Sisipublik.com – Kriya Payakumbuh mendapat pendampingan dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) untuk mempercepat pemulihan usaha perajin setelah bencana. Program tersebut menyasar peningkatan kualitas produk anyaman dan sulam agar mampu menjawab kebutuhan pasar yang lebih luas.
Kemenekraf menjalankan program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam dalam rangka Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekons) bersama Pemerintah Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.
Program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan aktivitas produksi. Kemenekraf juga mendorong perajin mengembangkan desain, keterampilan produksi, serta produk yang memiliki nilai tambah dan sesuai dengan permintaan konsumen.
Kriya Payakumbuh Perkuat Nilai Produk Lokal
Wakil Menteri Ekraf Irene Umar mengatakan kerajinan anyaman dan sulam memiliki posisi penting bagi masyarakat Payakumbuh karena menggabungkan warisan budaya dengan potensi ekonomi.
Menurut Irene, perajin perlu mengembangkan produk lokal agar memiliki daya saing di pasar nasional hingga internasional. Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha setelah bencana.
Selain kualitas produk, Kemenekraf juga menekankan pentingnya cerita di balik setiap karya. Narasi mengenai sejarah, proses pembuatan, dan nilai budaya dapat memperkuat daya tarik produk kerajinan di mata konsumen.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena produk buatan tangan tidak hanya bersaing berdasarkan bentuk dan harga. Nilai budaya serta proses kreatif yang melekat pada produk dapat menjadi pembeda ketika perajin memasuki pasar yang lebih luas.
Subsektor Kriya Tunjukkan Pertumbuhan
Penguatan kriya Payakumbuh juga berlangsung ketika subsektor kriya nasional menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, nilai ekspor subsektor kriya meningkat dari USD3,47 miliar pada Januari-April 2025 menjadi USD3,82 miliar pada Januari-April 2026.
Pada 2025, subsektor kriya menyumbang 10,7 persen terhadap ekonomi kreatif dan mencatat pertumbuhan sebesar 2,36 persen. Angka tersebut menunjukkan peluang pasar yang masih terbuka bagi produk kriya daerah. Karena itu, peningkatan kapasitas perajin menjadi salah satu langkah untuk memperkuat posisi produk lokal di tengah persaingan pasar.
50 Perajin Ikuti Pelatihan Anyam dan Sulam
Kemenekraf menggelar workshop yang melibatkan 50 peserta, terdiri atas 25 perajin anyam dan 25 perajin sulam. Peserta mengikuti pemaparan sekaligus praktik langsung bersama Rumpun Consulting untuk bidang sulam dan Balai Besar Kerajinan dan Batik untuk bidang anyam.
Melalui pelatihan tersebut, peserta mempelajari pengembangan desain, peningkatan keterampilan produksi, serta revitalisasi material dan pengetahuan kerajinan. Kemenekraf juga mendorong perajin memahami cara berpikir desain sehingga mereka dapat menghasilkan karya yang lebih relevan dengan kebutuhan konsumen.
Salah satu peserta, Maipanis, menilai pendampingan tersebut memberikan pengetahuan sekaligus dorongan bagi perajin untuk terus berinovasi. Ia berharap produk anyaman lokal dapat memperoleh peluang lebih besar di pasar yang lebih luas.
Dengan pendampingan tersebut, pemulihan kriya Payakumbuh tidak berhenti pada kembalinya aktivitas produksi. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas, nilai tambah, dan daya saing produk sehingga perajin memiliki fondasi usaha yang lebih kuat setelah menghadapi dampak bencana.
Dalam kegiatan itu, Irene Umar turut didampingi Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif dan Data, Jago Anggara.











Komentar