Pengembangan Kedelai Jawa Timur Diperkuat, UNESA Siapkan 56 Hektare untuk Benih Berkualitas

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkuat kerja sama dengan UNESA untuk pengembangan kedelai melalui pemanfaatan lahan 56 hektare sebagai kawasan produksi benih berkualitas di Jawa Timur. (foto: kementerian pertanian)

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkuat kerja sama dengan UNESA untuk pengembangan kedelai melalui pemanfaatan lahan 56 hektare sebagai kawasan produksi benih berkualitas di Jawa Timur. (foto: kementerian pertanian)

Sisipublik.com – Pengembangan kedelai Jawa Timur mendapat dorongan baru melalui kerja sama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kedua pihak menyiapkan 56 hektare lahan milik UNESA sebagai kawasan produksi benih kedelai berkualitas.

Melalui kerja sama tersebut, Kementan menyediakan benih secara gratis serta alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk traktor roda empat. Pemerintah juga akan membeli seluruh benih yang dihasilkan dari lahan tersebut.

Kesepakatan pengembangan kedelai Jawa Timur itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementan dan UNESA di Surabaya, Rabu (12/8/2026). Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan kerja sama tersebut menghubungkan kemampuan riset perguruan tinggi dengan kegiatan produksi pertanian.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Pak Rektor, luar biasa. Kita langsung tanda tangan MoU dan kemudian kita tindak lanjuti untuk kedelai. UNESA punya lahan 56 hektare, kami berikan bibit gratis dan alat mesin pertanian, termasuk traktor roda empat,” kata Mentan Amran.

Pengembangan Kedelai Jawa Timur Targetkan Produktivitas Tinggi

Mentan Amran menargetkan lahan 56 hektare tersebut mampu menghasilkan kedelai dengan produktivitas minimal 3,5 ton per hektare. Ia bahkan berharap hasilnya dapat mencapai 4 hingga 5 ton per hektare.

Selain menghasilkan benih, kawasan tersebut juga menjadi tempat dosen melakukan budidaya dan penelitian. Dengan demikian, UNESA dapat mengembangkan inovasi serta teknologi yang mendukung peningkatan produksi kedelai.

Selanjutnya, Kementan akan membeli seluruh benih dari lahan tersebut. Pemerintah kemudian menyalurkannya secara gratis kepada masyarakat untuk memperluas pengembangan kedelai di Jawa Timur.

“Kalau produksinya insya Allah bisa 4 ton, 5 ton, minimal 3,5 ton per hektare, semua benih dari 56 hektare kami beli. Offtaker-nya Kementerian Pertanian. Setelah itu kami berikan secara gratis kepada masyarakat Jawa Timur,” tegasnya.

Baca Juga :  SKB Sentra Dharma Guna Bengkulu Buka Jalur Pendidikan bagi Anak Putus Sekolah

Menurut Mentan Amran, pola tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat produksi kedelai nasional secara berkelanjutan. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga membawa inovasi hingga tahap produksi agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

“Kita terus mengembangkan kedelai karena Bapak Presiden Prabowo meminta kita untuk selalu memperkuat kedelai. Kemudian untuk perguruan tinggi yang aktif, kita bagi sesuai dengan komoditas dan kemampuan masing-masing,” ungkapnya.

Kampus Didorong Kembangkan Komoditas dan Teknologi Pertanian

Kerja sama dengan UNESA menjadi bagian dari skema yang lebih luas. Kementan sebelumnya juga membangun kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi berdasarkan kompetensi serta potensi masing-masing kampus.

Skema tersebut menindaklanjuti sinergi Kementan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Karena itu, Mentan Amran membuka peluang bagi perguruan tinggi lain untuk mengembangkan komoditas, teknologi, maupun peralatan pertanian.

“Kami sudah MoU dengan Pak Mendiktisaintek. Siapa yang berminat pada komoditas pertanian, termasuk peralatan pertanian, itu bisa langsung MoU dengan kita. Daripada membeli produk-produk dari luar negeri, kita harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi kita sendiri,” tegasnya.

Mentan Amran menyebut kolaborasi tersebut sebagai penerapan konsep triple helix. Dalam konsep itu, pemerintah menjalankan fungsi regulasi dan dukungan kebijakan, akademisi menghasilkan inovasi, sedangkan dunia usaha menggerakkan kegiatan ekonomi.

