Sisipublik.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons kebutuhan pertanian Kabupaten Puncak, Papua Tengah, dengan menyiapkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk petani di 25 distrik.
Selain bantuan alsintan, Kementerian Pertanian (Kementan) membuka peluang pengembangan kopi Arabika di wilayah tersebut. Program itu akan dimulai dari lahan 100 hektare dan berpotensi berkembang hingga 500 hektare.
Dukungan pertanian Kabupaten Puncak itu muncul dalam audiensi sejumlah kepala daerah dengan Mentan Amran di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Senin (24/8). Pemerintah daerah menyampaikan kebutuhan sarana pertanian sekaligus tantangan geografis yang mereka hadapi.
Dukungan pertanian Kabupaten Puncak menyesuaikan kondisi wilayah
Wilayah pegunungan membuat distribusi sarana pertanian menuju Puncak menghadapi kendala transportasi. Bahkan, Pemkab Puncak mengusulkan pengiriman sejumlah alat menggunakan dua pesawat agar bantuan dapat menjangkau petani.
Karena itu, Mentan Amran meminta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) segera memetakan kebutuhan alsintan. Kementan juga mendorong penguatan peran penyuluh untuk mendampingi petani dalam menggunakan bantuan tersebut.
Pada tahap awal, kebutuhan mencakup alat pertanian berukuran kecil seperti linggis, cangkul, sekop, dan parang. Pemkab Puncak menilai peralatan tersebut penting karena petani menghadapi keterbatasan sarana di sejumlah distrik.
Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal menjelaskan bahwa biaya transportasi menjadi salah satu tantangan utama. Mobilitas antardistrik juga kerap membutuhkan pesawat kecil karena kondisi geografis wilayah.
Selain akses, faktor cuaca turut memengaruhi aktivitas pertanian. Naftali menyebut sebagian tanaman masyarakat mengalami dampak kekeringan dan suhu dingin yang disertai turunnya salju.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mencari dukungan untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Selain tanaman pangan, Pemkab Puncak melihat kopi dan peternakan sebagai komoditas yang berpotensi dikembangkan.
Kopi Arabika Puncak disiapkan mulai 100 hektare
Pengembangan kopi Arabika Puncak mendapat perhatian khusus dari Mentan Amran. Ia meminta pemerintah daerah memulai pengembangan dengan luasan 100 hektare sebagai tahap awal.
Jika pengelolaan berjalan baik dan menghasilkan, Kementan membuka peluang memperluas pengembangan hingga 500 hektare. Selanjutnya, Direktorat Jenderal Perkebunan diminta berkoordinasi dengan Pemkab Puncak untuk menyiapkan tindak lanjut program tersebut.
Langkah itu menunjukkan pendekatan pengembangan pertanian berdasarkan potensi wilayah. Dengan demikian, bantuan sarana tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mendukung komoditas yang memiliki peluang ekonomi.
Kementan juga menyatakan perhatian terhadap pembangunan pertanian di wilayah Papua. Mentan Amran menyebut pemerintah mengalokasikan anggaran total Rp5 triliun untuk wilayah Papua pada 2025–2026.
Bantuan alsintan, pendampingan penyuluh, dan pengembangan kopi Arabika menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian Puncak. Jika pelaksanaannya berjalan sesuai kebutuhan daerah, program tersebut dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di 25 distrik.











Komentar