Sisipublik.com – Fermenstation ITB kembali mencuri perhatian dalam gelaran Akulturasa 2026 yang berlangsung di Kampus Ganesha, Bandung, pada 20-21 Juni 2026. Program yang lahir dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB itu menampilkan beragam inovasi pangan fermentasi hasil karya mahasiswa dan peneliti.
Selain menjadi daya tarik utama festival, pameran tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu bioteknologi mampu menghasilkan produk pangan yang memiliki nilai tambah. Masyarakat pun dapat melihat langsung berbagai kreasi berbasis bahan lokal yang dikembangkan melalui pendekatan ilmiah.
Fermenstation ITB Kenalkan Produk Fermentasi Berbasis Bahan Lokal
Fermenstation ITB merupakan program pembelajaran Mikrobiologi SITH ITB yang telah berjalan sejak 2005. Dosen Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba SITH ITB, Prof Pingkan Aditawati, menjelaskan bahwa program tersebut menjadi puncak pembelajaran mahasiswa dalam kurikulum Mikrobiologi.
Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori. Mereka juga mengembangkan produk fermentasi secara menyeluruh, mulai dari proses produksi, standardisasi, analisis keamanan pangan, hingga strategi penyajian dan pemasaran.
Pada Akulturasa 2026, pengunjung dapat menemukan berbagai produk inovatif. Di antaranya kombucha honje, soda arbei fermentasi, tape ubi ungu, fermentasi kacang azuki, fermentasi rebon, fermentasi ikan, gari jahe, serta sriracha fermentasi.
Fermenstation ITB sekaligus memperlihatkan potensi besar pangan fermentasi Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Menurut Prof Pingkan, berbagai umbi, kacang-kacangan, buah, dan hasil laut dapat diolah menjadi pangan bergizi, tahan lama, serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Karena itu, pengembangan pangan fermentasi berbasis bahan lokal perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pangan saja.
Akulturasa 2026 Satukan Riset, Budaya, dan Kuliner
Sementara itu, Rektor ITB Prof Tatacipta Dirgantara membuka Akulturasa 2026 secara langsung. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Festival ini menjadi bagian dari Gebyar Dies Natalis ke-67 ITB dan Alumni Pulang Kampus. Dengan mengusung perpaduan culture dan taste, Akulturasa menghadirkan pengalaman yang menghubungkan hasil riset dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Berbagai kegiatan berlangsung di Aula Timur, Galeri Soemardja, Taman Patung, hingga Lapangan Cinta. Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Rikrik Kusmara, mengatakan bahwa Akulturasa lahir dari semangat kampus untuk menghadirkan manfaat nyata dari riset dan inovasi.
Menurutnya, berbagai fakultas di ITB selama ini aktif melakukan penelitian di bidang pangan. Melalui Akulturasa, hasil penelitian tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menginspirasi pengembangan UMKM dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Fermenstation ITB Dorong Kolaborasi dan Masa Depan Pangan
Selain itu, Akulturasa menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, industri, pemerintah, alumni, komunitas kreatif, dan masyarakat luas.
Berbagai produk yang di tampilkan tidak hadir secara instan. Di balik setiap sajian terdapat proses riset, inovasi, dan kreativitas yang berpotensi membuka peluang baru bagi sektor pangan nasional.
Di sisi lain, festival tersebut juga mempererat kebersamaan keluarga besar ITB. Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Nurlaela Arief, menyebut lebih dari 1.000 dosen, tenaga kependidikan, karyawan, dan keluarga besar ITB ikut menyemarakkan Gebyar Dies Natalis.
Ia berharap Akulturasa semakin mendekatkan hasil penelitian kepada masyarakat. Menurutnya, festival tersebut bukan sekadar ajang kuliner, melainkan ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, seni, budaya, industri, dan komunitas untuk membangun masa depan pangan Indonesia yang lebih inovatif, berkelanjutan, dan berdaya saing. (j/*)










Komentar