Sisipublik.com – Pencegahan stunting pada anak membutuhkan keterlibatan ayah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pemerintah kini mendorong konsep Ayah Siaga sebagai bagian dari upaya memperkuat kesehatan keluarga.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante menilai keluarga memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan kesehatan dan gizi anak terpenuhi. Karena itu, tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada ibu.
Pesan tentang Ayah Siaga menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan kerja lintas sektor pemerintah ke Kota Bogor, Jumat (28/8). Kunjungan tersebut sekaligus meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah dan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ayah Siaga Didorong dalam Program 1.000 HPK
Program 1.000 HPK mencakup 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah kelahiran atau ketika anak berusia di bawah dua tahun. Pemerintah menempatkan periode tersebut sebagai fase penting untuk mendukung perkembangan anak.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dimulai lebih awal. Persiapan mencakup kesehatan remaja, calon pengantin, hingga pasangan usia subur.Wamenkes Dante menjelaskan pemerintah menetapkan empat sasaran intervensi utama untuk memperkuat program 1.000 HPK.
Pertama, pemerintah menyasar fase sebelum kehamilan melalui perhatian terhadap kesehatan remaja putri dan skrining calon pengantin. Langkah tersebut bertujuan memastikan kesiapan fisik sebelum memasuki kehamilan.
Kedua, intervensi berlanjut pada masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir. Pemerintah mendorong pemeriksaan kehamilan, termasuk USG, serta persalinan di fasilitas kesehatan yang aman.
Ketiga, periode bayi di bawah dua tahun mendapat perhatian melalui ASI eksklusif, pemenuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan.
Keempat, pemerintah memperkuat layanan kesehatan dengan memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki kesiapan fasilitas serta dukungan pembiayaan.
Peran Ayah Perkuat Pencegahan Stunting
Di sisi lain, Wamenkes Dante menilai empat intervensi tersebut membutuhkan dukungan keluarga agar berjalan efektif. Pemerintah kemudian mendorong Ayah Siaga melalui Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan. Menurut Dante, perkembangan otak berlangsung sangat pesat pada usia 0–2 tahun. Oleh sebab itu, investasi kesehatan dan pengasuhan pada periode awal kehidupan menjadi penting.
Ia mengatakan Gerakan Keayahan bertujuan mendorong ayah terlibat langsung dalam pemenuhan kesehatan anak. Konsep tersebut memperluas peran suami yang sebelumnya dikenal melalui istilah Suami Siaga saat proses persalinan.
Selain itu, Wamen PPPA Veronica Tan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan keluarga. Menurutnya, kebijakan kesehatan dan pendidikan perlu mendapat dukungan melalui praktik pengasuhan di rumah. Veronica juga mengingatkan pentingnya waktu berkualitas antara ayah, ibu, dan anak. Ia turut mendorong keluarga membiasakan konsumsi makanan rumahan sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Kunjungan Pantau Layanan Ibu dan Anak
Sementara itu, rombongan kementerian meninjau sejumlah layanan kesehatan dan pendidikan di Kota Bogor. Kunjungan dimulai dari Puskesmas Tanah Sareal. Di lokasi tersebut, rombongan melihat pelayanan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC). Mereka juga meninjau pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak di bawah dua tahun serta layanan imunisasi bayi.
Selanjutnya, rombongan menuju SMPN 5 Kota Bogor. Mereka meninjau tes kebugaran siswa sekaligus pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis di ruang kelas.
Kunjungan lintas sektor itu turut melibatkan Wamendikdasmen Fajar Riza, Wamen PPPA Veronica Tan, Sesmenko PMK Imam Machdi, dan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan Ade Kadarisman. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berupaya menghubungkan layanan kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, dan dukungan keluarga dalam upaya memperkuat kualitas generasi sejak awal kehidupan.











Komentar