Sisipublik.com – Teknologi Pengendalian Rayap menjadi fokus yang diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kepada masyarakat Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman warga mengenai ancaman rayap terhadap bangunan dan berbagai aset berbahan kayu, sekaligus mengenalkan metode pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan.
Melalui Pusat Riset Zoologi Terapan pada Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, BRIN menghadirkan edukasi tentang jenis rayap perusak kayu serta langkah pencegahan yang dapat di terapkan masyarakat. Dengan demikian, warga dapat mengenali ancaman sejak dini dan mengurangi potensi kerugian akibat serangan rayap.
Selain itu, Teknologi Pengendalian Rayap juga menjadi bagian dari upaya BRIN dalam memanfaatkan hasil riset untuk menjawab persoalan yang di hadapi masyarakat. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan tersebut di harapkan mampu menjaga keberlanjutan penggunaan material kayu dalam kehidupan sehari-hari.
Teknologi Pengendalian Rayap Dimulai dari Pengenalan Jenis Hama
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Agus Ismanto, menjelaskan bahwa rayap merupakan serangga sosial yang hidup dalam koloni dengan pembagian kasta, yakni raja dan ratu sebagai reproduktif, prajurit, serta pekerja.
Di alam, rayap berperan sebagai pengurai bahan organik yang membantu siklus unsur hara dan menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, ketika koloni berkembang di sekitar permukiman, rayap memanfaatkan material berselulosa sebagai sumber makanan sehingga memicu kerusakan pada bangunan, perabot, arsip, dan berbagai benda berbahan kayu.
Menurut Agus, sebagian besar kerusakan akibat rayap berlangsung secara tersembunyi. Aktivitas rayap terjadi di dalam kayu maupun melalui lorong tanah yang mereka bangun untuk mempertahankan kelembapan. Karena itu, masyarakat kerap mengetahui kerusakan setelah struktur kayu mengalami penurunan kekuatan.
Dalam kegiatan tersebut, BRIN mengenalkan dua jenis rayap yang umum di temukan di Indonesia, yakni rayap tanah dan rayap kayu kering. Rayap tanah membangun terowongan dari dalam tanah menuju sumber makanan. Sementara itu, rayap kayu kering mampu hidup langsung di dalam kayu dengan kadar air rendah.
Agus menegaskan bahwa identifikasi jenis rayap menjadi langkah penting sebelum menentukan metode pengendalian yang sesuai.
Teknologi Pengendalian Rayap Dorong Deteksi Dini
BRIN juga memberikan pengetahuan mengenai tanda-tanda awal serangan rayap. Di antaranya muncul lorong tanah pada dinding atau pondasi, suara kayu yang terdengar kopong saat diketuk, perubahan permukaan kayu, serta keberadaan sayap rayap yang terlepas setelah musim kawin.
Selanjutnya, Agus menekankan pentingnya deteksi dini untuk mencegah kerusakan yang lebih luas. Dengan mengenali gejala sejak awal, masyarakat dapat segera melakukan pencegahan sehingga biaya perbaikan bangunan dapat di tekan.
Di sisi lain, Agus meluruskan anggapan mengenai pengaruh musim penebangan terhadap ketahanan kayu. Menurutnya, faktor musim lebih berpengaruh pada bambu di bandingkan kayu. Bambu dengan kadar pati tinggi dan kadar air rendah lebih rentan terhadap organisme perusak.
Pemanfaatan Bahan Alami untuk Perlindungan Kayu
Dalam kesempatan yang sama, Agus memperkenalkan bahan alami sebagai alternatif pengendalian rayap. Masyarakat dapat memanfaatkan ekstrak biji sirsak dan biji srikaya untuk melindungi kayu dari serangan hama.
Proses pembuatannya cukup sederhana. Biji di tumbuk hingga halus, kemudian di ekstraksi menggunakan alkohol 70 persen selama 24 jam atau di rendam dalam air selama 48 jam. Setelah di saring, larutan tersebut dapat di oleskan berulang kali pada permukaan kayu agar bahan aktif meresap secara optimal.
Sementara itu, Camat Borobudur, Subiyanto, menyambut baik kegiatan yang di lakukan BRIN. Menurutnya, edukasi mengenai pengenalan dan pengendalian rayap sangat penting karena banyak bangunan serta perabot warga masih menggunakan material kayu.
Ia berharap kegiatan serupa terus berlangsung untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu, masyarakat dapat melindungi aset mereka dari kerusakan akibat rayap.
Pada akhirnya, BRIN terus mendorong pemanfaatan hasil riset agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui di seminasi Teknologi Pengendalian Rayap, kesadaran mengenai deteksi dini dan mitigasi yang tepat di harapkan semakin meningkat sehingga kerugian akibat serangan rayap dapat di minimalkan. (j/*)











Komentar