Sisipublik.com – Pangan lokal Senggi mulai mendapat nilai tambah melalui program Sagu Sapa yang dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP). Program tersebut mengolah pisang, keladi, petatas, serta sagu menjadi beragam sajian yang dapat mendukung pemenuhan gizi keluarga sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.
Program Sagu Sapa atau Sajian Gizi Unggul, Lestarikan Pangan Lokal menyasar kader kesehatan dan pelaku UMKM. Melalui pendekatan tersebut, TEP UNDIP tidak hanya memperkenalkan cara mengolah bahan pangan, tetapi juga mendorong masyarakat melihat komoditas yang tersedia di sekitar mereka sebagai bahan baku produk bernilai tambah.
Pangan lokal Senggi masuk ke empat produk olahan
Pangan lokal Senggi dalam program tersebut berkembang menjadi empat jenis produk. Peserta mengolah keladi menjadi Sapa Boladi, pisang menjadi Sapa Bronana, petatas menjadi Sapa Kita, serta sagu dan gula merah menjadi Sapa Sagara.
Kegiatan berlangsung di Aula UPTD Puskesmas Senggi pada Sabtu, 12 September 2026. Sebanyak 21 peserta dari kader Posyandu, Posbindu, Malaria, serta pelaku UMKM mengikuti workshop dan praktik pengolahan. TEP UNDIP membagi peserta ke dalam lima kelompok agar mereka dapat mempraktikkan langsung setiap tahapan pembuatan produk.
Dengan pola tersebut, kegiatan tidak berhenti pada pengenalan resep. Peserta juga memperoleh pengalaman mengembangkan bahan pangan yang sebelumnya masyarakat Senggi olah secara sederhana menjadi produk dengan bentuk dan penggunaan yang lebih beragam.
Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, Prof. Dr. Diana Nur Afifah, mengatakan kader kesehatan memiliki peran untuk meneruskan pengetahuan pengolahan pangan dan edukasi gizi kepada keluarga serta masyarakat. Sementara itu, pelaku UMKM dapat mengembangkan produk tersebut menjadi bagian dari kegiatan usaha.
Dari kebutuhan gizi menuju peluang usaha
Bagi masyarakat, pengembangan olahan pangan lokal membuka kemungkinan pemanfaatan bahan yang mudah mereka temukan tanpa harus selalu bergantung pada produk dari luar wilayah. Diversifikasi juga memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk menguji produk pangan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Mama Mery, kader Posyandu Kampung Woslay SP 2, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengetahuan baru mengenai pengolahan bahan pangan yang selama ini tersedia di lingkungan masyarakat.
Pendekatan itu juga sejalan dengan temuan TEP UNDIP mengenai kondisi Senggi. Dalam pemaparan hasil kerja lapangan pada September 2026, UNDIP menyebut bidang kesehatan dan gizi sebagai salah satu fokus programnya. Tim mengembangkan modul edukasi bagi kader, remaja, dan guru serta modul resep Sagu Sapa untuk mendukung pemanfaatan pangan lokal.
Selain Sagu Sapa, TEP UNDIP menjalankan program lain di Senggi, termasuk intervensi biskuit sehat bagi sedikitnya 30 wanita usia subur selama 10 minggu. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan dan gizi berjalan bersama pendampingan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Kader dan UMKM menjadi penggerak lanjutan
Keterlibatan kader kesehatan menjadi bagian penting karena pengetahuan mengenai pangan bergizi dapat diteruskan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada saat yang sama, UMKM memiliki ruang untuk mengembangkan resep, kemasan, pemasaran, dan produksi sesuai kebutuhan konsumen.
Kementerian Transmigrasi sendiri menempatkan pendayagunaan potensi lokal dan peningkatan nilai tambah komoditas sebagai bagian dari arah transformasi transmigrasi. Regulasi kementerian juga menempatkan Tim Ekspedisi Patriot sebagai sarana riset, kajian, dan pendampingan yang hasilnya dapat mendukung pengembangan kawasan.
Karena itu, Sagu Sapa tidak hanya berkaitan dengan pengolahan makanan. Program tersebut mempertemukan kebutuhan gizi, pengetahuan masyarakat, dan potensi ekonomi lokal dalam satu kegiatan.











Komentar