Sisipublik.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi Photovoltaic Thermal (PVT) untuk membantu pelaku usaha mengeringkan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan dengan lebih efisien. Teknologi ini menggabungkan produksi listrik dari panel surya dengan pemanfaatan energi panas sehingga dapat mendukung proses pascapanen sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN, Ahmad Fudholi, memaparkan pengembangan tersebut dalam Webinar Nasional PRTKE pada 15 Oktober. Menurutnya, pemanfaatan teknologi pengeringan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan efisiensi pengolahan hasil panen dan menjaga kualitas produk sebelum dipasarkan.
Teknologi PVT BRIN mengoptimalkan pemanfaatan energi matahari melalui dua keluaran sekaligus, yakni listrik dan panas. Dengan pendekatan ini, tim periset berupaya mengembangkan sistem pengeringan yang sesuai dengan kebutuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan.
Teknologi PVT BRIN Gabungkan Listrik dan Panas Matahari
Sistem PVT mengintegrasikan photovoltaic (PV) atau panel surya dengan teknologi termal surya. Panel PV menghasilkan listrik, sedangkan sistem termal menangkap panas untuk mendukung proses pengeringan.
Selain itu, pemanfaatan panas membantu mengendalikan suhu panel surya sehingga kinerjanya dapat lebih optimal. Sistem ini juga menggunakan energi panas yang tersedia untuk mengeringkan bahan, sehingga tidak hanya mengandalkan listrik sebagai sumber energi.
BRIN telah mengembangkan beragam teknologi pengeringan surya dengan beberapa jenis kolektor, antara lain V-groove, penyerap bersirip, penyerap berongga (hollow absorber), dan material perubahan fase atau phase change material (PCM).
Tim periset juga menguji penerapan teknologi tersebut di lapangan, termasuk di wilayah pesisir dan kepulauan. Pengujian ini penting untuk melihat kesesuaian teknologi dengan kondisi geografis serta kebutuhan masyarakat yang mengolah hasil laut dan komoditas pertanian.
Pengeringan untuk Ikan, Rumput Laut, hingga Buah
Penerapan teknologi pengeringan surya mencakup beragam komoditas. Pada sektor pertanian, teknologi ini dapat digunakan untuk mengeringkan cabai, padi, jagung, jahe, daun tin, pegagan, stevia, dan rosela.
Sementara itu, sektor perikanan dan perkebunan dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengolah ikan, rumput laut, serta berbagai jenis buah, seperti nanas, jambu, pepaya, melon, pisang, dan mangga.
Menurut pemaparan Ahmad Fudholi, kapasitas pengeringan yang telah dikembangkan mencapai hingga 10 ton untuk berbagai aplikasi dan wilayah. Namun, kapasitas aktual bergantung pada jenis mesin, komoditas, dan rancangan sistem yang digunakan.
Pengeringan yang tepat dapat membantu pelaku usaha mengendalikan kadar air produk. Dengan demikian, proses ini berpotensi memperpanjang masa simpan, mengurangi risiko kerusakan, dan menjaga mutu hasil pengolahan sebelum produk masuk ke rantai distribusi.
BRIN Kembangkan Mesin Pendingin dan Pengering Berbasis IoT
Selain sistem PVT, tim periset BRIN mengembangkan mesin pengolahan hasil perikanan yang menggabungkan teknologi pendinginan dan pengeringan. Inovasi ini memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengoperasian dan pemantauan sistem.
Salah satu inovasinya ialah smart freezer-dryer, yaitu sistem hibrida mesin es balok berkapasitas 200–400 kilogram per hari yang terintegrasi dengan pengering ikan berkapasitas 100 kilogram.
Tim periset juga menerapkan mesin cold storage-dryer yang menggabungkan penyimpanan dingin berkapasitas satu ton dengan pengering ikan berkapasitas 500 kilogram. BRIN mengembangkan penerapan teknologi ini bersama Kelompok Pengelola Ikan Aroma Jaya di Desa Beranakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kombinasi penyimpanan dingin dan pengeringan memberi pilihan penanganan produk sesuai kebutuhan. Pelaku usaha dapat menyimpan hasil tangkapan pada suhu rendah atau mengolahnya melalui pengeringan untuk memperpanjang masa simpan.
Peningkatan Kapasitas untuk Mendukung UMKM
BRIN kini mengembangkan teknologi tersebut melalui peningkatan skala produksi. Ahmad Fudholi menjelaskan bahwa timnya menargetkan peningkatan kapasitas mesin penyimpanan dingin menjadi 10 ton.
Selain itu, tim periset merencanakan pembangunan mesin es balok berkapasitas 10–20 ton per hari. Pengembangan ini ditujukan untuk mendukung produktivitas UMKM, terutama pelaku usaha yang membutuhkan fasilitas penanganan ikan dalam jumlah besar.
Meski demikian, peningkatan kapasitas perlu berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur, kebutuhan energi, biaya operasional, dan kemampuan pelaku usaha mengelola peralatan. Faktor-faktor tersebut menentukan sejauh mana inovasi dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Karena itu, hilirisasi riset menjadi bagian penting agar teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat digunakan sesuai kebutuhan industri dan masyarakat.
Delapan Prototipe Terbuka untuk Penelitian
BRIN juga membuka kesempatan bagi mahasiswa dan peneliti untuk menggunakan delapan prototipe teknologi yang siap menjalani pengujian. Fasilitas tersebut mencakup smart freezer-dryer, cold storage-dryer, mesin pengering pompa kalor terintegrasi PVT, dan rumah kaca (greenhouse).
Fasilitas ini dapat mendukung penelitian untuk tugas akhir, skripsi, tesis, hingga program pascadoktoral. Melalui kolaborasi tersebut, BRIN mendorong pengembangan teknologi energi dan pengolahan pangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Pada akhirnya, keberhasilan teknologi PVT dan mesin pengering hibrida tidak hanya bergantung pada kemampuan teknisnya. Ketersediaan fasilitas, kemudahan penggunaan, efisiensi biaya, dan kerja sama dengan pelaku usaha juga berperan penting dalam memperluas penerapannya di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.











Komentar