Ayah Siaga Jadi Kunci Cegah Stunting pada 1.000 HPK

- Jurnalis

Sabtu, 29 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah mendorong keterlibatan ayah dalam pemenuhan kesehatan dan gizi anak melalui konsep Ayah Siaga dalam program 1.000 Hari Pertama Kehidupan di Kota Bogor (foto: kementerian kesehatan)

Pemerintah mendorong keterlibatan ayah dalam pemenuhan kesehatan dan gizi anak melalui konsep Ayah Siaga dalam program 1.000 Hari Pertama Kehidupan di Kota Bogor (foto: kementerian kesehatan)

Sisipublik.com – Pencegahan stunting pada anak membutuhkan keterlibatan ayah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pemerintah kini mendorong konsep Ayah Siaga sebagai bagian dari upaya memperkuat kesehatan keluarga.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante menilai keluarga memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan kesehatan dan gizi anak terpenuhi. Karena itu, tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada ibu.

Pesan tentang Ayah Siaga menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan kerja lintas sektor pemerintah ke Kota Bogor, Jumat (28/8). Kunjungan tersebut sekaligus meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah dan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Ayah Siaga Didorong dalam Program 1.000 HPK

Program 1.000 HPK mencakup 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah kelahiran atau ketika anak berusia di bawah dua tahun. Pemerintah menempatkan periode tersebut sebagai fase penting untuk mendukung perkembangan anak.

Karena itu, upaya pencegahan perlu dimulai lebih awal. Persiapan mencakup kesehatan remaja, calon pengantin, hingga pasangan usia subur.Wamenkes Dante menjelaskan pemerintah menetapkan empat sasaran intervensi utama untuk memperkuat program 1.000 HPK.

Pertama, pemerintah menyasar fase sebelum kehamilan melalui perhatian terhadap kesehatan remaja putri dan skrining calon pengantin. Langkah tersebut bertujuan memastikan kesiapan fisik sebelum memasuki kehamilan.

Baca Juga :  Kemendagri Siapkan Insentif Fiskal untuk Kepala Daerah lewat Ajang Regional

Kedua, intervensi berlanjut pada masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir. Pemerintah mendorong pemeriksaan kehamilan, termasuk USG, serta persalinan di fasilitas kesehatan yang aman.

Ketiga, periode bayi di bawah dua tahun mendapat perhatian melalui ASI eksklusif, pemenuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan.

Keempat, pemerintah memperkuat layanan kesehatan dengan memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki kesiapan fasilitas serta dukungan pembiayaan.

Peran Ayah Perkuat Pencegahan Stunting

Di sisi lain, Wamenkes Dante menilai empat intervensi tersebut membutuhkan dukungan keluarga agar berjalan efektif. Pemerintah kemudian mendorong Ayah Siaga melalui Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan. Menurut Dante, perkembangan otak berlangsung sangat pesat pada usia 0–2 tahun. Oleh sebab itu, investasi kesehatan dan pengasuhan pada periode awal kehidupan menjadi penting.

Ia mengatakan Gerakan Keayahan bertujuan mendorong ayah terlibat langsung dalam pemenuhan kesehatan anak. Konsep tersebut memperluas peran suami yang sebelumnya dikenal melalui istilah Suami Siaga saat proses persalinan.

Selain itu, Wamen PPPA Veronica Tan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan keluarga. Menurutnya, kebijakan kesehatan dan pendidikan perlu mendapat dukungan melalui praktik pengasuhan di rumah. Veronica juga mengingatkan pentingnya waktu berkualitas antara ayah, ibu, dan anak. Ia turut mendorong keluarga membiasakan konsumsi makanan rumahan sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Baca Juga :  Cek Kesehatan Gratis Anak Jadi Fokus Pemerintah untuk Tuntaskan Temuan Kesehatan

Kunjungan Pantau Layanan Ibu dan Anak

Sementara itu, rombongan kementerian meninjau sejumlah layanan kesehatan dan pendidikan di Kota Bogor. Kunjungan dimulai dari Puskesmas Tanah Sareal. Di lokasi tersebut, rombongan melihat pelayanan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC). Mereka juga meninjau pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak di bawah dua tahun serta layanan imunisasi bayi.

Selanjutnya, rombongan menuju SMPN 5 Kota Bogor. Mereka meninjau tes kebugaran siswa sekaligus pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis di ruang kelas.

Kunjungan lintas sektor itu turut melibatkan Wamendikdasmen Fajar Riza, Wamen PPPA Veronica Tan, Sesmenko PMK Imam Machdi, dan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan Ade Kadarisman. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berupaya menghubungkan layanan kesehatan, pendidikan, perlindungan anak, dan dukungan keluarga dalam upaya memperkuat kualitas generasi sejak awal kehidupan.

Berita Terkait

SATUSEHAT RME Integrasikan Data Pasien Nasional, Akses Medis Kini Berbasis Individu
25 Prodi PPDS Hospital-Based Dibuka, Pemerintah Bidik Pemerataan Dokter Spesialis
Karhutla Ancam Kelompok Rentan, Kemenkes Perkuat Layanan Kesehatan di Tujuh Provinsi
206 Relawan TCK Dikirim ke NTT, Enam Wilayah Terdampak Gempa Dapat Penguatan Medis
CKG Banten Tembus 5,9 Juta Peserta, Kemenkes Siapkan Model untuk Daerah Lain
Pasokan Suplemen Ibu Hamil Diperkuat, Pabrik Bayer Bidik Kebutuhan Nasional dan Ekspor
Rumah Sakit Lapangan Ruteng Jadi Penopang Layanan Operasi Pascagempa NTT
Cek Kesehatan Gratis Anak Jadi Fokus Pemerintah untuk Tuntaskan Temuan Kesehatan
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 08:00 WIB

SATUSEHAT RME Integrasikan Data Pasien Nasional, Akses Medis Kini Berbasis Individu

Rabu, 2 September 2026 - 10:00 WIB

25 Prodi PPDS Hospital-Based Dibuka, Pemerintah Bidik Pemerataan Dokter Spesialis

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Ayah Siaga Jadi Kunci Cegah Stunting pada 1.000 HPK

Jumat, 28 Agustus 2026 - 15:00 WIB

Karhutla Ancam Kelompok Rentan, Kemenkes Perkuat Layanan Kesehatan di Tujuh Provinsi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 14:00 WIB

206 Relawan TCK Dikirim ke NTT, Enam Wilayah Terdampak Gempa Dapat Penguatan Medis

Berita Terbaru