Fermentasi Nusantara Disiapkan Jadi Produk Kreatif untuk Pasar Global

- Jurnalis

Kamis, 24 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Ekonomi Kreatif dan Fermenusa membahas peluang pengembangan produk fermentasi Nusantara melalui kolaborasi ekonomi kreatif dan jejaring pasar (foto: kementerian ekonomi kreatif)

Kementerian Ekonomi Kreatif dan Fermenusa membahas peluang pengembangan produk fermentasi Nusantara melalui kolaborasi ekonomi kreatif dan jejaring pasar (foto: kementerian ekonomi kreatif)

Sisipublik.com – Fermentasi Nusantara mulai mendapat ruang lebih luas dalam pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) membuka peluang kolaborasi dengan Fermenusa untuk mengembangkan kekayaan pangan fermentasi tradisional menjadi pengalaman kreatif sekaligus produk yang memiliki nilai ekonomi.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar mengatakan, Kemenekraf mengajak Fermenusa terlibat dalam Creative Session pada World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Forum tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan pengalaman, pengetahuan, inovasi, dan potensi produk fermentasi Indonesia kepada jejaring ekonomi kreatif nasional maupun internasional.

Fermentasi Nusantara Masuk Ruang Ekonomi Kreatif

Menurut Irene, kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan. Kemenekraf ingin membuka ruang kerja sama jangka panjang yang mempertemukan pengetahuan lokal, kreativitas, dan kebutuhan industri.

Karena itu, pembahasan bersama Fermenusa juga mencakup cara mengembangkan subsektor kuliner berbasis fermentasi tradisional secara lebih terarah. Pendekatan tersebut memungkinkan kekayaan pangan lokal tidak hanya tampil sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman dan karya kreatif.

Irene menyampaikan hal tersebut saat menerima audiensi Fermenusa di Kantor Kemenekraf pada Selasa (22/9).

Baca Juga :  Kemenkop Perkuat Koperasi agar Hasil Tangkapan Nelayan Bernilai Tambah

Keragaman Produk Menjadi Modal Pengembangan

Fermenusa memaparkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan fermentasi yang tersebar di berbagai daerah. Setiap wilayah dapat memiliki perbedaan bahan baku, rasa, teknik pengolahan, serta karakteristik mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi.

Keragaman itu terlihat pada berbagai produk seperti tempe, tape, oncom, kecap, serta makanan dan minuman fermentasi lainnya. Kekayaan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi pengetahuan, pengalaman kuliner, produk kreatif, hingga sarana promosi budaya Indonesia.

Selain itu, pengembangan fermentasi memiliki keterkaitan dengan sejumlah bidang. Fermenusa melihat peluang tersebut dalam riset dan teknologi, budaya kuliner, kearifan lokal, indikasi geografis, industri, investasi, serta promosi ke pasar global.

Fermenusa Bidik Penguatan Jejaring

Sekretaris Fermenusa Harry Nazarrudin menilai Kemenekraf memiliki jaringan dan platform yang dapat mendukung pengembangan produk fermentasi lokal.

Harry mengatakan kolaborasi tersebut dapat membantu memperluas akses pasar dan jejaring internasional sekaligus memperkuat posisi fermentasi Nusantara sebagai kekayaan budaya yang memiliki nilai ekonomi.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina Juni 2026 Diperbarui, Dexlite dan Pertamina Dex Turun di Sejumlah Wilayah

Selanjutnya, Fermenusa mengembangkan Indonesian Fermentation Forum (IFF) sebagai ruang pertemuan bagi akademisi, industri, pemerintah, media, dan komunitas. Forum tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam pengembangan ekosistem fermentasi Indonesia.

Kolaborasi Diarahkan pada Nilai Tambah

Kemenekraf dan Fermenusa membahas sejumlah peluang kerja sama, mulai dari penguatan pengetahuan hingga pengembangan pengalaman dan showcase produk. Keduanya juga membicarakan perluasan jejaring pasar serta penguatan posisi produk fermentasi tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya.

Dengan pendekatan tersebut, fermentasi Nusantara dapat memperoleh ruang pengembangan yang lebih luas dalam ekosistem ekonomi kreatif. Produk yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat dapat dikembangkan melalui pengetahuan, kreativitas, pengalaman kuliner, dan jaringan industri tanpa melepaskan akar tradisinya.

Audiensi tersebut turut dihadiri Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data Jago Anggara, Tenaga Ahli Bidang Regulasi dan Kelembagaan Dahana Esa Putera, serta Direktur Kuliner Romi Astuti. Dari Fermenusa hadir Ketua Fermenusa Bambang Britono dan perwakilan anggota Fermenusa Nathan Santoso.

Berita Terkait

Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin
Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja
Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha
BPDLH Kelola Dana Lingkungan USD1,3 Miliar, Menkeu Tekankan Transparansi dan Dampak
Ekspor Baterai Kendaraan Listrik Jadi Ujian Hilirisasi dan Tanggung Jawab Lingkungan
Menperin Sarmuji Dorong Sinkronisasi Kebijakan agar Industri Dalam Negeri Tumbuh Lebih Cepat
Ekspor Industri Mainan Naik, Kemenperin Dorong Produk Lokal Perluas Pasar Global
Koperasi Ekspor Merah Putih Buka Akses Produk Jateng ke Pasar Global
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:00 WIB

BPDLH Kelola Dana Lingkungan USD1,3 Miliar, Menkeu Tekankan Transparansi dan Dampak

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Ekspor Baterai Kendaraan Listrik Jadi Ujian Hilirisasi dan Tanggung Jawab Lingkungan

Berita Terbaru