Sisipublik.com – Koperasi menjadi salah satu strategi untuk memperkuat industri kulit Garut agar mampu meningkatkan kualitas, memperluas pasar, dan menghadapi persaingan yang semakin ketat. Kementerian Koperasi (Kemenkop) mendorong pelaku usaha kulit menggabungkan kemampuan produksi melalui kelembagaan koperasi sehingga potensi yang selama ini berkembang secara individual dapat menjadi kekuatan ekonomi bersama.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Koperasi (DWP Kemenkop) Sita Ferry Juliantono mengatakan Garut memiliki ekosistem industri kulit yang telah berkembang dalam waktu panjang. Selain melibatkan banyak pelaku usaha, sektor tersebut menggerakkan rantai ekonomi mulai dari penyamakan, produksi, hingga pemasaran.
Menurut Sita, koperasi dapat mengambil peran lebih besar karena mampu mempertemukan berbagai kepentingan pelaku usaha dalam satu kekuatan kolektif. Dengan demikian, perajin tidak hanya mengandalkan kemampuan produksi masing-masing, tetapi juga dapat memperkuat kapasitas usaha secara bersama.
Koperasi Perkuat Daya Saing Produk Kulit Garut
Sita menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Leather Up: Accelerate, Create and Connect with Cooperatives di Garut, Jawa Barat, Kamis (10/9/2026). Ia menilai persaingan industri kulit kini menuntut pelaku usaha menghasilkan produk berkualitas, inovatif, sesuai standar pasar, sekaligus mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.
Karena itu, koperasi dapat membantu pelaku usaha memperkuat kapasitas produksi dan menjaga kualitas produk. Selain itu, kelembagaan tersebut dapat membuka akses pasar serta meningkatkan posisi tawar perajin dalam rantai nilai industri kulit.
Selama ini, sentra kulit Garut tumbuh dari keterampilan masyarakat yang berkembang secara turun-temurun. Para perajin telah menghasilkan berbagai produk, seperti jaket, tas, sepatu, dan produk fesyen berbahan kulit.
Namun, perkembangan pasar membuat kemampuan produksi saja tidak cukup. Pelaku usaha juga perlu meningkatkan inovasi, kualitas, pemasaran, dan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen.
Industri Kulit Garut Dipetakan untuk Pengembangan Koperasi
Kegiatan Leather Up juga mengarahkan perhatian pada pengembangan ekosistem industri kulit Garut. Kemenkop menggelar kegiatan tersebut melalui Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi bersama DWP Kemenkop.
Agenda tersebut menghadirkan pelaku dan narasumber dari bidang industri kulit, termasuk salah satu pendiri koperasi perajin kulit. Selain itu, kegiatan menyoroti pengembangan PRMC Garut sebagai salah satu tolok ukur perkembangan sektor industri kulit.
Kemenkop juga memetakan potensi komoditas kulit untuk mendukung pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas keterhubungan antara potensi ekonomi daerah, koperasi, dan pelaku usaha.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop Destry Anna Sari mengatakan kegiatan tersebut melibatkan 100 peserta yang terdiri atas anggota koperasi kulit, pelaku UMKM, serta perwakilan Koperasi Artisan Kulit Indonesia.
Menurut Destry, pemilihan Garut berkaitan dengan perkembangan ekosistem industri kulit yang didukung koperasi dan pelaku usaha pengolahan serta produksi kulit. Kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan kapasitas koperasi, berbagi praktik pengolahan dan pemasaran, serta memperkuat kerja sama antar-pelaku usaha.
Perajin Kulit Garut Didorong Naik Kelas
Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina menyambut kolaborasi tersebut karena dapat membantu meningkatkan kemampuan perajin. Pemerintah daerah berharap pelaku usaha kulit dapat berkembang dari skala kecil menuju usaha yang lebih maju dan kompetitif.
Sementara itu, Inisiator Piazza Firenze sekaligus desainer Poppy Dharsono menilai penguatan koperasi membutuhkan kemauan anggota untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas usaha. Kerja sama antaranggota juga menjadi bagian penting agar manfaat koperasi dapat dirasakan secara lebih luas.
Dengan penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar, industri kulit Garut memiliki peluang untuk membangun rantai usaha yang lebih kuat. Pada tahap berikutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan perajin, tetapi juga membuka peluang produk kulit Garut memasuki pasar yang lebih luas, termasuk pasar luar negeri.










Komentar