Sisipublik.com – Gas Blok Masela menjadi salah satu sumber energi yang akan memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah menetapkan sedikitnya 60 persen produksi gas dari Lapangan Abadi Blok Masela untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, sementara porsi ekspor dibatasi maksimal 40 persen.
Kebijakan tersebut bertujuan memenuhi kebutuhan gas nasional yang terus meningkat. Selain itu, pemerintah ingin memastikan pasokan energi tersedia bagi sektor industri, pembangkit listrik, dan program hilirisasi sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa Gas Blok Masela akan menjadi penopang kebutuhan energi domestik. Ia menyampaikan hal itu dalam laporannya kepada Presiden menjelang peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Masela di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Senin (20/7/2026).
“Kita akan alokasikan produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk ekspor. Sebagian akan digunakan untuk mendukung hilirisasi PT Pupuk yang berencana membangun industri di kawasan tersebut,” ujar Bahlil.
Gas Blok Masela Jadi Penopang Industri, Kelistrikan, dan Hilirisasi
Selain memenuhi kebutuhan industri pupuk, pemerintah juga mengarahkan distribusi gas kepada PT PLN, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), serta sejumlah perusahaan swasta. Dengan demikian, pasokan energi dapat mendukung aktivitas industri sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.
Bahlil menambahkan, pemerintah ingin menciptakan nilai tambah melalui pemanfaatan gas bumi di dalam negeri. Oleh karena itu, distribusi gas tidak hanya berfokus pada kebutuhan energi, tetapi juga mendukung pengembangan industri berbasis hilirisasi.
Selanjutnya, Kementerian ESDM bersama SKK Migas memasukkan alokasi kebutuhan domestik tersebut ke dalam Plan of Development (PoD) atau rencana pengembangan lapangan. Langkah ini di harapkan mampu menjawab peningkatan kebutuhan gas bumi untuk sektor industri, pabrik pupuk, hingga pembangkit listrik nasional.
Blok Masela Masuk Proyek Strategis Nasional
Di sisi lain, Lapangan Abadi Blok Masela berstatus sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Lokasinya berada sekitar 180 kilometer di lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, dengan kedalaman laut antara 400 hingga 800 meter.
Kontrak kerja sama wilayah kerja Masela berlaku sejak 1998 hingga 2055. Nantinya, lapangan tersebut di targetkan mampu menghasilkan sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari, serta sekitar 35.000 barel kondensat setiap hari.
Proyek LNG Abadi Dilengkapi Teknologi CCS
Pengembangan Blok Masela meliputi sistem pengeboran bawah laut, fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pembangunan pipa gas ekspor sepanjang sekitar 175 kilometer, hingga pembangunan kilang LNG di daratan.
Selain itu, proyek ini juga mengadopsi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi tersebut berfungsi mendukung pengurangan emisi karbon sekaligus memperkuat langkah pemerintah dalam mendorong transisi energi yang lebih berkelanjutan. Namun, realisasinya tetap bergantung pada perkembangan pembangunan proyek, kesiapan fasilitas pengolahan, dan tingkat penyerapan gas oleh pengguna di dalam negeri. (j/*)











Komentar