Ekspor Batik Indonesia Tumbuh, Kemendag Siapkan Akses Buyer bagi Perajin Lokal

- Jurnalis

Sabtu, 7 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wamendag Dyah Roro Esti Widya Putri meninjau proses produksi Batik Keris di Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk melihat kapasitas industri, penyerapan tenaga kerja, dan peluang perluasan pasar ekspor batik Indonesia (foto: kementerian perdagangan)

Wamendag Dyah Roro Esti Widya Putri meninjau proses produksi Batik Keris di Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk melihat kapasitas industri, penyerapan tenaga kerja, dan peluang perluasan pasar ekspor batik Indonesia (foto: kementerian perdagangan)

Sisipublik.com – Ekspor batik Indonesia menunjukkan peluang pertumbuhan di pasar internasional. Untuk memperluas peluang tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong produsen batik dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk menjangkau pembeli potensial.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan dukungan tersebut saat meninjau proses produksi Batik Keris di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (6/11/2026). Kunjungan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk melihat langsung kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, serta peluang pengembangan pasar ekspor.

Ekspor batik Indonesia menjadi salah satu potensi yang ingin pemerintah dorong melalui fasilitasi promosi dan penjajakan bisnis. Roro menilai produk batik memiliki peluang untuk menjangkau pasar regional, terutama Asia Tenggara yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya dengan Indonesia.

Ekspor batik Indonesia dan peluang menjangkau pasar baru

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang tercantum dalam informasi Kemendag, nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai 30,62 juta dolar AS. Angka tersebut tumbuh 13,03 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 26,63 juta dolar AS.

Namun, pada semester I-2026, nilai ekspor batik tercatat sebesar 4,39 juta dolar AS. Data ini menunjukkan bahwa perluasan pasar tetap membutuhkan strategi promosi, penguatan jaringan pembeli, serta kesiapan pelaku usaha memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Untuk mendukung langkah tersebut, Kemendag menawarkan akses kepada pelaku UMKM melalui 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang tersebar di 33 negara. Pelaku usaha dapat memanfaatkan jaringan itu untuk menggali informasi pasar dan mengikuti agenda business matching dengan calon pembeli.

Baca Juga :  Kemendag Bidik Pasar Kanada, 200 UMKM Kerajinan Disiapkan Perluas Ekspor hingga 2030

“Pemerintah hadir sebagai fasilitator. Kami melihat bagaimana bisnis yang berawal dari kesederhanaan dapat berkembang menjadi skala besar. Selebihnya, terkait perluasan pasar, baik pasar domestik maupun ekspor, Kemendag siap memfasilitasi dan mendampingi hingga terealisasi,” tegas Roro.

Selain mempertemukan produsen dengan calon pembeli, Kemendag juga membuka peluang pembinaan, promosi, dan penyelenggaraan peragaan busana untuk memperkenalkan produk batik Indonesia kepada pasar mancanegara.

Regenerasi perajin menjadi kekuatan industri batik

Di sisi produksi, Roro mengapresiasi upaya Batik Keris dalam menjaga keberlanjutan keterampilan membatik melalui kaderisasi lintas generasi. Menurutnya, keberadaan pekerja senior yang mendampingi pekerja junior menjadi bagian penting dalam menjaga keterampilan dan nilai budaya batik.

“Kami sangat mengapresiasi upaya kaderisasi dan pelestarian budaya yang berjalan di pabrik Batik Keris. Pekerja senior yang sudah mengabdi belasan hingga puluhan tahun bersanding dengan pekerja junior. Ini bukti nyata penguatan ekosistem industri berbasis budaya agar batik tidak punah ditelan zaman,” ujar Roro.

Ia juga menilai kegiatan produksi Batik Keris memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal. Karena itu, pengembangan industri batik tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, tetapi juga keberlanjutan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat.

Batik Keris saat ini didukung 435 tenaga kerja profesional dan 311 unit mesin produksi terpasang. Perusahaan tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 60 ribu potong per bulan, mencakup kemeja pria, blus, rok, pakaian luar, dan busana anak.

Baca Juga :  UMKM Surakarta Siapkan Rotan dan Batik untuk Perluas Pasar Ekspor di TEI 2026

Batik Keris bidik buyer melalui Trade Expo Indonesia

Chief Executive Officer Batik Keris, Andy Rusli, menyambut positif kunjungan Wamendag Roro. Ia berharap dukungan pemerintah dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk batik Indonesia.

“Kami berminat untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia mendatang guna menarik buyer. Untuk saat ini, Batik Keris masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri paralel dengan pembinaan perajin batik baru,” ujar Andy.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih memprioritaskan pasar domestik sembari mempersiapkan langkah untuk memperluas jangkauan penjualan ke luar negeri.

Dalam kunjungan tersebut, Roro juga mendatangi Heritage Istana Batik Keris di Sukoharjo. Tempat yang sebelumnya dikenal sebagai Liberty Villa atau Omah Lowo itu menyimpan perjalanan sejarah Batik Keris dan menghadirkan koleksi batik, kerajinan UMKM lokal, serta produk kuliner khas Jawa Tengah.

Batik Keris berdiri pada 1947 dan mengembangkan usaha melalui integrasi produksi, pengembangan, serta distribusi busana dan tekstil batik tradisional. Dengan kapasitas produksi dan jaringan distribusi yang telah dibangun, perusahaan ini menjadi salah satu contoh industri berbasis budaya yang dapat mengembangkan potensi ekonomi sekaligus menjaga warisan batik Indonesia.

Berita Terkait

Balai Transmigrasi Denpasar Disiapkan Jadi Etalase Produk UMKM untuk Wisatawan Mancanegara
Peternak Ayam Parigi Moutong Dibekali Keterampilan untuk Perkuat Ekonomi Desa
Pemerintah Perkuat Cadangan Energi, Storage Minyak 60 Hari dan Bioetanol E20 Disiapkan
Kemendag Bidik Pasar Kanada, 200 UMKM Kerajinan Disiapkan Perluas Ekspor hingga 2030
Budaya Produksi Halal Perlu Mengakar, Kemenag Dorong Tanggung Jawab Pelaku Usaha
KDKMP Banyumas Mulai Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Avtur Pertamina
Pabrik Baterai CATL-Antam Mulai Produksi, Pemerintah Siapkan Peresmian 1.413 Titik Listrik Desa
Tenant F&B IYS 2026 Buka Peluang Belajar dan Perluas Jejaring Bisnis Anak Muda
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 11:00 WIB

Ekspor Batik Indonesia Tumbuh, Kemendag Siapkan Akses Buyer bagi Perajin Lokal

Jumat, 6 November 2026 - 14:00 WIB

Balai Transmigrasi Denpasar Disiapkan Jadi Etalase Produk UMKM untuk Wisatawan Mancanegara

Kamis, 5 November 2026 - 06:00 WIB

Peternak Ayam Parigi Moutong Dibekali Keterampilan untuk Perkuat Ekonomi Desa

Rabu, 4 November 2026 - 23:00 WIB

Pemerintah Perkuat Cadangan Energi, Storage Minyak 60 Hari dan Bioetanol E20 Disiapkan

Rabu, 4 November 2026 - 06:00 WIB

Kemendag Bidik Pasar Kanada, 200 UMKM Kerajinan Disiapkan Perluas Ekspor hingga 2030

Berita Terbaru