Sisipublik.com – Hidrogen PLN menjadi bagian penting dalam keberhasilan PT PLN (Persero) menghadirkan layanan listrik selama 24 jam di Pulau Rengit, Kepulauan Belitung. Melalui sistem energi terintegrasi berbasis energi terbarukan, PLN memadukan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), baterai, hidrogen, dan sistem pengendali sehingga masyarakat kini menikmati pasokan listrik tanpa jeda sepanjang hari.
PLN mengembangkan inovasi tersebut melalui Green Ecosystem Technopark. Sistem ini menggabungkan energi surya, penyimpanan energi menggunakan baterai, serta teknologi hidrogen yang seluruhnya memanfaatkan sumber energi terbarukan. Informasi ini disampaikan melalui akun Instagram resmi PLN dan dikutip pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Hidrogen PLN juga membuka peluang baru bagi masyarakat Pulau Rengit yang sebelumnya hanya memperoleh aliran listrik sekitar 12 jam setiap hari dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Kini, sekitar 150 hingga 200 penduduk yang mayoritas bekerja sebagai nelayan dapat menikmati pasokan listrik yang lebih stabil selama 24 jam.
Hidrogen PLN Perkuat Sistem Kelistrikan Berbasis Energi Terbarukan
Pulau Rengit menjadi lokasi pertama yang menerapkan hidrogen sebagai bagian dari sistem kelistrikan berbasis energi terbarukan. Selain itu, PLN merancang sistem yang mengintegrasikan beberapa teknologi sehingga pasokan listrik tetap tersedia pada siang maupun malam hari.
Pada siang hari, PLTS berkapasitas 79,38 kWp menghasilkan energi listrik dengan dukungan hybrid inverter berkapasitas 60 kW. Energi tersebut langsung memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, mengisi baterai, sekaligus mendukung proses produksi hidrogen.
Dengan pendekatan tersebut, PLN mampu memanfaatkan energi matahari secara maksimal. Oleh karena itu, kelebihan energi yang dihasilkan panel surya tidak terbuang, melainkan tersimpan untuk digunakan kembali saat dibutuhkan.
Baterai dan Hidrogen Menjaga Pasokan Listrik Tetap Stabil
Selain PLTS, sistem ini memanfaatkan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 200 kWh. Baterai menyimpan kelebihan energi pada siang hari, kemudian memasok listrik saat cuaca mendung, sore, maupun malam sehingga suplai listrik tetap terjaga.
Di sisi lain, sistem energi hidrogen terdiri atas electrolyzer, tangki penyimpanan, dan fuel cell. Electrolyzer mampu memproduksi sekitar empat kilogram hidrogen setiap hari dengan memanfaatkan kelebihan listrik dari panel surya untuk memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen.
Selanjutnya, tangki berkapasitas 2,24 kilogram menyimpan hidrogen sebagai cadangan energi. Ketika kebutuhan listrik meningkat, fuel cell berkapasitas 5 kW mengubah hidrogen kembali menjadi energi listrik sehingga kontinuitas pasokan tetap terjaga.
Energy Management System Mengatur Seluruh Operasi
PLN juga melengkapi sistem tersebut dengan Energy Management System (EMS). Teknologi ini mengatur distribusi energi dari panel surya, baterai, dan fuel cell sesuai kondisi operasional.
Dengan pengelolaan tersebut, setiap sumber energi bekerja secara efisien. Hasilnya, masyarakat serta fasilitas umum di Pulau Rengit memperoleh pasokan listrik yang lebih stabil dan andal sepanjang waktu.
Pulau Rengit Jadi Contoh Pengembangan Energi Bersih
Keberhasilan proyek ini menunjukkan potensi besar pemanfaatan hidrogen dalam sistem kelistrikan di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Selain meningkatkan keandalan pasokan listrik, inovasi tersebut juga mendukung percepatan transisi menuju energi bersih di Indonesia.
Melalui model Green Ecosystem Technopark, PLN memperluas peluang elektrifikasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di samping itu, pemanfaatan hidrogen sebagai media penyimpanan energi membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil sekaligus memperkuat pemanfaatan energi terbarukan di masa depan. (j/*)











Komentar