Sisipublik.com – Kampung Margorukun, Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat, mulai memanfaatkan biogas dari kotoran sapi sebagai alternatif energi untuk memasak. Inovasi Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 08 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membantu warga mengurangi limbah peternakan sekaligus menekan pengeluaran energi rumah tangga.
Sebelumnya, warga menghadapi dua persoalan sekaligus. Kotoran sapi dari peternakan belum termanfaatkan secara optimal, sementara pasokan minyak tanah terbatas. Setiap kepala keluarga (KK) hanya memperoleh sekitar 20 liter minyak tanah per bulan sehingga warga membutuhkan sumber energi alternatif.
Biogas dari Kotoran Sapi Mulai Dipakai Warga
Biogas dari kotoran sapi mulai mengalir ke kompor setelah tim memasukkan bahan baku ke dalam biodigester selama sekitar tiga minggu. Warga kemudian menggunakan gas tersebut untuk memasak dengan karakter api yang dapat diatur sesuai kebutuhan.
Aswati, salah satu warga pengguna, menilai cara kerja kompor biogas tidak jauh berbeda dengan kompor yang selama ini digunakan. Menurut dia, warga masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi karena sebelumnya terbiasa menggunakan minyak tanah.
Anggota TEP 08 ITS, Jinan, menjelaskan gas yang keluar dari reaktor menghasilkan api yang stabil. Tim juga menguji pemanfaatannya untuk memasak dengan merebus telur hingga matang.
Satu Biodigester Layani Tiga Rumah Tangga
Tim TEP 08 ITS membangun biodigester berkapasitas 12 meter kubik. Ketua TEP 08 ITS, Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T., mengatakan fasilitas tersebut dapat mengolah kotoran sekitar 10 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan memasak tiga rumah tangga.
Selain mengurangi ketergantungan pada minyak tanah, penggunaan biogas berpotensi menghemat biaya energi sekitar Rp50 ribu per bulan bagi penerima manfaat.
Kondisi pasokan minyak tanah menjadi salah satu alasan warga membutuhkan alternatif energi. Danun, penerima manfaat program, mengatakan kelangkaan minyak tanah dapat terjadi hingga dua kali dalam sebulan. Kondisi itu membuat pemanfaatan sumber energi dari peternakan menjadi lebih relevan bagi warga.
Limbah Peternakan Menghasilkan Pupuk Organik
Pemanfaatan biogas tidak berhenti pada produksi energi. Proses pengolahan kotoran sapi dalam biodigester juga menghasilkan bioslurry yang dapat warga manfaatkan sebagai pupuk organik.
Dengan demikian, satu sistem pengolahan dapat menghasilkan dua manfaat sekaligus, yakni energi untuk kebutuhan rumah tangga dan bahan pendukung pertanian. Pemanfaatan bioslurry juga berpotensi mengurangi kebutuhan warga terhadap pupuk kimia yang berasal dari luar kampung.
Ke depan, pengelola dapat mengembangkan bioslurry sebagai produk bernilai ekonomi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pengembangan tersebut membuka peluang agar pengolahan limbah peternakan tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Biogas Berpotensi Dikembangkan untuk Listrik
TEP 08 ITS juga melihat peluang pengembangan biogas untuk kebutuhan listrik. Arief menjelaskan, ketersediaan sekitar 20 ekor sapi berpotensi menghasilkan energi yang dapat dikonversi menjadi listrik sekitar 2.000 watt selama lima jam per hari.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara turut mendorong pengembangan tersebut saat meninjau lokasi pada 12 September 2026. Ia meminta pemanfaatan biogas berkembang dari kebutuhan memasak menuju sumber energi listrik.
Pengembangan ini dapat memperluas manfaat program karena masyarakat tidak hanya memperoleh alternatif bahan bakar, tetapi juga memiliki peluang mendapatkan sumber energi untuk kebutuhan lain.
Energi Lokal Jadi Bagian Transformasi Kawasan Transmigrasi
Pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Warga memperoleh alternatif energi dari sumber yang tersedia di lingkungan mereka, sementara limbah peternakan mendapat fungsi baru sebagai bahan baku energi dan pupuk.
Langkah tersebut juga mencerminkan pendekatan transformasi energi yang menghubungkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya menekankan bahwa transformasi energi perlu memberikan manfaat yang lebih luas bagi manusia.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, program biogas di Margorukun berpeluang berkembang menjadi model pemanfaatan limbah peternakan yang menggabungkan penghematan energi, pengelolaan lingkungan, dan produktivitas pertanian.











Komentar