Kemandirian Energi Nasional Diperkuat lewat PLTS 100 GW dan Kendaraan Listrik

- Jurnalis

Sabtu, 15 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen pemerintah memperkuat kemandirian energi melalui pembangunan PLTS dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. (foto: BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen pemerintah memperkuat kemandirian energi melalui pembangunan PLTS dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. (foto: BPMI Setpres)

Sisipublik.com – Kemandirian energi nasional menjadi salah satu fokus pemerintah melalui percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta penguatan industri kendaraan listrik. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah terus mendorong penggunaan energi domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS hingga 100 gigawatt (GW). Selain itu, pemerintah juga mempercepat penghentian pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan kapasitas 13 GW.

“Tahun ini, kita akan bangun 30 giga watt pembangkit listrik tenaga surya dan segera menghentikan 13 giga watt pembangkit listrik tenaga diesel. Kita mendapat anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sinar matahari yang hampir sepanjang tahun,” ujar Presiden dalam pidatonya di Gedung Nusantara, Jakarta, Jumat (14/08/2026).

Kemandirian Energi Nasional Dorong Efisiensi Biaya Listrik

Pemerintah melihat kemandirian energi nasional tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan sumber energi dalam negeri. Langkah tersebut juga berpotensi menekan biaya penyediaan listrik sekaligus mengurangi kebutuhan impor bahan bakar minyak (BBM).

Presiden menyebut pembangunan PLTS hingga 100 GW dapat menghemat sedikitnya Rp73,9 triliun setiap tahun. Penghematan tersebut berasal dari penurunan biaya pokok produksi listrik.

Baca Juga :  Muktamar ke-35 NU Resmi Berakhir, Kepemimpinan Baru PBNU 2026-2031 Dimulai

“Belum lagi kalau kita tidak impor BBM dari luar negeri lagi, dengan 100 gigawatt kebutuhan impor akan jauh berkurang dan kita bisa menghemat sangat banyak devisa,” kata Presiden.

Karena itu, pemerintah terus memanfaatkan potensi energi surya yang tersedia hampir sepanjang tahun. Pengembangan PLTS menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga efisiensi ekonomi.

Kendaraan Listrik Perkuat Industri Dalam Negeri

Selain sektor kelistrikan, pemerintah mempercepat elektrifikasi mobilitas masyarakat. Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi konsumsi BBM sekaligus memperluas kapasitas industri kendaraan listrik nasional.

Presiden mengumumkan insentif bagi perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi satu juta unit motor listrik di dalam negeri. Pemerintah berharap kebijakan itu mendorong pertumbuhan industri beserta rantai pasoknya.

“Kebijakan ini mempunyai tiga tujuan sekaligus (yaitu) menurunkan biaya kendaraan untuk rakyat, mengurangi konsumsi bahan bakar impor, dan membesarkan industri motor listrik nasional beserta rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, serta layanan purnajualnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Prabowo Hadiri Undangan Macron di Paris saat Idul Adha

Lebih lanjut, Presiden menilai Indonesia memiliki hampir seluruh unsur yang diperlukan untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik. Dengan demikian, produksi kendaraan listrik dalam negeri dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Penggunaan Energi Lebih Hemat bagi Masyarakat

Menurut Presiden, kendaraan listrik buatan Indonesia bukan sekadar sarana transportasi. Produk tersebut juga dapat membuka peluang penghematan bagi keluarga sekaligus menciptakan lapangan kerja dan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

“Pertama penghematan bagi rakyat, penghematan bagi keluarga mereka. Kita perkirakan mereka akan bayar 50 persen lebih rendah dari pengeluaran yang mereka lakukan sekarang untuk BBM. Bahkan bisa nanti turun hanya 30 persen dari biaya yang mereka keluarkan sekarang. Pengurangan impor energi dan yang sangat penting pekerjaan dan penghasilan bagi anak-anak Indonesia,” tandasnya.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, pemerintah mengarahkan transisi energi pada tiga sasaran utama. Ketiganya mencakup penguatan energi domestik, efisiensi biaya masyarakat, serta pertumbuhan industri nasional.

Berita Terkait

Revitalisasi Sekolah di Bali Naik Jadi 401 Unit, Perbaikan Infrastruktur Dukung Kenyamanan Belajar
Bhumi ATR/BPN Bantu Cek Peta Bidang Tanah, Ini Batasan Informasi yang Perlu Dipahami
Digitalisasi Bansos Perkuat Verifikasi Penerima, Kemensos Buka Akses Pengawasan Data
SMA Unggul Garuda Perluas Akses Sekolah Unggulan hingga Empat Daerah
Kedelai Grobogan Ditargetkan Tembus 3 Ton per Hektare, Kementan Siapkan Ekspansi Lahan
Prabowo Lantik Empat Wakil Menteri, Dua Perkuat Sektor Pertahanan
Swasembada Beras Perkuat Ketahanan Pangan, Pemerintah Benahi Distribusi Pupuk
Transformasi PLN Jadi Prioritas, Prabowo Dorong Efisiensi dan Energi Surya 100 GW
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Revitalisasi Sekolah di Bali Naik Jadi 401 Unit, Perbaikan Infrastruktur Dukung Kenyamanan Belajar

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Bhumi ATR/BPN Bantu Cek Peta Bidang Tanah, Ini Batasan Informasi yang Perlu Dipahami

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Digitalisasi Bansos Perkuat Verifikasi Penerima, Kemensos Buka Akses Pengawasan Data

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:27 WIB

SMA Unggul Garuda Perluas Akses Sekolah Unggulan hingga Empat Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Kedelai Grobogan Ditargetkan Tembus 3 Ton per Hektare, Kementan Siapkan Ekspansi Lahan

Berita Terbaru