Sisipublik.com – Wastra jadi daya tarik wisata budaya yang dimanfaatkan Kementerian Pariwisata untuk mengenalkan destinasi Indonesia kepada masyarakat urban.
Pendekatan itu hadir melalui pameran “Jelajah Indonesia Wastra Nusantara” di Rama Atrium, East Mall Lantai 1, Grand Indonesia, Jakarta, pada 2–6 September 2026.
Wastra Jadi Daya Tarik Wisata Budaya
Kementerian Pariwisata tidak hanya menampilkan batik, tenun, dan kain ikat dalam pameran tersebut. Pemerintah juga menghubungkan produk budaya itu dengan daerah asalnya.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menjelaskan bahwa setiap wastra membawa identitas, pengetahuan, tradisi, dan cerita dari daerah asalnya.
Karena itu, Kemenpar menggunakan wastra sebagai media storytelling untuk memperkenalkan destinasi kepada calon wisatawan.
Pendekatan tersebut diharapkan mendorong masyarakat mengenal daerah asal kain. Selanjutnya, minat tersebut dapat berkembang menjadi perjalanan wisata dan belanja pariwisata.
“Wastra bukan sekadar produk tekstil, melainkan jembatan yang menghubungkan wisatawan dengan keunikan destinasi,” kata Ni Made Ayu dalam keterangan resmi, Jumat (4/9/2026).
Pameran Hubungkan Kain dengan Destinasi
Konsep tersebut terlihat dari keterlibatan pelaku industri pariwisata dalam pameran. Mereka membawa informasi destinasi sekaligus pilihan perjalanan dari berbagai daerah.
Sejumlah peserta antara lain Batik Warisan dari Pekalongan, Lombok Paradise Tour & Travel, Badan Otorita Borobudur, dan Jabu Bonang.
Selain itu, terdapat Ainon Holidays yang mempromosikan Palembang, CakraMahira Bespoke Travel untuk Jakarta, 8 Island Adventure untuk Bali, serta APH Travel & MICE untuk Sumatera Barat.
Dengan demikian, pengunjung dapat melihat hubungan antara produk budaya dan destinasi. Mereka juga memperoleh informasi mengenai pilihan perjalanan ke daerah asal wastra.
Kolaborasi Perluas Promosi Wastra
Kemenpar juga menggandeng sejumlah mitra dalam penyelenggaraan pameran. Kolaborasi tersebut melibatkan BCA, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), serta BINA.
BCA menyediakan area pameran seluas 112 meter persegi di Rama Atrium. Sementara itu, dukungan jaringan ritel membantu memperluas ruang promosi wastra kepada masyarakat.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Erwita Dianti menilai kolaborasi lintas sektor dapat memperluas promosi wastra sekaligus destinasi asalnya.
Selain pelaku perjalanan, Batik Riana Kesuma serta Batik & Tenun Rolla turut menghadirkan koleksi batik dan tenun khas Indonesia.
Kehadiran pelaku industri tersebut membuat pameran tidak berhenti pada pengenalan produk. Pengunjung juga mendapatkan gambaran mengenai destinasi dan pengalaman wisata budaya yang dapat mereka kunjungi.
Pengunjung Bisa Ikuti Aktivitas Wastra
Selama lima hari, penyelenggara menghadirkan sejumlah aktivitas edukatif dan interaktif.
Pengunjung dapat mengikuti kegiatan membatik bersama perajin. Pameran juga menghadirkan peragaan busana yang menampilkan koleksi wastra khas daerah.
Selain itu, tersedia diskusi bersama pelaku industri pariwisata, kuis, serta sesi penataan gaya wastra. Peragaan busana turut melibatkan Miss dan Mister Tourism binaan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI).
Rangkaian kegiatan tersebut memperkuat posisi wastra sebagai bagian dari pengalaman wisata. Masyarakat tidak hanya melihat kain, tetapi juga dapat mengenal proses, cerita, daerah asal, dan peluang perjalanan yang terkait dengannya.
Dengan strategi itu, Kemenpar berupaya menjadikan kekayaan budaya sebagai penghubung antara masyarakat urban dan berbagai destinasi wisata di Indonesia.











Komentar