Sisipublik.com – Fermentasi Nusantara mulai mendapat ruang lebih luas dalam pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) membuka peluang kolaborasi dengan Fermenusa untuk mengembangkan kekayaan pangan fermentasi tradisional menjadi pengalaman kreatif sekaligus produk yang memiliki nilai ekonomi.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar mengatakan, Kemenekraf mengajak Fermenusa terlibat dalam Creative Session pada World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Forum tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan pengalaman, pengetahuan, inovasi, dan potensi produk fermentasi Indonesia kepada jejaring ekonomi kreatif nasional maupun internasional.
Fermentasi Nusantara Masuk Ruang Ekonomi Kreatif
Menurut Irene, kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan. Kemenekraf ingin membuka ruang kerja sama jangka panjang yang mempertemukan pengetahuan lokal, kreativitas, dan kebutuhan industri.
Karena itu, pembahasan bersama Fermenusa juga mencakup cara mengembangkan subsektor kuliner berbasis fermentasi tradisional secara lebih terarah. Pendekatan tersebut memungkinkan kekayaan pangan lokal tidak hanya tampil sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman dan karya kreatif.
Irene menyampaikan hal tersebut saat menerima audiensi Fermenusa di Kantor Kemenekraf pada Selasa (22/9).
Keragaman Produk Menjadi Modal Pengembangan
Fermenusa memaparkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan fermentasi yang tersebar di berbagai daerah. Setiap wilayah dapat memiliki perbedaan bahan baku, rasa, teknik pengolahan, serta karakteristik mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi.
Keragaman itu terlihat pada berbagai produk seperti tempe, tape, oncom, kecap, serta makanan dan minuman fermentasi lainnya. Kekayaan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi pengetahuan, pengalaman kuliner, produk kreatif, hingga sarana promosi budaya Indonesia.
Selain itu, pengembangan fermentasi memiliki keterkaitan dengan sejumlah bidang. Fermenusa melihat peluang tersebut dalam riset dan teknologi, budaya kuliner, kearifan lokal, indikasi geografis, industri, investasi, serta promosi ke pasar global.
Fermenusa Bidik Penguatan Jejaring
Sekretaris Fermenusa Harry Nazarrudin menilai Kemenekraf memiliki jaringan dan platform yang dapat mendukung pengembangan produk fermentasi lokal.
Harry mengatakan kolaborasi tersebut dapat membantu memperluas akses pasar dan jejaring internasional sekaligus memperkuat posisi fermentasi Nusantara sebagai kekayaan budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Selanjutnya, Fermenusa mengembangkan Indonesian Fermentation Forum (IFF) sebagai ruang pertemuan bagi akademisi, industri, pemerintah, media, dan komunitas. Forum tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam pengembangan ekosistem fermentasi Indonesia.
Kolaborasi Diarahkan pada Nilai Tambah
Kemenekraf dan Fermenusa membahas sejumlah peluang kerja sama, mulai dari penguatan pengetahuan hingga pengembangan pengalaman dan showcase produk. Keduanya juga membicarakan perluasan jejaring pasar serta penguatan posisi produk fermentasi tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya.
Dengan pendekatan tersebut, fermentasi Nusantara dapat memperoleh ruang pengembangan yang lebih luas dalam ekosistem ekonomi kreatif. Produk yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat dapat dikembangkan melalui pengetahuan, kreativitas, pengalaman kuliner, dan jaringan industri tanpa melepaskan akar tradisinya.
Audiensi tersebut turut dihadiri Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data Jago Anggara, Tenaga Ahli Bidang Regulasi dan Kelembagaan Dahana Esa Putera, serta Direktur Kuliner Romi Astuti. Dari Fermenusa hadir Ketua Fermenusa Bambang Britono dan perwakilan anggota Fermenusa Nathan Santoso.











Komentar