“Kalau triple helix dijalankan dengan baik, pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengusaha, kemudian akademisi menciptakan inovasi baru, negara ini kuat. Sangat kuat,” katanya.

Alsintan Buka Peluang Wirausaha Pertanian bagi Mahasiswa

Pada kesempatan yang sama, Mentan Amran menyerahkan satu unit combine harvester kepada Hasan, salah satu mahasiswa yang mengikuti wisuda. Ia berharap mahasiswa tersebut dapat mengelola alsintan itu secara produktif sekaligus memperoleh pengalaman sebagai wirausaha pertanian.

Baca Juga :  Asuransi Usaha Tani Padi 2026 Jadi Jaring Pengaman Modal Petani di Tengah Ancaman El Nino

“Kita berharap dia menjadi pengusaha yang tangguh. Insya Allah kami berikan combine. Pendapatannya bisa minimal Rp2 juta per hari. Kalau Rp2 juta, berarti Rp60 juta per bulan. Itu bahkan lebih tinggi dari gaji menteri yang sekitar Rp19 juta,” ujarnya.

Menurut Mentan Amran, pendekatan tersebut dapat membantu mengubah pandangan terhadap sektor pertanian. Pertanian tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan manual, tetapi juga dapat berkembang sebagai sektor usaha modern yang produktif dan menarik bagi generasi muda.

Karena itu, Kementan akan membarengi pemanfaatan alsintan dengan pembinaan. Langkah tersebut bertujuan agar mahasiswa mampu mengelola peralatan pertanian sebagai bagian dari unit usaha.

Modernisasi juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga efisiensi biaya. Mekanisasi membantu mempercepat pengolahan tanah, penanaman, hingga panen. Dengan proses yang lebih cepat, petani memiliki peluang meningkatkan intensitas pertanaman.

“Pertanian modern adalah semua alat pengolahan tanah menggunakan alat dan mesin pertanian. Tujuannya apa? Planting index naik dari satu kali menjadi tiga kali, produktivitas juga naik, dan biaya bisa turun sampai 60 persen. Itulah pertanian modern,” tegas Mentan Amran.

Pada akhirnya, kerja sama Kementan dan UNESA mendorong keterlibatan langsung perguruan tinggi dalam ekosistem pertanian. Lahan, riset, teknologi, dosen, dan mahasiswa dapat bergerak bersama untuk menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan pangan nasional.

Berita Terkait

Kelapa Parut Kering Jadi Peluang Usaha Baru bagi Warga Pulau Bacan
Kilang LPG Cilamaya Pasok 160 Ton per Hari, Perkuat Kemandirian Energi Jabar dan Jakarta
Longsor Tapan–Jambi Rusak Delapan Titik Jalan, Kementerian PU Kerahkan Alat Berat
Karhutla Tanjung Puting Meluas, Prabowo Siapkan 200 Pompa dan 200 Titik Bor Air
KDKMP Sorowako Dorong Hilirisasi Pertanian, Produk Lokal Kuasai 70 Persen Gerai
Pelatihan Vokasi Kemnaker di NTT Sasar Pemulihan Ekonomi Penyintas Gempa
Budidaya Lebah Trigona Sumalata Buka Peluang Usaha Madu Berbasis Potensi Lokal
Dapur SRT 3 Sulsel Ditarget Rampung 6 Oktober, Mensos Dorong Sekolah Rakyat Mandiri Pangan
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Kelapa Parut Kering Jadi Peluang Usaha Baru bagi Warga Pulau Bacan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Kilang LPG Cilamaya Pasok 160 Ton per Hari, Perkuat Kemandirian Energi Jabar dan Jakarta

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Longsor Tapan–Jambi Rusak Delapan Titik Jalan, Kementerian PU Kerahkan Alat Berat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Karhutla Tanjung Puting Meluas, Prabowo Siapkan 200 Pompa dan 200 Titik Bor Air

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:00 WIB

KDKMP Sorowako Dorong Hilirisasi Pertanian, Produk Lokal Kuasai 70 Persen Gerai

Berita Terbaru