Rehabilitasi Cedera Atlet Tak Cukup Hilangkan Nyeri, Performa Jadi Ukuran Comeback

- Jurnalis

Jumat, 11 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Profesional fisioterapi Matias Ibo menyampaikan materi tentang rehabilitasi dan peningkatan performa atlet dalam Professional Sport Workforce Training pada Indonesia Sport Summit 2026 di Jakarta (foto: kementerian pemuda dan olahraga)

Profesional fisioterapi Matias Ibo menyampaikan materi tentang rehabilitasi dan peningkatan performa atlet dalam Professional Sport Workforce Training pada Indonesia Sport Summit 2026 di Jakarta (foto: kementerian pemuda dan olahraga)

Sisipublik.com – Rehabilitasi cedera atlet perlu berorientasi pada pemulihan performa, bukan hanya menghilangkan rasa sakit. Atlet harus melewati tahapan pemulihan yang terukur sebelum kembali menjalani latihan dan pertandingan.

Pandangan tersebut disampaikan profesional fisioterapi Matias Ibo dalam sesi bertajuk Beyond Rehab: Performance Turning Injury Recovery Into Performance Excellence pada Professional Sport Workforce Training dalam rangkaian Indonesia Sport Summit 2026.

Rehabilitasi cedera atlet menurut Matias perlu menggunakan indikator yang jelas untuk menentukan kesiapan kembali bertanding. Ia menyampaikan materi tersebut di Cendrawasih Room, JICC, Kompleks GBK, Senayan, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Rehabilitasi Cedera Atlet Mengikuti Tahapan Terukur

Matias menjelaskan, proses pemulihan berlangsung secara bertahap sesuai kondisi dan kebutuhan atlet. Tahapan awal berfokus pada perlindungan area cedera serta pengendalian nyeri.

Selanjutnya, atlet menjalani latihan untuk mengembalikan rentang gerak, kekuatan, dan kontrol tubuh. Setelah kemampuan dasar membaik, program latihan meningkat menuju gerakan yang semakin spesifik dengan tuntutan cabang olahraga masing-masing.

Baca Juga :  Jadwal Padat Persib Bandung di ACC 2026-2027, Maung Bandung Hadapi Deretan Juara Asia Tenggara

Dengan pendekatan tersebut, rehabilitasi tidak berhenti ketika keluhan nyeri berkurang. Sebaliknya, atlet perlu mencapai kemampuan fisik dan gerak yang mendukung tuntutan performa sebelum kembali berkompetisi.

Kesiapan Comeback Tidak Hanya Berdasarkan Waktu

Matias juga menekankan bahwa keputusan return to play tidak seharusnya hanya mengacu pada lamanya masa pemulihan. Kondisi atlet perlu memenuhi sejumlah kriteria sebelum mendapat kesempatan kembali bertanding.

Indikator yang digunakan antara lain rentang gerak, kekuatan otot, kemampuan melakukan hop test, kualitas gerakan dan pendaratan, serta kapasitas aerobik dan anaerobik. Kesiapan psikologis juga menjadi bagian penting dalam penilaian tersebut.

Dalam materi yang disampaikan, sejumlah parameter menggunakan acuan sekitar 90–95 persen dibandingkan sisi tubuh yang sehat. Angka tersebut menjadi salah satu bagian dari kriteria yang dapat digunakan dalam proses evaluasi, bukan satu-satunya penentu kesiapan atlet.

Baca Juga :  Teknologi Laser Perluas Pilihan Pemulihan Cedera bagi Masyarakat Aktif Berolahraga

Karena itu, Matias mengingatkan atlet agar tidak memaksakan comeback hanya karena mengejar waktu. Pemulihan yang terlalu cepat tanpa mempertimbangkan kesiapan fisik dan mental dapat meningkatkan risiko atlet kembali bertanding sebelum mencapai kondisi yang memadai.

Tim Medis dan Pelatih Perlu Bekerja Bersama

Pemulihan atlet juga membutuhkan koordinasi lintas bidang. Matias menyebut dokter, fisioterapis, ahli nutrisi, pelatih fisik, pelatih utama, dan atlet perlu terlibat dalam proses tersebut.

Kolaborasi itu memungkinkan rehabilitasi dan pengembangan performa berjalan beriringan sejak awal cedera. Dengan demikian, proses pemulihan tidak sekadar mengejar hilangnya keluhan, tetapi juga mempersiapkan atlet menghadapi tuntutan latihan dan kompetisi.

Pendekatan tersebut menempatkan cedera sebagai bagian dari proses pengembangan kembali kemampuan atlet. Target akhirnya bukan sekadar kembali ke lapangan, melainkan memastikan atlet memiliki kesiapan yang memadai untuk menjalankan tuntutan olahraga secara optimal.

Berita Terkait

Indonesia Raih 15 Emas Asian Para Games 2026, Boccia Pastikan Posisi Delapan Besar
Boccia Indonesia Sumbang Tiga Emas, Target Asian Para Games 2026 Terlampaui
Taufik Hidayat Dorong Kolaborasi Kampus dan Praktisi untuk Cetak Talenta Olahraga Nasional
Regulasi Desain Olahraga Daerah Jadi Pekerjaan Rumah, Kemendagri Usulkan Peta Jalan 12 Bulan
Stadion Daerah Jadi Pusat Ekonomi, Kemenpora Siapkan Model Bisnis untuk 20 Stadion Prioritas
Perizinan Usaha Olahraga Jadi Fokus Kemenpora, Pemda Perkuat Pengawasan
Rabu Bugar Kemenpora Perkuat Kebiasaan Olahraga Lewat Senam Jantung Sehat dan Tai Chi
Indonesia Youth Summit 2026 Siapkan 160 Pemuda untuk Bahas Tantangan Ekonomi dan Isu Strategis
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Indonesia Raih 15 Emas Asian Para Games 2026, Boccia Pastikan Posisi Delapan Besar

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Boccia Indonesia Sumbang Tiga Emas, Target Asian Para Games 2026 Terlampaui

Senin, 19 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Taufik Hidayat Dorong Kolaborasi Kampus dan Praktisi untuk Cetak Talenta Olahraga Nasional

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Regulasi Desain Olahraga Daerah Jadi Pekerjaan Rumah, Kemendagri Usulkan Peta Jalan 12 Bulan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Stadion Daerah Jadi Pusat Ekonomi, Kemenpora Siapkan Model Bisnis untuk 20 Stadion Prioritas

Berita Terbaru