Sisipublik.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan perluasan Beasiswa LPDP Syariah guna mencetak lebih banyak talenta unggul di bidang ekonomi Islam. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri ekonomi syariah global.
Selain memperluas akses pendidikan, pemerintah juga menyiapkan program pembinaan atau matrikulasi bagi calon penerima beasiswa. Langkah itu bertujuan membantu peserta mempersiapkan diri sebelum melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia.
Usulan Beasiswa LPDP Syariah itu disampaikan Purbaya saat menghadiri Rapat Rutin Badan Pengurus Harian Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Jakarta. Menurutnya, pemerintah siap mendukung pembiayaan melalui APBN maupun instrumen fiskal lainnya selama program tersebut memiliki perencanaan yang matang dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.
Purbaya menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah harus berfokus pada manfaat dan implementasi yang konkret. Karena itu, berbagai program penguatan SDM perlu diarahkan untuk menghasilkan dampak yang terukur bagi masyarakat dan dunia usaha.
Ia juga mencontohkan sistem perbankan komunitas atau sparkassen di Jerman. Menurutnya, model tersebut memiliki kesamaan nilai dengan prinsip ekonomi syariah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Beasiswa LPDP Syariah Jadi Strategi Penguatan SDM
Di sisi lain, Ketua Umum IAEI Nasaruddin Umar menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan literasi ekonomi syariah. Padahal, Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia yang seharusnya menjadi modal penting bagi pengembangan sektor tersebut.
Oleh sebab itu, Nasaruddin mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara regulator, akademisi, pelaku industri, serta lembaga riset. Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat perkembangan ekonomi syariah nasional.
Ia menegaskan bahwa IAEI harus berperan sebagai pusat pengembangan gagasan dan strategi ekonomi syariah Indonesia. Selanjutnya, berbagai pemikiran dari akademisi, ulama, dan pakar perlu di terjemahkan menjadi kebijakan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Tantangan Indonesia di Sektor Keuangan Syariah
Sementara itu, kebutuhan peningkatan kualitas SDM semakin penting setelah laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/26 menunjukkan penurunan posisi Indonesia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI). Indonesia kini berada di peringkat keempat dunia.
Meski masih memimpin sektor fesyen muslim atau modest fashion serta menempati posisi tiga besar pada sektor makanan halal dan media-rekreasi, Indonesia belum mampu mempertahankan posisi kuat di sektor keuangan syariah. Bahkan, sektor tersebut keluar dari jajaran lima besar dunia.
Kondisi itu menunjukkan perlunya langkah percepatan untuk memperkuat kompetensi SDM, inovasi, serta kualitas kelembagaan ekonomi syariah di dalam negeri.
IAEI Siapkan Akselerasi Ekonomi Syariah Nasional
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, IAEI menetapkan tahun 2026 sebagai momentum akselerasi organisasi. Fokus utama di arahkan pada pelaksanaan peta jalan ekonomi syariah nasional secara lebih luas dan terukur.
Selanjutnya, organisasi akan menjalankan empat agenda prioritas. Agenda tersebut meliputi penguatan kelembagaan internal, peningkatan kompetensi SDM melalui pendidikan lanjutan, pengembangan riset berbasis data ilmiah, serta perluasan kemitraan internasional.
Melalui berbagai langkah tersebut, IAEI berharap Indonesia mampu memperkuat posisi di sektor ekonomi syariah global. Di saat yang sama, program seperti Beasiswa LPDP Syariah di harapkan melahirkan generasi profesional yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara inklusif dan berkelanjutan. (j/*)










Komentar