Pemerintah Perkuat Cadangan Energi, Storage Minyak 60 Hari dan Bioetanol E20 Disiapkan

- Jurnalis

Rabu, 4 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bahlil rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta (foto: kementerian esdm)

Bahlil rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta (foto: kementerian esdm)

Sisipublik.com – Pemerintah menyiapkan cadangan minyak nasional 60 hari melalui pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah atau crude storage di sejumlah wilayah Sumatra. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan minyak di tengah ketidakpastian pasar energi global.

Rencana pembangunan infrastruktur tersebut dibahas dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Pemerintah ingin meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak agar pengelolaan pasokan impor menjadi lebih fleksibel dan terencana.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, fasilitas penyimpanan itu akan menampung minyak mentah hasil impor. Dengan demikian, Indonesia memiliki ruang penyimpanan lebih besar untuk menjaga ketersediaan bahan baku energi.

“Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude. Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” ujar Bahlil seusai rapat.

Cadangan minyak nasional 60 hari menjadi target pembangunan

Bahlil menjelaskan, pemerintah telah menyelesaikan studi kelayakan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak tersebut. Tahap berikutnya mencakup peninjauan sejumlah lokasi yang akan dimulai pada akhir 2026.

Dalam menentukan lokasi, pemerintah mempertimbangkan kelayakan teknis, keselamatan operasional, serta potensi bencana. Pertimbangan tersebut penting karena fasilitas penyimpanan minyak membutuhkan standar keamanan tinggi dan pengelolaan risiko yang ketat.

“Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan,” tegasnya.

Baca Juga :  Hilirisasi Nikel Hadapi Tantangan Teknologi Baru, Indonesia Perlu Diversifikasi Industri Baterai EV

Karena itu, pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan kapasitas penyimpanan, tetapi juga memastikan lokasi pembangunan memenuhi persyaratan keselamatan. Infrastruktur ini diharapkan mendukung pengelolaan pasokan minyak dalam jangka lebih panjang.

Bioetanol E20 hingga E50 masuk agenda diversifikasi energi

Selain memperbesar kapasitas penyimpanan minyak, pemerintah menyiapkan pengembangan bahan bakar campuran etanol atau bioetanol. Presiden Prabowo turut meminta penjelasan mengenai kesiapan penerapan E20 sebagai bagian dari upaya memperluas penggunaan energi alternatif.

Bahlil menyebut pemerintah telah menyusun rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50. Program tersebut membutuhkan dukungan lintas kementerian, terutama untuk menjamin ketersediaan bahan baku.

Kementerian ESDM akan berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian dalam menyiapkan kebutuhan bahan baku dari sektor hulu. Kesiapan sektor pertanian menjadi faktor penting agar pengembangan bioetanol dapat berjalan secara berkelanjutan.

“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM,” kata Bahlil.

Dengan persiapan tersebut, pemerintah tidak hanya mengandalkan penambahan fasilitas penyimpanan minyak, tetapi juga mendorong sumber energi alternatif untuk memperkuat pasokan dalam negeri.

Biodiesel B50 tetap berlanjut di tengah ketidakpastian global

Di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan program mandatori biodiesel B50. Kebijakan ini melengkapi rencana pengembangan bioetanol E20 hingga E50 dalam strategi diversifikasi energi nasional.

B50 menggunakan campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan 50 persen solar. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

Baca Juga :  Bioetanol E5 Dorong Ketahanan Energi Nasional, Kurangi Impor BBM dan Buka Peluang Industri Baru

Keberlanjutan B50 juga berkaitan dengan upaya pemerintah menghadapi ketidakpastian geopolitik yang dapat memengaruhi perdagangan dan pasokan energi dunia.

Karena itu, pembangunan crude storage, pengembangan bioetanol, dan keberlanjutan biodiesel B50 menjadi tiga agenda yang saling melengkapi. Pemerintah menargetkan penguatan infrastruktur penyimpanan berjalan beriringan dengan peningkatan pemanfaatan energi berbasis sumber daya dalam negeri.

Ketahanan energi membutuhkan infrastruktur dan pasokan domestik

Rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak hingga 60 hari menunjukkan arah kebijakan pemerintah untuk memperbesar kemampuan Indonesia menghadapi gangguan pasokan energi. Namun, target tersebut masih membutuhkan tahapan lanjutan, termasuk peninjauan lokasi dan realisasi pembangunan.

Bahlil juga menyebut kapasitas penyimpanan akan ditingkatkan secara bertahap. Pemerintah tidak hanya mengejar target 60 hari, tetapi juga berupaya mendekati standar cadangan energi internasional yang mencapai 90 hari.

Dengan demikian, keberhasilan strategi ketahanan energi tidak cukup bergantung pada pembangunan tangki penyimpanan. Ketersediaan bahan baku bioetanol, kesiapan infrastruktur distribusi, keberlanjutan B50, serta keselamatan fasilitas penyimpanan turut menentukan efektivitas kebijakan tersebut.

Catatan verifikasi: Informasi mengenai rapat 3 November 2026, target penyimpanan 60 hari, rencana E20–E50, dan keberlanjutan B50 sesuai dengan keterangan resmi pemerintah. ANTARA juga melaporkan bahwa pemerintah menargetkan kapasitas penyimpanan lebih dari 20 hari sebagai tahapan menuju target 60 hari.

Berita Terkait

Peternak Ayam Parigi Moutong Dibekali Keterampilan untuk Perkuat Ekonomi Desa
Kemendag Bidik Pasar Kanada, 200 UMKM Kerajinan Disiapkan Perluas Ekspor hingga 2030
Budaya Produksi Halal Perlu Mengakar, Kemenag Dorong Tanggung Jawab Pelaku Usaha
KDKMP Banyumas Mulai Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Avtur Pertamina
Pabrik Baterai CATL-Antam Mulai Produksi, Pemerintah Siapkan Peresmian 1.413 Titik Listrik Desa
Tenant F&B IYS 2026 Buka Peluang Belajar dan Perluas Jejaring Bisnis Anak Muda
Standardisasi Mutu Beras Oransbari Jadi Kunci Menembus Pasar Premium
Wamendag Roro Tekankan Riset Pasar untuk Perluas Ekspor Produk Kreatif Indonesia
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 06:00 WIB

Peternak Ayam Parigi Moutong Dibekali Keterampilan untuk Perkuat Ekonomi Desa

Rabu, 4 November 2026 - 23:00 WIB

Pemerintah Perkuat Cadangan Energi, Storage Minyak 60 Hari dan Bioetanol E20 Disiapkan

Rabu, 4 November 2026 - 06:00 WIB

Kemendag Bidik Pasar Kanada, 200 UMKM Kerajinan Disiapkan Perluas Ekspor hingga 2030

Senin, 2 November 2026 - 15:00 WIB

Budaya Produksi Halal Perlu Mengakar, Kemenag Dorong Tanggung Jawab Pelaku Usaha

Minggu, 1 November 2026 - 22:00 WIB

KDKMP Banyumas Mulai Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Avtur Pertamina

Berita Terbaru