi ruang untuk menyempurnakan standar sebelum Transjakarta menerapkannya secara bertahap.
Menurut Agustina, standar tersebut memberikan acuan dalam penilaian fit to drive, pemeriksaan kesehatan harian, pemeriksaan sebelum kerja, pemeriksaan berkala, pemeriksaan khusus, dan pemeriksaan akhir kerja.
“Standar yang di susun tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatan tetapi juga terkhusus upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif hingga paliatif agar kesehatan pramudi dapat terjaga dalam jangka panjang,” ujarnya.
Standar Psikologi Dukung Pengembangan Pramudi
Ketua APKI-HIMPSI, Sali Rahadi Asih, menilai standar psikologi penting untuk pengembangan kompetensi pramudi. Ia menekankan pentingnya validitas alat ukur, keamanan soal, serta pengelolaan data secara terpusat agar hasil pemeriksaan menggambarkan kondisi psikologis pramudi secara objektif.
“Standar psikologi ini di harapkan tidak hanya menjadi alat seleksi, tetapi juga menjadi dasar evaluasi berkala dan pengembangan kompetensi pramudi secara berkelanjutan,” tandasnya. Forum tersebut turut menghadirkan Komisaris Utama PT Transportasi Jakarta Zudan Arif Fakrulloh, jajaran direksi Transjakarta, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, serta perwakilan BP BUMD DKI Jakarta dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Selain itu, hadir perwakilan Polda Metro Jaya, PERDOKI, APKI, mitra operator, akademisi, organisasi profesi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Transjakarta ingin memastikan setiap pramudi memiliki kesiapan fisik dan psikologis sebelum bertugas. Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen perusahaan menghadirkan transportasi publik yang aman, nyaman, dan andal.
(j/*)











Komentar