PM-AAS Indramayu Tembus 12,35 Ton per Hektare, Soppeng Bertahan di Tengah Kekeringan

- Jurnalis

Rabu, 26 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Panen padi melalui penerapan PM-AAS di Indramayu mencatat produktivitas hingga 12,35 ton per hektare (foto: kementerian pertanian)

Panen padi melalui penerapan PM-AAS di Indramayu mencatat produktivitas hingga 12,35 ton per hektare (foto: kementerian pertanian)

Sisipublik.com – PM-AAS Indramayu mencatat produktivitas padi 12,35 ton per hektare dalam panen di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi. Angka itu jauh di atas capaian sebelumnya yang berada di kisaran 6–7 ton per hektare.

Capaian tersebut muncul dari lahan seluas 10 hektare milik Kelompok Tani Tani Makmur. Hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu mencatat produktivitas tertinggi mencapai 12,35 ton per hektare.

PM-AAS Indramayu Naikkan Produktivitas hingga 76 Persen

PM-AAS Indramayu memperlihatkan peningkatan produktivitas yang cukup besar jika dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Dengan memakai batas atas capaian lama, yakni 7 ton per hektare, hasil 12,35 ton menunjukkan kenaikan sekitar 76 persen.

Sementara itu, penerapan sistem serupa di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, menunjukkan capaian yang berbeda. Panen di Lajaroko, Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, pada 19 Agustus 2026 menghasilkan 10,2 ton per hektare dari lahan seluas 20 hektare.

Produktivitas Soppeng memang sedikit turun dari musim sebelumnya yang mencapai 10,4 ton per hektare. Namun, hasil tersebut tetap berada di atas 10 ton per hektare ketika tanaman menghadapi musim kemarau, kekeringan, serta tekanan hama dan penyakit yang lebih tinggi.

Dua Wilayah, Dua Indikator Keberhasilan

Perbedaan hasil tersebut memberikan gambaran bahwa penerapan PM-AAS tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Sistem ini juga menguji kemampuan budidaya mempertahankan hasil ketika kondisi lingkungan berubah.

Baca Juga :  Libur Nasional 2027 Capai 18 Hari, Pemerintah Antisipasi Lonjakan Mobilitas Saat Lebaran

Di Soppeng, penggunaan varietas Inpago 12 dan Inpari 50 pada musim kemarau pertama menghasilkan 10,2 ton per hektare. Pada musim sebelumnya, varietas Inpago 8 dan Inpago 12 menghasilkan 10,4 ton per hektare.

Karena itu, capaian dua daerah tersebut perlu dibaca sesuai kondisi lahannya. Indramayu menunjukkan ruang peningkatan hasil yang besar, sedangkan Soppeng memperlihatkan kemampuan mempertahankan produktivitas dalam kondisi yang lebih menantang.

PM-AAS Menggabungkan Teknologi dan Pengelolaan Budidaya

Kementerian Pertanian mengembangkan PM-AAS sebagai sistem budidaya padi yang menggabungkan mekanisasi, pengelolaan tanaman, air dan hara, pemanfaatan data, serta teknologi secara terpadu. Materi resmi Kementan juga menekankan bahwa penerapannya perlu menyesuaikan kondisi agroekosistem dan sumber daya petani.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry menilai hasil panen di sejumlah daerah menunjukkan potensi pendekatan tersebut. Menurut dia, hasil optimal bergantung pada kombinasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyebut Kementan telah menguji PM-AAS pada 1.600 hektare. Ia mengatakan hasil uji tersebut berada di kisaran 9–12 ton per hektare dan penerapannya terus diarahkan ke wilayah dengan dukungan irigasi memadai.

Baca Juga :  Beasiswa LPDP Syariah Diusulkan Purbaya untuk Perkuat Talenta Ekonomi Islam Indonesia

Pendekatan itu sejalan dengan konsep PM-AAS yang menempatkan efisiensi sumber daya, mekanisasi, intensifikasi produksi, dan teknologi adaptif sebagai bagian dari sistem budidaya.

Pengujian Lapangan Jadi Dasar Pengembangan

Selain mengejar produktivitas, penerapan PM-AAS juga berfungsi sebagai proses evaluasi teknologi. Setiap hasil panen dapat menjadi bahan untuk menilai efektivitas metode sebelum penerapannya diperluas.

Di Soppeng, pemerintah daerah melihat capaian tersebut sebagai peluang pengembangan pertanian modern. Bupati Soppeng Suwardi Haseng berharap pengalaman dari Lajaroko dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

Bagi petani, keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian utama. Ketua kelompok tani di Soppeng berharap penerapan PM-AAS dapat menjangkau lebih banyak petani di daerah tersebut.

Dengan demikian, hasil 12,35 ton per hektare di Indramayu dan 10,2 ton per hektare di Soppeng memberikan dua gambaran penting. PM-AAS berpotensi meningkatkan hasil pada wilayah tertentu sekaligus membantu mempertahankan produktivitas saat tanaman menghadapi tekanan lingkungan.

Namun, perluasan penerapan tetap membutuhkan pengujian, pendampingan, serta penyesuaian teknologi dengan kondisi setiap wilayah. Pendekatan tersebut penting agar modernisasi pertanian tidak berhenti pada pencapaian angka produksi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan manfaat bagi petani.

Berita Terkait

Revitalisasi Sekolah di Bali Naik Jadi 401 Unit, Perbaikan Infrastruktur Dukung Kenyamanan Belajar
Bhumi ATR/BPN Bantu Cek Peta Bidang Tanah, Ini Batasan Informasi yang Perlu Dipahami
Digitalisasi Bansos Perkuat Verifikasi Penerima, Kemensos Buka Akses Pengawasan Data
SMA Unggul Garuda Perluas Akses Sekolah Unggulan hingga Empat Daerah
Kedelai Grobogan Ditargetkan Tembus 3 Ton per Hektare, Kementan Siapkan Ekspansi Lahan
Prabowo Lantik Empat Wakil Menteri, Dua Perkuat Sektor Pertahanan
Swasembada Beras Perkuat Ketahanan Pangan, Pemerintah Benahi Distribusi Pupuk
Transformasi PLN Jadi Prioritas, Prabowo Dorong Efisiensi dan Energi Surya 100 GW
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Revitalisasi Sekolah di Bali Naik Jadi 401 Unit, Perbaikan Infrastruktur Dukung Kenyamanan Belajar

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Bhumi ATR/BPN Bantu Cek Peta Bidang Tanah, Ini Batasan Informasi yang Perlu Dipahami

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Digitalisasi Bansos Perkuat Verifikasi Penerima, Kemensos Buka Akses Pengawasan Data

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:27 WIB

SMA Unggul Garuda Perluas Akses Sekolah Unggulan hingga Empat Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Kedelai Grobogan Ditargetkan Tembus 3 Ton per Hektare, Kementan Siapkan Ekspansi Lahan

Berita Terbaru