Sisipublik.com – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menyiapkan pengembangan kedelai Grobogan, Jawa Tengah, dengan target produktivitas lebih dari 3 ton per hektare. Pemerintah merencanakan perluasan lahan secara bertahap untuk menguji penerapan teknologi budi daya sekaligus meningkatkan produksi kedelai lokal.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pengembangan kedelai di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Yogyakarta, Kamis (15/10/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kerja sama pemerintah dan perguruan tinggi untuk membawa hasil riset pertanian ke lahan budi daya yang lebih luas.
Kedelai Grobogan menjadi salah satu fokus pengembangan karena tim peneliti UGM menargetkan hasil panen di atas 3 ton per hektare. Namun, tim masih perlu menunggu masa panen untuk memastikan produktivitas aktual dari tanaman yang mereka uji.
Kedelai Grobogan Disiapkan untuk Perluasan hingga 5.000 Hektare
Kementan dan UGM telah menyepakati rencana pengembangan kedelai pada lahan seluas 2.000 hektare pada 2027. Jika hasil pengujian dan kesiapan pelaksanaan mendukung, pemerintah membuka peluang perluasan hingga 5.000 hektare.
Rencana tersebut mencakup tambahan lahan seluas 3.000 hektare yang melibatkan masyarakat dan kelompok tani. UGM akan mendampingi pengembangan agar teknik budi daya hasil riset dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.
Amran menyatakan pemerintah siap menyiapkan anggaran untuk mendukung perluasan tersebut apabila pelaksanaannya memungkinkan. Meski demikian, target 5.000 hektare masih bergantung pada kesiapan program dan hasil pengembangan di lapangan.
Pada 2026, Kementan telah mengalokasikan dukungan anggaran sekitar Rp7,7 miliar untuk kerja sama pengembangan pertanian dengan UGM. Dukungan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat penerapan inovasi perguruan tinggi dalam produksi pangan.
UGM Uji Produktivitas Kedelai Sebelum Panen
Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, menjelaskan bahwa varietas kedelai yang dikembangkan memiliki potensi hasil hingga 3,6 ton per hektare. Tim peneliti menargetkan produktivitas lebih dari 3 ton per hektare, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi tanaman, lahan, dan teknik budi daya.
Saat Amran melakukan peninjauan, tanaman kedelai yang ditanam pada 30 Agustus 2026 baru berusia sekitar 44 hari. Tanaman tersebut belum memasuki masa panen sehingga tim belum dapat memastikan hasil produksi per hektare.
Selain memantau pertumbuhan tanaman, tim UGM memperhatikan pengaturan jarak tanam. Pada lahan yang ditinjau, peneliti menerapkan jarak tanam 20 x 40 sentimeter dan menyesuaikan teknik budi daya dengan kondisi lahan serta kebutuhan tanaman.
Pengujian hingga panen menjadi tahap penting untuk menilai apakah potensi hasil varietas tersebut dapat tercapai. Hasilnya juga akan menjadi bahan pertimbangan sebelum pemerintah memperluas penanaman bersama kelompok tani di Grobogan.
Benih Bersertifikat Dukung Pengembangan Kedelai Lokal
Selain meninjau tanaman, Amran melihat benih kedelai bersertifikat yang dipamerkan di stan PIAT UGM. Berdasarkan pengujian yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, benih itu memiliki daya tumbuh hampir 99 persen.
Ketersediaan benih bermutu menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan kedelai. Namun, daya tumbuh benih tidak dengan sendirinya menjamin hasil panen tinggi karena produktivitas juga dipengaruhi kondisi lahan, cuaca, pemeliharaan, dan teknik budi daya.
Karena itu, kolaborasi Kementan dan UGM tidak hanya berfokus pada perluasan lahan, tetapi juga pada pengujian varietas, pendampingan petani, dan penerapan teknologi pertanian.
Melalui tahapan tersebut, pemerintah berharap pengembangan kedelai di Grobogan dapat meningkatkan produktivitas di tingkat petani sekaligus memperkuat produksi kedelai nasional. Capaian panen dan hasil penerapan di lahan petani nantinya akan menjadi tolok ukur penting bagi kelanjutan program.











Komentar