Sisipublik.com – Tempe mentah kembali menjadi perhatian setelah dr. Zaidul Akbar menyarankan konsumsi tempe tanpa digoreng dalam sebuah tayangan di kanal YouTube miliknya. Ia mengaitkan cara tersebut dengan kondisi kulit wajah dan kesehatan pencernaan.
Namun, klaim mengenai tempe mentah perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Tempe memang memiliki kandungan protein, serat, vitamin, mineral, serta sejumlah senyawa hasil fermentasi yang bermanfaat bagi tubuh. Kementerian Kesehatan menyebut fermentasi membuat sejumlah zat gizi tempe lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.
Tempe mentah bukan jaminan wajah glowing
Tempe mentah menjadi bagian dari pembahasan karena dr. Zaidul Akbar menyarankan masyarakat tidak selalu mengolah tempe dengan cara digoreng. Dalam tayangan tersebut, ia menyebut konsumsi tempe tanpa digoreng sebagai salah satu pilihan untuk menjaga pola makan.
Akan tetapi, pernyataan tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa tempe mentah mampu membuat wajah menjadi glowing. Kondisi kulit dipengaruhi banyak faktor, termasuk kecukupan gizi secara keseluruhan, hidrasi, pola tidur, paparan sinar matahari, serta kondisi kesehatan seseorang.
Karena itu, manfaat tempe sebaiknya dilihat dari kandungan gizinya, bukan dari klaim bahwa satu cara pengolahan tertentu dapat memberikan perubahan pada wajah.
Kandungan gizi tempe tetap menjadi keunggulannya
Kementerian Kesehatan mencatat tempe sebagai pangan fermentasi yang kaya zat gizi. Tempe mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, zat besi, kalium, serta sejumlah vitamin B. Fermentasi juga membantu menguraikan sebagian senyawa kompleks sehingga lebih mudah dicerna.
Selain itu, tempe memiliki komponen hasil fermentasi yang berkontribusi terhadap nilai gizinya. Karena itu, tempe dapat menjadi salah satu sumber protein nabati dalam pola makan sehari-hari.
Namun, anggapan bahwa pemanasan otomatis membuat seluruh protein tempe hilang atau rusak juga terlalu menyederhanakan proses pengolahan pangan. Pemanasan memang dapat mengubah struktur protein atau menyebabkan denaturasi, tetapi denaturasi tidak sama dengan hilangnya seluruh nilai gizi protein.
Tempe mentah perlu memperhatikan keamanan pangan
Tempe merupakan produk fermentasi yang melalui sejumlah tahapan sebelum siap dikonsumsi. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pembuatan tempe antara lain mencakup perebusan kedelai, inokulasi kapang, pembungkusan, dan fermentasi.
Karena itu, kualitas bahan dan kebersihan selama proses produksi tetap penting. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya higiene, sanitasi, pemisahan pangan mentah dan matang, serta pengolahan makanan secara tepat untuk mengurangi risiko kontaminasi.
Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak menganggap semua tempe mentah otomatis aman hanya karena sudah mengalami fermentasi. Kondisi tempe, kebersihan proses produksi, penyimpanan, dan penanganannya tetap perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, tempe tetap layak menjadi bagian dari menu bergizi karena kandungan proteinnya dan berbagai zat gizi lainnya. Cara mengonsumsinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan makan, selama aspek keamanan pangan tetap menjadi pertimbangan utama.











Komentar