Sisipublik.com – Rujukan pasien Teluk Wondama menghadapi tantangan geografis karena tenaga kesehatan harus melayani masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan dengan jarak antarfasilitas yang jauh. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika petugas masih mengandalkan catatan rekam medis secara manual.
Karena itu, Tim 7 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) memberikan pelatihan Rekam Medis Elektronik (RME) kepada tenaga kesehatan di Teluk Wondama, Papua Barat. Program tersebut bertujuan membantu tenaga kesehatan mengelola informasi pasien secara lebih tertata sekaligus mendukung kesinambungan pelayanan saat pasien berpindah ke fasilitas kesehatan lain.
Rujukan Pasien Teluk Wondama Butuh Data yang Terjaga
Rujukan pasien Teluk Wondama tidak hanya berkaitan dengan perjalanan menuju fasilitas kesehatan. Informasi mengenai kondisi pasien juga perlu tersedia secara akurat agar tenaga kesehatan di tempat tujuan dapat melanjutkan pelayanan berdasarkan data yang memadai.
Selama ini, sejumlah fasilitas kesehatan setempat masih menggunakan pencatatan manual. Menurut Ketua Tim 7 TEP UI, Dr. Trevino Aristarkus Pakasi, FS, MS, Sp.KKLP, Ph.D., cara tersebut menghadirkan risiko kerusakan, kehilangan, hingga pencatatan ganda.
“Kalau manual, rekam medis bisa rusak, bisa hilang, dan datanya tidak bisa dipanggil lagi. Ada juga risiko satu orang punya beberapa rekam medis,” ujar Trevino, Selasa (22/9).
Karena itu, penerapan RME menjadi salah satu upaya untuk menata informasi kesehatan pasien secara lebih sistematis. Selain itu, pencatatan digital dapat mengurangi ketergantungan terhadap dokumen fisik yang rentan mengalami kerusakan atau kehilangan.
Pelatihan Menyesuaikan Kondisi Wilayah Kepulauan
TEP UI melibatkan sekitar 20 tenaga kesehatan dalam tahap awal pelatihan. Materi tersebut memperkenalkan pemanfaatan RME sekaligus menekankan pentingnya pencatatan data pasien untuk mendukung kesinambungan pelayanan.
Siti Harlina, S.Kep., Ns., tenaga kesehatan Puskesmas Windesi, menilai materi pelatihan relevan dengan kondisi pelayanan di wilayah pesisir dan kepulauan. Menurut dia, pencatatan digital dapat membantu petugas menjaga ketertiban dan akurasi data pasien.
Selain itu, Siti menilai keamanan data menjadi aspek penting karena informasi pasien perlu tetap tersedia ketika pasien memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan lain.
TEP UI selanjutnya berencana memperluas pelatihan kepada kader kesehatan. Kegiatan tersebut mencakup upaya menjangkau lingkungan sekolah dan rumah ibadah sehingga edukasi kesehatan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Infrastruktur Internet Jadi Tantangan Berikutnya
Penerapan RME di wilayah kepulauan tetap membutuhkan dukungan infrastruktur. Keterbatasan jaringan internet dapat menghambat pemanfaatan sistem digital apabila tidak berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan.
Siti berharap pelatihan RME dapat berlangsung secara berkelanjutan dengan pendampingan yang konsisten. Ia juga mendorong penguatan jaringan internet agar fasilitas kesehatan di wilayah pesisir dan kepulauan dapat menerapkan sistem tersebut secara lebih optimal.
Dengan demikian, digitalisasi rekam medis tidak berhenti pada pelatihan tenaga kesehatan. Ketersediaan jaringan, pendampingan, serta kesiapan fasilitas turut menentukan keberlanjutan penerapan RME di daerah dengan tantangan geografis seperti Teluk Wondama.
Upaya tersebut juga sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperluas pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya penggunaan teknologi agar pelayanan pemerintah semakin dekat dan mudah dijangkau masyarakat.
Bagi Teluk Wondama, penerapan RME dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesinambungan layanan kesehatan. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kemampuan fasilitas kesehatan menggabungkan kesiapan tenaga kesehatan dengan dukungan infrastruktur digital yang memadai.











Komentar