Pabrik BYD Beroperasi, Indonesia Dorong Industri Mobil Listrik Naik Kelas

- Jurnalis

Jumat, 4 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, menjadi bagian dari upaya memperkuat basis manufaktur kendaraan listrik dan rantai pasok domestik (foto: kementerian perindustrian)

Fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, menjadi bagian dari upaya memperkuat basis manufaktur kendaraan listrik dan rantai pasok domestik (foto: kementerian perindustrian)

Sisipublik.com – Pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, mulai beroperasi dan menandai langkah baru Indonesia dalam memperkuat basis manufaktur kendaraan listrik. Pemerintah tidak hanya mendorong pertumbuhan penjualan mobil listrik, tetapi juga ingin investasi tersebut memperbesar nilai tambah industri di dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai kehadiran fasilitas produksi PT BYD Motor Indonesia dapat membantu menggeser perkembangan kendaraan listrik dari sekadar pertumbuhan pasar menuju penguatan kapasitas produksi nasional. Karena itu, pemerintah mendorong agar investasi tersebut terhubung dengan industri komponen dan rantai pasok domestik.

Pabrik BYD Dorong Pendalaman Industri

Pabrik BYD beroperasi ketika pasar kendaraan listrik Indonesia terus berkembang. Pemerintah melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan keterlibatan industri nasional, mulai dari komponen, material, baterai, hingga proses produksi kendaraan.

Selain itu, kebijakan kendaraan listrik Indonesia mengarahkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap. Pemerintah menetapkan target minimal 40 persen hingga 2026, kemudian meningkat menjadi 60 persen pada 2027–2029 dan 80 persen mulai 2030.

Dengan demikian, investasi otomotif listrik tidak berhenti pada kegiatan perakitan. Pemerintah mendorong semakin banyak perusahaan pemasok dan industri komponen membangun kapasitas produksi di Indonesia.

Agus mengatakan Kementerian Perindustrian juga menyiapkan gagasan insentif yang mempertimbangkan capaian TKDN. Semakin tinggi penggunaan komponen dalam negeri, semakin besar pula perhatian pemerintah terhadap dukungan kebijakan bagi pelaku industri.

Pasar Kendaraan Listrik Terus Tumbuh

Pertumbuhan pasar menjadi salah satu faktor yang memperkuat prospek industri kendaraan listrik nasional. Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai sekitar 486 ribu unit. Jumlah tersebut mencakup sekitar 242 ribu kendaraan roda dua dan 223 ribu kendaraan roda empat, sementara sisanya berasal dari berbagai jenis kendaraan listrik lainnya.

Baca Juga :  Geely EX2 Mobil Listrik Hadir dengan Penggerak Roda Belakang, Harga Mulai Rp229 Jutaan

Sementara itu, Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales (BEV) mencapai sekitar 70 ribu unit pada semester I 2026. Angka tersebut setara dengan pangsa pasar sekitar 16 persen.

Di segmen hibrida, penjualan Hybrid Electric Vehicle (HEV) mencapai sekitar 40.400 unit dengan pangsa pasar mendekati 10 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya penerimaan konsumen terhadap kendaraan berteknologi elektrifikasi. Namun, pemerintah ingin pertumbuhan permintaan tersebut sekaligus menciptakan aktivitas industri yang lebih besar di dalam negeri.

Manufaktur Indonesia Menunjukkan Tren Positif

Pengoperasian fasilitas BYD juga berlangsung ketika industri manufaktur Indonesia mencatat pertumbuhan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.

Pertumbuhan itu sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen pada periode yang sama.

Selain itu, nilai tambah manufaktur Indonesia juga meningkat. Data Bank Dunia menunjukkan Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia mencapai USD275,61 miliar pada 2025, naik dari USD265,07 miliar pada 2024. Kondisi tersebut menjadi konteks penting bagi masuknya investasi kendaraan listrik karena kapasitas manufaktur nasional menjadi salah satu fondasi untuk membangun rantai pasok otomotif yang lebih dalam.

Baca Juga :  Pabrik Mobil Nasional Siap Serap 2.000 Tenaga Kerja, Pindad Targetkan Produksi Puluhan Ribu Unit

Kenaikan tersebut membawa Indonesia dari peringkat ke-13 dunia pada 2024 menjadi peringkat ke-12 pada 2025 dalam penciptaan nilai tambah manufaktur.

Di ASEAN, Indonesia mencatat nilai MVA tertinggi. Posisi tersebut menunjukkan besarnya kapasitas industri nasional sekaligus membuka ruang untuk memperluas sektor manufaktur bernilai tambah tinggi, termasuk kendaraan listrik.

Pemerintah Bidik Rantai Pasok dari Hulu ke Hilir

Ke depan, Kementerian Perindustrian ingin investasi kendaraan listrik berkembang melampaui produksi kendaraan. Pemerintah menargetkan terbentuknya ekosistem industri yang menghubungkan sektor hulu hingga hilir.

Rantai tersebut mencakup pengolahan bahan baku, produksi sel baterai dan battery pack, industri komponen, manufaktur kendaraan, pengembangan pasar, hingga pengolahan dan daur ulang baterai.

Pengembangan industri daur ulang baterai menjadi semakin penting seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik. Selain mendukung keberlanjutan, sektor tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan menciptakan nilai tambah baru.

Pemerintah berharap kehadiran BYD turut menarik pemasok global untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia. Dengan begitu, investasi kendaraan listrik dapat menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta peluang ekspor.

Beroperasinya fasilitas produksi BYD di Subang pada akhirnya tidak hanya menambah kapasitas produksi kendaraan listrik. Pemerintah menjadikannya bagian dari strategi memperdalam struktur industri otomotif dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Berita Terkait

Transaksi Emas Digital Tembus Rp299 Triliun, Bappebti Soroti Keamanan Investasi
Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin
Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja
Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha
BPDLH Kelola Dana Lingkungan USD1,3 Miliar, Menkeu Tekankan Transparansi dan Dampak
Ekspor Baterai Kendaraan Listrik Jadi Ujian Hilirisasi dan Tanggung Jawab Lingkungan
Menperin Sarmuji Dorong Sinkronisasi Kebijakan agar Industri Dalam Negeri Tumbuh Lebih Cepat
Ekspor Industri Mainan Naik, Kemenperin Dorong Produk Lokal Perluas Pasar Global
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Transaksi Emas Digital Tembus Rp299 Triliun, Bappebti Soroti Keamanan Investasi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:00 WIB

BPDLH Kelola Dana Lingkungan USD1,3 Miliar, Menkeu Tekankan Transparansi dan Dampak

Berita Terbaru