Sisipublik.com – Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menilai National Museum of Egyptian Civilization (NMEC) di Kairo, Mesir, memberikan gambaran mengenai cara museum menghubungkan pelestarian sejarah dengan aktivitas budaya dan ekonomi. Pandangan itu muncul setelah Fadli mengunjungi museum tersebut dalam rangkaian kunjungan kerja di Mesir.
NMEC berada di kawasan Fustat dan menyajikan perjalanan peradaban Mesir dari masa prasejarah hingga masa kini. Pemerintah Kairo menyebut museum tersebut memiliki sejumlah galeri tematik, termasuk galeri tentang perkembangan peradaban, Sungai Nil, kebudayaan material, kepercayaan, serta koleksi mumi kerajaan.
Museum Mesir sebagai etalase peradaban dan ekonomi budaya
Menurut Fadli Zon, museum Mesir menunjukkan bahwa lembaga kebudayaan dapat menjalankan fungsi yang lebih luas daripada sekadar menyimpan dan merawat koleksi. Museum juga dapat menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, edukasi, pengalaman pengunjung, dan kegiatan ekonomi budaya.
“Mesir telah menjadikan museum-museum ini sebagai bagian dari etalase budaya, etalase peradaban mereka, dan bahkan menjadi sumber dari ekonomi budaya,” kata Fadli.
Karena itu, Fadli melihat pengelolaan NMEC sebagai salah satu rujukan bagi Indonesia dalam mengembangkan museum yang lebih dekat dengan masyarakat. Pengalaman pengunjung tidak hanya berpusat pada koleksi, tetapi juga berkembang melalui berbagai fasilitas pendukung.
NMEC sendiri mencatat aktivitas museum yang melibatkan beragam kegiatan budaya. Situs resmi museum juga mencantumkan kegiatan pertunjukan musik, pameran, diskusi, hingga program yang berkaitan dengan kewirausahaan budaya.
Koleksi mumi memperkuat daya tarik museum
Salah satu daya tarik utama NMEC terletak pada koleksi mumi kerajaan. Pada 3 April 2021, sebanyak 22 mumi kerajaan dipindahkan dari Egyptian Museum di Tahrir menuju NMEC melalui Pharaohs’ Golden Parade. Koleksi tersebut mencakup 18 mumi raja dan empat mumi ratu dari sejumlah dinasti Mesir kuno.
Fadli juga menyoroti bagaimana museum menghadirkan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Salah satunya terlihat melalui koleksi tekstil dan berbagai artefak yang memperlihatkan kemampuan masyarakat Mesir pada masa lalu.
Dengan pendekatan tersebut, koleksi museum tidak berhenti sebagai benda bersejarah. Sebaliknya, setiap koleksi menjadi bagian dari narasi yang membantu pengunjung memahami perjalanan sebuah peradaban.
Benchmark pengembangan museum Indonesia
Bagi Indonesia, Fadli melihat pengalaman NMEC sebagai benchmark untuk memperkuat fungsi museum sebagai etalase peradaban. Menurut dia, museum Indonesia perlu menghubungkan kekayaan budaya di tingkat hulu dengan pengalaman masyarakat dan penciptaan nilai ekonomi budaya di tingkat hilir.
Pendekatan tersebut mencakup pelestarian koleksi, edukasi, apresiasi, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan pengalaman pengunjung. Dengan demikian, modernisasi museum tidak hanya menyangkut bangunan dan fasilitas, tetapi juga cara institusi tersebut menyampaikan narasi kebudayaan.
Kementerian Kebudayaan juga mendorong transformasi, modernisasi, dan digitalisasi museum untuk memperkuat keterhubungan antara pelestarian, pemanfaatan, edukasi, apresiasi, dan ekonomi budaya.
“Museum tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi menjadi ruang yang menghidupkan kebudayaan, memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, serta membuka peluang bagi tumbuhnya ekonomi budaya Indonesia,” ujar Fadli.
Dalam konteks itu, kunjungan ke NMEC menjadi bagian dari upaya melihat pengelolaan museum dari perspektif yang lebih luas. Museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi ruang publik yang mempertemukan sejarah, pendidikan, kebudayaan, dan aktivitas ekonomi secara berkelanjutan.











Komentar