Sisipublik.com – Swiss German University (SGU) kembali mencatat prestasi melalui Ilmuwan Muda Terbaik 2026. Kampus tersebut tidak hanya masuk nominasi sebagai Perguruan Tinggi Swasta Terproduktif di Bidang STEM 2026 versi LLDIKTI Wilayah IV, tetapi juga mengantarkan dua penelitinya masuk dalam nominasi ilmuwan muda berkat inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Pencapaian ini memperlihatkan komitmen SGU dalam menghadirkan riset yang aplikatif dan berdampak luas.
Dua peneliti yang menerima nominasi ialah Hery Sutanto dan Maria Dewi P.T. Gunawan Puteri. Keduanya menghadirkan inovasi di bidang pangan dan kesehatan dengan memanfaatkan potensi bahan lokal Indonesia. Selain menghasilkan temuan ilmiah, mereka juga mendorong penerapan hasil riset agar dapat digunakan langsung oleh masyarakat.
Ilmuwan Muda Terbaik 2026 Hadirkan Inovasi Berbasis Bahan Lokal
Hery Sutanto mengembangkan Kemirich Gold, minyak nabati berbahan dasar kemiri yang kaya nutrisi. Produk tersebut menawarkan manfaat untuk menjaga kesehatan jantung sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting. Melalui risetnya, Hery menunjukkan bahwa kemiri memiliki nilai ekonomi dan gizi yang tinggi apabila diolah dengan teknologi yang tepat.
Menurut Hery, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah, termasuk kemiri yang selama ini lebih sering digunakan sebagai pelengkap masakan. Padahal, kandungan gizinya mampu bersaing dengan berbagai minyak nabati impor apabila di proses secara optimal.
Lebih lanjut, hasil penelitian tersebut mulai memberikan manfaat nyata. BAPPEDA Kabupaten Tangerang memanfaatkan Kemirich Gold sebagai bagian dari program penurunan angka stunting. Langkah ini menunjukkan bahwa riset kampus mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui solusi yang praktis dan berbasis potensi lokal.
Inovasi Tempe Dorong Pangan Bergizi dan Kemandirian Masyarakat
Sementara itu, Maria Dewi P.T. Gunawan Puteri memperkenalkan inovasi pangan melalui pengembangan Tempe Semangit dan Rhisoya. Penelitian tersebut memanfaatkan teknologi fermentasi untuk menghasilkan produk bernilai gizi tinggi.
Rhisoya hadir sebagai bumbu tabur dengan kandungan protein mencapai 70 persen. Produk ini menawarkan pilihan pangan bergizi yang praktis, terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak. Selain mengembangkan produk inovatif, Maria juga mengajak masyarakat desa mengolah hasil riset tersebut menjadi peluang usaha yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak berhenti di laboratorium. Sebaliknya, inovasi mampu membuka kesempatan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas pangan masyarakat.
Budaya Riset Menjadi Kekuatan Swiss German University
Rektor Swiss German University, Samuel P. Kusumocahyo, menyampaikan bahwa pencapaian institusi dan para peneliti merupakan hasil dari budaya riset yang terus berkembang di lingkungan kampus. Menurutnya, pengakuan tersebut membuktikan kualitas ekosistem penelitian yang di bangun secara konsisten.
Ia menegaskan bahwa SGU terus mendorong kolaborasi lintas disiplin, memperluas kemitraan dengan dunia industri, serta memperkuat inovasi yang memiliki manfaat nyata. Kampus juga berkomitmen menghasilkan penelitian yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia hingga tingkat global.
Ke depan, SGU ingin terus melahirkan inovasi yang menjawab berbagai tantangan di bidang kesehatan, pangan, dan teknologi. Melalui kolaborasi antara peneliti, industri, pemerintah, serta masyarakat, kampus berharap hasil penelitian semakin mudah di terapkan dan memberikan dampak positif yang lebih luas. (j/*)










Komentar