Bursa Mineral Jadi Sorotan, Kageogama Dorong Harga Acuan Indonesia Berbasis Data

- Jurnalis

Sabtu, 22 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto (foto: BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Subianto (foto: BPMI Setpres)

Sisipublik.com –  Rencana pemerintah membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) mendapat dukungan dari Ikatan Alumni Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (Kageogama). Organisasi tersebut menilai bursa mineral dapat memperkuat pembentukan harga acuan komoditas strategis Indonesia.

Dukungan itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mengungkap hasil pemantauan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) terhadap lebih dari 6.500 transaksi ekspor. Dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD pada 14 Agustus 2026, Prabowo menyebut pemantauan tersebut menemukan potensi tambahan sekitar US$5 miliar dari perbedaan dan penyesuaian harga.

Bursa Mineral Dinilai Perlu Bertumpu pada Data

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS), menurut Kageogama, tidak cukup hanya menyediakan tempat perdagangan. Sistem tersebut juga perlu menghubungkan data geologi, standar mutu, informasi transaksi, serta mekanisme pembentukan harga secara konsisten.

Wakil Ketua Umum Kageogama Mohamad Amin Ahlun Nazar menjelaskan bahwa nilai mineral tidak hanya bergantung pada jenis komoditas. Faktor seperti kadar, mineralogi, unsur pengotor, tingkat perolehan metalurgi, bentuk produk, lokasi, biaya logistik, dan konsistensi mutu turut memengaruhi nilai jual.

Karena itu, Amin menilai Indonesia membutuhkan rantai data yang dapat mempertemukan informasi sumber daya dengan transaksi komersial. Menurut dia, langkah tersebut penting agar Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) mampu mendukung pembentukan Indonesia Reference Price secara kredibel.

Baca Juga :  Polri Harus Lindungi Rakyat, Prabowo Tekankan Peran Strategis Kepolisian Jaga Stabilitas Nasional

“Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Tantangan kita adalah membangun rantai kepercayaan yang utuh dari data bor sampai kontrak jual-beli,” kata Amin dalam keterangan yang disampaikan di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Harga Acuan Harus Mencerminkan Kondisi Komoditas

Lebih lanjut, Amin mengingatkan bahwa harga acuan tidak semestinya hanya berupa satu angka yang berlaku tanpa memperhitungkan karakter setiap produk. Dua mineral dengan nama komoditas sama dapat memiliki nilai berbeda karena kualitas, spesifikasi, lokasi, pengolahan, dan biaya distribusi.

Oleh sebab itu, benchmark harga membutuhkan data transaksi yang memadai serta mekanisme yang dapat diaudit. Dengan pendekatan tersebut, pelaku pasar dapat menilai apakah harga yang terbentuk benar-benar mencerminkan kondisi perdagangan.

Pandangan itu sejalan dengan tujuan pemerintah membangun BMKS sebagai sarana pembentukan harga referensi domestik. Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto sebelumnya menyatakan bursa tersebut diarahkan agar Indonesia memiliki harga referensi sendiri dan tidak bergantung pada bursa luar negeri.

Baca Juga :  Kemendagri Siapkan Insentif Fiskal untuk Kepala Daerah lewat Ajang Regional

BMKS Ditargetkan Beroperasi Januari 2027

Sementara itu, pemerintah menargetkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini menyiapkan regulasi serta infrastruktur pendukung untuk memenuhi target tersebut.

OJK menyiapkan dua Peraturan OJK (POJK). Aturan pertama mengatur tahapan peralihan perdagangan menuju BMKS, sedangkan aturan kedua mengatur penyelenggaraan bursa. OJK menargetkan ketentuan tersebut rampung paling lambat 17 September 2026.

Dengan demikian, pembentukan BMKS memasuki tahap penting sebelum pelaksanaan pada awal 2027. Selain regulasi, pemerintah perlu memastikan kesiapan kelembagaan, sumber daya manusia, infrastruktur perdagangan, mekanisme penyelesaian transaksi, serta kualitas data.

Kageogama melihat proses tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai bidang. Geologi, sumber daya dan cadangan, metalurgi, pertambangan, lingkungan, logistik, perdagangan, hukum, teknologi, dan regulator perlu terhubung dalam satu tata kelola.

Pada akhirnya, keberhasilan BMKS tidak hanya bergantung pada waktu peluncuran. Kredibilitasnya akan bergantung pada kualitas data, transparansi transaksi, konsistensi standar, serta kemampuan pasar membentuk harga yang dipercaya pelaku industri.

Berita Terkait

BTA 2023 Mulai Dioptimalkan, Indonesia-Malaysia Fokus Perdagangan Entikong-Tebedu
Sapaan Hangat Mahasiswa Indonesia Sambut Kunjungan Prabowo di Vladivostok
Seleksi PPIH 2027 Gandeng BKN, CAT Digelar Serentak di 34 Titik
Muktamar ke-35 NU Resmi Berakhir, Kepemimpinan Baru PBNU 2026-2031 Dimulai
KH Miftachul Akhyar Terpilih Lagi, AHWA Minta Semua Potensi NU Dirangkul
Panglima Jilah Dorong Masyarakat Adat Jadi Mitra Penanganan Karhutla di Kalbar
Kolaborasi Peraih Nobel dan Peneliti Indonesia Didorong Prabowo untuk Perkuat Riset Nasional
Muktamar ke-35 NU Resmi Dibuka Prabowo, Forum Lima Tahunan Mulai Bahas Arah Organisasi
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 09:00 WIB

BTA 2023 Mulai Dioptimalkan, Indonesia-Malaysia Fokus Perdagangan Entikong-Tebedu

Rabu, 2 September 2026 - 19:26 WIB

Sapaan Hangat Mahasiswa Indonesia Sambut Kunjungan Prabowo di Vladivostok

Selasa, 1 September 2026 - 09:00 WIB

Seleksi PPIH 2027 Gandeng BKN, CAT Digelar Serentak di 34 Titik

Senin, 31 Agustus 2026 - 18:01 WIB

Muktamar ke-35 NU Resmi Berakhir, Kepemimpinan Baru PBNU 2026-2031 Dimulai

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:00 WIB

KH Miftachul Akhyar Terpilih Lagi, AHWA Minta Semua Potensi NU Dirangkul

Berita Terbaru