Industri Tekstil Jadi Fokus Pemerintah, Bahan Baku hingga Impor Jadi Perhatian

- Jurnalis

Kamis, 24 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membahas penguatan industri tekstil dan produk tekstil (foto: kementerian sekretaris negara)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membahas penguatan industri tekstil dan produk tekstil (foto: kementerian sekretaris negara)

Sisipublik.com – Industri tekstil kembali menjadi perhatian pemerintah setelah Presiden Prabowo Subianto meminta penguatan daya saing sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Pemerintah membahas kebijakan dari sisi bahan baku, perdagangan, tenaga kerja, hingga pembiayaan industri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah melihat TPT sebagai sektor strategis karena mencakup rantai produksi dari hulu, antara, sampai hilir. Berdasarkan paparan pemerintah, sektor ini berkontribusi sekitar 0,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, dan mencatat nilai ekspor sekitar 12 miliar dolar AS.

Industri tekstil menghadapi persoalan bahan baku dan impor

Industri tekstil tidak hanya membutuhkan perlindungan pasar, tetapi juga kepastian pasokan bahan baku. Karena itu, pemerintah membahas harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir serta peninjauan aturan yang berkaitan dengan pemasukan bahan baku.

Baca Juga :  Kemenkop Perkuat Koperasi agar Hasil Tangkapan Nelayan Bernilai Tambah

Selain itu, pemerintah menyoroti masuknya produk impor dalam jumlah besar yang dinilai dapat menekan produsen garmen domestik. Airlangga menyampaikan bahwa Presiden meminta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menertibkan praktik impor yang mengganggu industri garmen dalam negeri.

Langkah tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelancaran perdagangan. Pemerintah juga menyebut tingkat utilisasi pabrik tekstil berada di sekitar 75 persen. Kondisi itu menunjukkan masih terdapat kapasitas produksi yang dapat dikembangkan melalui investasi dan ekspansi.

Pemerintah siapkan penyesuaian kebijakan tenaga kerja

Di sisi ketenagakerjaan, rapat juga membahas fleksibilitas penggunaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Skema tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan produksi industri dapat mengikuti perubahan permintaan, termasuk pada periode tertentu.

Pemerintah juga membahas perlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang berkaitan dengan PKWT serta industri tekstil dan pakaian jadi yang berorientasi ekspor. Airlangga mengatakan pemerintah akan mencari pengaturan yang sesuai dan mengevaluasi penerapan PPN bagi sektor tersebut.

Baca Juga :  Manufaktur Elektronika Indonesia Naik Kelas, Ekspor Midea Tembus 2 Juta Unit

Dengan demikian, pembahasan kebijakan tidak hanya menyasar perlindungan pasar domestik. Pemerintah juga mengarahkan kebijakan agar industri mampu menjaga produksi sekaligus mempertahankan daya saing ekspor.

Industri tekstil diarahkan tetap menarik bagi investasi

Pemerintah juga membahas perusahaan TPT yang sedang menghadapi persoalan keuangan. Presiden meminta Danantara segera berperan dalam penyelesaian restrukturisasi perusahaan yang membutuhkan penanganan.

Menurut Airlangga, pemerintah tidak mengategorikan industri tekstil sebagai sektor sunset industry. Karena itu, perusahaan di sektor tersebut masih memiliki ruang untuk melakukan reinvestasi dan memperoleh tambahan modal kerja.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan rantai industri TPT sekaligus membuka ruang pengembangan kapasitas produksi. Dengan kontribusi terhadap tenaga kerja dan ekspor yang cukup besar, pemerintah menempatkan penguatan sektor tekstil sebagai salah satu bagian dari strategi menjaga aktivitas industri nasional.

Berita Terkait

Potensi Ekonomi Haji-Umrah Rp80 Triliun, UMKM Didorong Siapkan Produk untuk Pasar Arab Saudi
Produk Dalam Negeri Bidik Pasar Domestik, TKDN Jadi Penguat Daya Saing Industri
Koperasi BKMT Diproyeksikan Jadi Simpul Ekonomi Umat hingga Desa
KDKMP Disiapkan Jadi Pusat Distribusi Desa, Pemerintah Perkuat Pasokan dan Pengawasan
Sinergi Kemenkeu-BI Fokus Perkuat Sektor Riil dan Stabilitas Keuangan
InaExport Tambah Lima Layanan untuk Buka Peluang Ekspor Produk Indonesia
Fermentasi Nusantara Disiapkan Jadi Produk Kreatif untuk Pasar Global
Kerja Sama Industri Indonesia-Bulgaria Bidik Investasi dan Akses Pasar Eropa
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 06:00 WIB

Potensi Ekonomi Haji-Umrah Rp80 Triliun, UMKM Didorong Siapkan Produk untuk Pasar Arab Saudi

Minggu, 27 September 2026 - 11:00 WIB

Produk Dalam Negeri Bidik Pasar Domestik, TKDN Jadi Penguat Daya Saing Industri

Sabtu, 26 September 2026 - 09:00 WIB

Koperasi BKMT Diproyeksikan Jadi Simpul Ekonomi Umat hingga Desa

Sabtu, 26 September 2026 - 07:00 WIB

KDKMP Disiapkan Jadi Pusat Distribusi Desa, Pemerintah Perkuat Pasokan dan Pengawasan

Jumat, 25 September 2026 - 17:00 WIB

Sinergi Kemenkeu-BI Fokus Perkuat Sektor Riil dan Stabilitas Keuangan

Berita Terbaru