Sisipublik.com – Tubaba Art Festival 2026 membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal melalui kolaborasi seniman, peserta didik, arsitek, dan masyarakat di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Festival edisi ke-10 ini dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2026 dengan menggabungkan pendidikan seni, penciptaan karya, dan pengembangan potensi pariwisata daerah.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyambut positif penyelenggaraan festival tersebut. Dalam audiensi bersama penyelenggara di Jakarta pada Kamis (8/10/2026), ia menekankan pentingnya inisiatif berbasis komunitas untuk memperluas ruang kolaborasi dan memperkenalkan karya kreatif daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Tubaba Art Festival 2026 juga menawarkan pendekatan yang menghubungkan pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui rangkaian programnya, penyelenggara mendorong warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat dalam proses penciptaan karya seni dan pengembangan potensi lokal.
Tiga Program Utama Tubaba Art Festival 2026
Penyelenggara menyiapkan tiga program utama untuk menghubungkan proses pendidikan dengan praktik seni dan keterlibatan masyarakat.
Pertama, Perayaan Kesadaran, yakni program pendidikan seni dengan pendekatan pedagogi emansipatif bagi peserta didik berusia 7–18 tahun. Peserta mengikuti pelatihan intensif dan menghasilkan karya berupa teater musikal, tari, musik, serta seni rupa.
Kedua, Residensi Pulang ke Masa Depan, yang membuka kesempatan bagi seniman dari berbagai daerah di Indonesia untuk melakukan riset, berkolaborasi dengan warga, dan menciptakan karya berdasarkan proses tersebut. Program ini memberi ruang bagi seniman untuk mengembangkan gagasan melalui interaksi langsung dengan lingkungan sosial setempat.
Ketiga, Instalasi Ruang Publik, berupa karya instalasi yang melibatkan arsitek dari berbagai daerah. Program ini menempatkan ruang publik sebagai medium ekspresi seni sekaligus titik temu antara kreativitas, arsitektur, dan kehidupan masyarakat.
Menurut Irene, kolaborasi lintas sektor seperti ini dapat memperluas manfaat seni bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan festival berbasis potensi daerah perlu berjalan bersama upaya memperkuat pendidikan, pariwisata, dan kegiatan ekonomi kreatif.
Hubungkan Karya Seni dengan Pariwisata dan UMKM
Direktur Sekolah Tubaba Art Festival, Semi Ikra Anggara, mengatakan penyelenggara ingin meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebudayaan Indonesia melalui seni. Selain itu, festival ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem kebudayaan secara berkelanjutan dan menyediakan ruang pendidikan karakter bagi generasi muda.
Penyelenggara juga ingin memperluas keterkaitan antara ekonomi kreatif, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pasar yang lebih luas. Dengan demikian, kegiatan seni diharapkan dapat membuka kesempatan bagi pelaku lokal untuk memperkenalkan produk dan karya mereka kepada pengunjung.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia juga menjadwalkan penampilan grup musik Voice of Baceprot. Kehadiran grup tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara yang menghubungkan karya kreatif lokal dengan perkembangan industri musik yang menjangkau audiens internasional.
Tantangan Mengembangkan Dampak Festival
Penyelenggaraan festival sehari ini memberikan ruang bagi berbagai pelaku seni dan masyarakat untuk bertemu serta berkolaborasi. Namun, manfaat jangka panjangnya akan bergantung pada kesinambungan program setelah acara berakhir.
Pendampingan peserta didik, keberlanjutan kerja sama seniman dengan warga, serta peluang pemasaran bagi UMKM dapat menjadi bagian penting dari pengembangan ekosistem kreatif daerah. Dengan langkah tersebut, Tubaba Art Festival berpeluang menjadi lebih dari sekadar agenda pertunjukan, yakni ruang pengembangan talenta, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat di Tulang Bawang Barat.











Komentar