Sisipublik.com – Pariwisata Aceh memiliki kekuatan yang tidak hanya berasal dari keindahan destinasi, tetapi juga dari keterlibatan masyarakat, kekayaan budaya, serta sejarah kebencanaan. Hal itu terlihat saat Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa meninjau sejumlah destinasi di Aceh, Minggu (13/9/2026).
Kunjungan tersebut mencakup Gampong Nusa di Kabupaten Aceh Besar serta Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh. Ketiga lokasi itu memperlihatkan karakter berbeda, tetapi memiliki satu benang merah, yakni pemanfaatan potensi lokal sebagai pengalaman wisata sekaligus sarana pembelajaran.
Pariwisata Aceh Bertumpu pada Kekuatan Masyarakat
Pariwisata Aceh di Gampong Nusa menunjukkan bagaimana warga dapat menjadi bagian utama dalam pengembangan destinasi. Masyarakat mengelola berbagai pengalaman wisata, mulai dari kuliner tradisional, kriya, seni budaya, hingga homestay.
Gampong Nusa sebelumnya masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Desa tersebut menawarkan lanskap perbukitan dan persawahan sekaligus pengalaman wisata yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat setempat.
Selain itu, warga mengembangkan kuliner khas Aceh seperti sie itek atau bebek kari. Masyarakat mengolah hidangan tersebut menggunakan beragam rempah dan memasaknya secara tradisional dengan beulangong atau kuali tanah liat.
Dalam kunjungan itu, Ni Luh Puspa juga bertemu komunitas asal Malaysia, Jelajah Bakti Terpuji (JEBAT), yang mengunjungi Gampong Nusa untuk mengenal atraksi dan budaya setempat, termasuk tari Ratoh Jaroe.
Pengelola Desa Wisata Nusa, Nur, menyampaikan bahwa masyarakat terus menggali potensi lokal untuk mengembangkan atraksi wisata yang dapat menarik pengunjung sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada warga.
Karena itu, Ni Luh Puspa menilai keterlibatan masyarakat menjadi fondasi penting agar perkembangan pariwisata tidak hanya mengejar jumlah wisatawan. Menurut dia, pengelolaan destinasi juga perlu menjaga budaya dan kearifan lokal serta memperkuat manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Jejak Tsunami Menjadi Ruang Belajar
Sementara itu, Museum Kapal PLTD Apung menghadirkan sisi lain dari pariwisata Aceh. Destinasi tersebut mengangkat jejak tsunami 2004 sekaligus menggambarkan ketangguhan masyarakat Aceh setelah bencana.
Kapal PLTD Apung sebelumnya berada di Pelabuhan Ulee Lheue. Tsunami 2004 kemudian menyeret kapal sepanjang 63 meter dengan berat sekitar 2.600 ton hingga sekitar lima kilometer ke daratan. Kini, kapal tersebut menjadi museum dan ruang pembelajaran mengenai tsunami.
Selanjutnya, Ni Luh Puspa mengunjungi Museum Tsunami Aceh. Museum tersebut menggunakan sejumlah ruang tematik untuk membantu pengunjung memahami pengalaman bencana sekaligus mengenal pentingnya mitigasi.
Pengalaman tersebut antara lain hadir melalui space of fear atau lorong tsunami, space of sorrow yang memuat sekitar 3.600 nama korban, serta space of memory yang menyimpan dokumentasi dan informasi mengenai tsunami. Museum juga memiliki Jembatan Perdamaian yang menjadi simbol solidaritas dan perdamaian setelah bencana.
Ni Luh Puspa menilai pendekatan edukasi di Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh memiliki nilai penting karena dapat mengajak wisatawan memahami sejarah bencana sekaligus meningkatkan pengetahuan mengenai mitigasi.
Kolaborasi Menjadi Kunci Pengembangan Destinasi
Dari rangkaian kunjungan tersebut, Kementerian Pariwisata melihat peluang untuk memperkuat pengembangan destinasi Aceh melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, pengelola destinasi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Ni Luh Puspa menyatakan tiga destinasi yang ia kunjungi menunjukkan potensi besar Aceh untuk mengembangkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Pengembangan tersebut, menurut dia, perlu berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kunjungan wisatawan dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan pendekatan itu, pariwisata Aceh tidak berhenti sebagai aktivitas kunjungan. Desa wisata dapat menjadi ruang penguatan ekonomi lokal, sedangkan destinasi sejarah dan museum dapat memperluas fungsi wisata menjadi ruang edukasi mengenai kebencanaan, solidaritas, dan ketangguhan masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Ni Luh Puspa didampingi Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata Reza Pahlevi.











Komentar