Kriya Payakumbuh Didorong Tembus Pasar Lebih Luas Pascabencana

- Jurnalis

Minggu, 30 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perajin kriya Payakumbuh mengikuti pendampingan pengembangan produk anyaman dan sulam dalam program pemulihan ekonomi kreatif pascabencana (foto: kementerian ekonomi kreatif)

Perajin kriya Payakumbuh mengikuti pendampingan pengembangan produk anyaman dan sulam dalam program pemulihan ekonomi kreatif pascabencana (foto: kementerian ekonomi kreatif)

Sisipublik.com – Kriya Payakumbuh mendapat pendampingan dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) untuk mempercepat pemulihan usaha perajin setelah bencana. Program tersebut menyasar peningkatan kualitas produk anyaman dan sulam agar mampu menjawab kebutuhan pasar yang lebih luas.

Kemenekraf menjalankan program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam dalam rangka Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekons) bersama Pemerintah Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.

Program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan aktivitas produksi. Kemenekraf juga mendorong perajin mengembangkan desain, keterampilan produksi, serta produk yang memiliki nilai tambah dan sesuai dengan permintaan konsumen.

Kriya Payakumbuh Perkuat Nilai Produk Lokal

Wakil Menteri Ekraf Irene Umar mengatakan kerajinan anyaman dan sulam memiliki posisi penting bagi masyarakat Payakumbuh karena menggabungkan warisan budaya dengan potensi ekonomi.

Menurut Irene, perajin perlu mengembangkan produk lokal agar memiliki daya saing di pasar nasional hingga internasional. Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha setelah bencana.

Selain kualitas produk, Kemenekraf juga menekankan pentingnya cerita di balik setiap karya. Narasi mengenai sejarah, proses pembuatan, dan nilai budaya dapat memperkuat daya tarik produk kerajinan di mata konsumen.

Baca Juga :  Jadwal KRL Jogja-Solo Lengkap, Simak Jam Keberangkatan dari Semua Stasiun

Pendekatan tersebut menjadi penting karena produk buatan tangan tidak hanya bersaing berdasarkan bentuk dan harga. Nilai budaya serta proses kreatif yang melekat pada produk dapat menjadi pembeda ketika perajin memasuki pasar yang lebih luas.

Subsektor Kriya Tunjukkan Pertumbuhan

Penguatan kriya Payakumbuh juga berlangsung ketika subsektor kriya nasional menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, nilai ekspor subsektor kriya meningkat dari USD3,47 miliar pada Januari-April 2025 menjadi USD3,82 miliar pada Januari-April 2026.

Pada 2025, subsektor kriya menyumbang 10,7 persen terhadap ekonomi kreatif dan mencatat pertumbuhan sebesar 2,36 persen. Angka tersebut menunjukkan peluang pasar yang masih terbuka bagi produk kriya daerah. Karena itu, peningkatan kapasitas perajin menjadi salah satu langkah untuk memperkuat posisi produk lokal di tengah persaingan pasar.

50 Perajin Ikuti Pelatihan Anyam dan Sulam

Kemenekraf menggelar workshop yang melibatkan 50 peserta, terdiri atas 25 perajin anyam dan 25 perajin sulam. Peserta mengikuti pemaparan sekaligus praktik langsung bersama Rumpun Consulting untuk bidang sulam dan Balai Besar Kerajinan dan Batik untuk bidang anyam.

Baca Juga :  Sumur Bor Bowi Subur Pangkas Jarak Warga Mengakses Air Bersih

Melalui pelatihan tersebut, peserta mempelajari pengembangan desain, peningkatan keterampilan produksi, serta revitalisasi material dan pengetahuan kerajinan. Kemenekraf juga mendorong perajin memahami cara berpikir desain sehingga mereka dapat menghasilkan karya yang lebih relevan dengan kebutuhan konsumen.

Salah satu peserta, Maipanis, menilai pendampingan tersebut memberikan pengetahuan sekaligus dorongan bagi perajin untuk terus berinovasi. Ia berharap produk anyaman lokal dapat memperoleh peluang lebih besar di pasar yang lebih luas.

Dengan pendampingan tersebut, pemulihan kriya Payakumbuh tidak berhenti pada kembalinya aktivitas produksi. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas, nilai tambah, dan daya saing produk sehingga perajin memiliki fondasi usaha yang lebih kuat setelah menghadapi dampak bencana.

Dalam kegiatan itu, Irene Umar turut didampingi Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data, Jago Anggara.

Berita Terkait

Kelapa Parut Kering Jadi Peluang Usaha Baru bagi Warga Pulau Bacan
Kilang LPG Cilamaya Pasok 160 Ton per Hari, Perkuat Kemandirian Energi Jabar dan Jakarta
Longsor Tapan–Jambi Rusak Delapan Titik Jalan, Kementerian PU Kerahkan Alat Berat
Karhutla Tanjung Puting Meluas, Prabowo Siapkan 200 Pompa dan 200 Titik Bor Air
KDKMP Sorowako Dorong Hilirisasi Pertanian, Produk Lokal Kuasai 70 Persen Gerai
Pelatihan Vokasi Kemnaker di NTT Sasar Pemulihan Ekonomi Penyintas Gempa
Budidaya Lebah Trigona Sumalata Buka Peluang Usaha Madu Berbasis Potensi Lokal
Dapur SRT 3 Sulsel Ditarget Rampung 6 Oktober, Mensos Dorong Sekolah Rakyat Mandiri Pangan
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Kelapa Parut Kering Jadi Peluang Usaha Baru bagi Warga Pulau Bacan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Kilang LPG Cilamaya Pasok 160 Ton per Hari, Perkuat Kemandirian Energi Jabar dan Jakarta

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Longsor Tapan–Jambi Rusak Delapan Titik Jalan, Kementerian PU Kerahkan Alat Berat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Karhutla Tanjung Puting Meluas, Prabowo Siapkan 200 Pompa dan 200 Titik Bor Air

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:00 WIB

KDKMP Sorowako Dorong Hilirisasi Pertanian, Produk Lokal Kuasai 70 Persen Gerai

Berita Terbaru