Sisipublik.com – JIAT menjadi sumber air alternatif bagi petani di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya, saat kondisi kering mengurangi ketergantungan lahan pertanian terhadap curah hujan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun jaringan irigasi air tanah untuk menjaga pasokan air ke kawasan pertanian sekaligus mendukung keberlanjutan produksi pangan.
Pembangunan infrastruktur tersebut menyasar wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan. Melalui sumur bor, pompa, jaringan saluran, dan sejumlah bangunan pendukung, sistem irigasi itu menyediakan alternatif pasokan air ketika kondisi cuaca tidak mendukung kegiatan budidaya.
JIAT Menjaga Pasokan Air untuk Lahan Pertanian
JIAT di Kalobo dan Waibu melayani lahan pertanian sekitar 100 hektare dan memberikan manfaat bagi sekitar 90 petani. Sistem tersebut memanfaatkan air tanah dari 10 titik sumur bor yang kemudian mengalirkannya melalui jaringan irigasi menuju lahan pertanian.
Secara teknis, setiap titik sumur bor memiliki kapasitas debit sekitar 12 liter per detik. Sementara itu, debit layanan irigasi mencapai sekitar 2,5 liter per detik pada setiap titik. Infrastruktur tersebut juga memiliki jaringan sepanjang sekitar 10 kilometer dan 80 bangunan pendukung.
Selain jaringan saluran, Kementerian PU menyiapkan bak penampung berkapasitas 50 meter kubik untuk mendukung distribusi air. Dengan demikian, sistem tidak hanya mengandalkan sumur dan pompa, tetapi juga memiliki jaringan penyaluran hingga ke kawasan pertanian.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT bertujuan menjaga ketersediaan air sekaligus memperkuat produktivitas pertanian. Menurut dia, keberadaan sumber air yang lebih andal dapat mendukung ketahanan pangan ketika petani menghadapi periode kering.
“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Dody.
Kementerian PU juga menekankan pentingnya pembangunan saluran tersier dalam pengembangan JIAT. Infrastruktur tersebut membantu mengalirkan air dari sumber menuju lahan secara lebih efektif, terutama pada kawasan yang tidak memperoleh layanan irigasi dari sumber air permukaan.
Akses Sulit Tak Menghentikan Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan JIAT di Kalobo berlangsung di wilayah dengan tantangan aksesibilitas. Dari Kota Sorong, perjalanan menuju kampung tersebut menggunakan speedboat dengan jarak sekitar 26,3 kilometer dan waktu tempuh kurang lebih satu jam.
Kondisi geografis itu membuat penyediaan infrastruktur dasar membutuhkan dukungan akses dan distribusi yang sesuai dengan karakter wilayah. Karena itu, pembangunan jaringan air tanah menjadi salah satu bentuk intervensi infrastruktur untuk menjangkau kawasan pertanian yang menghadapi keterbatasan sumber air.
Keberadaan JIAT juga berpotensi mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan. Dengan pasokan air alternatif, kegiatan budidaya memiliki dukungan irigasi ketika periode kering berlangsung.
Pada sisi lain, keandalan pasokan air dapat membantu menjaga kesinambungan produksi pertanian. Jika produktivitas meningkat, petani juga memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik dari hasil budidaya.
Melalui pembangunan tersebut, Kementerian PU menempatkan infrastruktur sumber daya air sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan air dan pangan. Pendekatan itu menjadi semakin penting bagi kawasan pertanian yang menghadapi keterbatasan sumber air permukaan serta perubahan kondisi iklim.
Dengan cakupan layanan sekitar 100 hektare, JIAT di Kalobo dan Waibu tidak hanya menyediakan sumber air alternatif. Infrastruktur tersebut juga menjadi penopang aktivitas pertanian agar petani tetap dapat mengelola lahan ketika pasokan air dari hujan berkurang.











Komentar