Panglima Jilah Dorong Masyarakat Adat Jadi Mitra Penanganan Karhutla di Kalbar

- Jurnalis

Minggu, 30 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Panglima Jilah memberikan keterangan kepada awak media setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan (foto: kementerian sekretaris negara)

Panglima Jilah memberikan keterangan kepada awak media setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan (foto: kementerian sekretaris negara)

Sisipublik.com – Panglima Jilah mendorong penguatan peran masyarakat adat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Pertemuan tersebut juga membahas dukungan pemerintah untuk mempercepat penanganan karhutla melalui tambahan personel dan sarana udara.

Pertemuan itu berlangsung ketika persoalan karhutla masih menjadi perhatian di Kalimantan Barat. Sebelum bertemu Presiden, Panglima Jilah menyebut dirinya membawa data mengenai masyarakat yang terdampak karhutla dan sejumlah masukan terkait penanganannya.

Panglima Jilah soroti peran masyarakat adat dalam cegah karhutla

Panglima Jilah menilai masyarakat adat memiliki posisi penting dalam pengawasan aktivitas pembukaan dan pembakaran lahan. Menurut dia, warga yang tinggal di sekitar wilayah hutan memahami kondisi lapangan sehingga dapat ikut memantau aktivitas pembakaran di wilayah masing-masing.

Selain pengawasan, masyarakat adat juga menjalankan sosialisasi melalui tokoh-tokoh adat. Langkah tersebut bertujuan mencegah warga melakukan pembakaran secara sembarangan dan menjaga agar api tidak meluas.

Panglima Jilah menekankan bahwa masyarakat Dayak memiliki tradisi berladang yang berlangsung turun-temurun. Ia juga menyatakan aktivitas perladangan masyarakat Dayak berbeda dengan pembukaan kawasan perkebunan, terutama dari sisi lokasi lahan.

Baca Juga :  Sebanyak 35 Persen Alumni Program Magang Nasional Langsung Dapat Tawaran Kerja

Peladang Dayak keberatan kerap dikaitkan dengan karhutla

Panglima Jilah juga menyoroti anggapan yang kerap mengaitkan aktivitas peladang dengan karhutla. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Dayak umumnya berladang di lahan mineral, bukan lahan gambut.

“Orang berladang tidak di lahan gambut. Orang berladang itu di lahan mineral,” kata Panglima Jilah seusai bertemu Presiden Prabowo.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam pertemuan karena pembukaan lahan untuk perladangan dan perkebunan dapat berlangsung pada waktu yang berdekatan. Karena itu, menurut Panglima Jilah, penanganan karhutla perlu melihat kondisi dan karakteristik masing-masing aktivitas secara lebih cermat.

Namun, penjelasan tersebut merupakan pandangan Panglima Jilah dan tidak dengan sendirinya membuktikan penyebab seluruh kasus karhutla di Kalimantan Barat. Penentuan penyebab kebakaran tetap membutuhkan pemeriksaan lapangan dan bukti yang memadai.

Pemerintah siapkan dukungan penanganan karhutla

Dari sisi penanganan di lapangan, Panglima Jilah menyampaikan bahwa Presiden Prabowo mendukung percepatan penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Dukungan tersebut mencakup pengerahan tambahan personel dan sarana udara.

Sebelum pertemuan, Panglima Jilah mengatakan kondisi kebakaran di wilayah yang ia soroti belum terlalu parah. Meski demikian, asap atau kabut akibat kebakaran mengganggu masyarakat, terutama anak-anak.

Baca Juga :  BPS Buka Lowongan Magang Nasional 2026, Kuota 5.000 Peserta Siap Diperebutkan, Sudah Daftar?

Selain isu lingkungan, Panglima Jilah menyebut dukungan pemerintah terhadap Kalimantan Barat juga mencakup sejumlah kebutuhan masyarakat, seperti rumah adat, sekolah, beasiswa, jalan, rumah sakit, infrastruktur, serta dukungan TNI dan Polri.

Kolaborasi pemerintah dan masyarakat adat jadi kunci

Pertemuan Prabowo dan Panglima Jilah menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan lebih dari sekadar pengerahan personel dan teknologi. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan rawan kebakaran juga dapat berperan dalam pengawasan serta pencegahan.

kolaborasi pemerintah dengan masyarakat adat dapat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kawasan hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Pemerintah memiliki sumber daya untuk penanganan darurat, sedangkan masyarakat setempat memiliki pengetahuan mengenai kondisi wilayah yang mereka tinggali.

Dengan pendekatan tersebut, pencegahan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat pengawasan, edukasi, dan keterlibatan masyarakat sejak tahap awal.

Konteks terverifikasi: sumber resmi Presiden RI mencatat pertemuan pada 28 Agustus 2026, bukan 28 Juni 2026. Sumber tersebut juga mengonfirmasi pembahasan mengenai karhutla, tambahan personel, sarana udara, serta peran masyarakat adat.

Berita Terkait

BTA 2023 Mulai Dioptimalkan, Indonesia-Malaysia Fokus Perdagangan Entikong-Tebedu
Sapaan Hangat Mahasiswa Indonesia Sambut Kunjungan Prabowo di Vladivostok
Seleksi PPIH 2027 Gandeng BKN, CAT Digelar Serentak di 34 Titik
Muktamar ke-35 NU Resmi Berakhir, Kepemimpinan Baru PBNU 2026-2031 Dimulai
KH Miftachul Akhyar Terpilih Lagi, AHWA Minta Semua Potensi NU Dirangkul
Kolaborasi Peraih Nobel dan Peneliti Indonesia Didorong Prabowo untuk Perkuat Riset Nasional
Muktamar ke-35 NU Resmi Dibuka Prabowo, Forum Lima Tahunan Mulai Bahas Arah Organisasi
Sekolah Rakyat Mamuju Tengah Masuk Persiapan Tahap 3 Setelah Sertifikat Lahan Terbit
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 09:00 WIB

BTA 2023 Mulai Dioptimalkan, Indonesia-Malaysia Fokus Perdagangan Entikong-Tebedu

Rabu, 2 September 2026 - 19:26 WIB

Sapaan Hangat Mahasiswa Indonesia Sambut Kunjungan Prabowo di Vladivostok

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Seleksi PPIH 2027 Gandeng BKN, CAT Digelar Serentak di 34 Titik

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:01 WIB

Muktamar ke-35 NU Resmi Berakhir, Kepemimpinan Baru PBNU 2026-2031 Dimulai

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:00 WIB

KH Miftachul Akhyar Terpilih Lagi, AHWA Minta Semua Potensi NU Dirangkul

Berita Terbaru