Sisipublik.com – Petani di Kawasan Transmigrasi Selaparang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan pembuat biochar atau arang hayati untuk membantu memperbaiki kualitas tanah. Inovasi ini membuka alternatif pengelolaan bonggol jagung dan sekam padi yang sebelumnya kerap dibakar atau dibiarkan menumpuk di lahan.
Melalui pelatihan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 21 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), petani setempat mempelajari cara mengolah limbah tersebut menjadi bahan yang berpotensi mendukung kesuburan tanah. Dengan demikian, sisa panen tidak hanya menjadi persoalan kebersihan lahan, tetapi juga memiliki nilai guna bagi kegiatan pertanian.
Biochar Selaparang Dorong Pemanfaatan Limbah Pertanian
Salah satu peserta pelatihan, Supriadi, Ketua Kelompok Tani Cempaka Putih di Desa Seruni Mumbul, mulai mengenal potensi limbah pertanian melalui kegiatan pendampingan tersebut.
Selain memberikan pelatihan, TEP 21 ITS mendistribusikan delapan alat pembuat biochar ke delapan desa di Kawasan Transmigrasi Selaparang. Setiap desa menerima satu alat dan mengirimkan seorang perwakilan kelompok tani untuk mempelajari penggunaannya.
Tim menentukan penerima manfaat berdasarkan survei serta koordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan. Pendekatan ini membantu tim menjangkau kelompok tani yang berpotensi menerapkan teknologi tersebut di wilayah masing-masing.
Biochar merupakan bahan kaya karbon yang dihasilkan melalui pemanasan biomassa dengan pasokan oksigen terbatas. Petani dapat memanfaatkannya sebagai pembenah tanah, meskipun hasilnya bergantung pada bahan baku, proses pembuatan, karakteristik tanah, dan cara penggunaan.
Pendampingan Menjadi Kunci Keberlanjutan
Ketua TEP 21 ITS, Grasianto, berharap petani dapat melanjutkan penggunaan teknologi biochar secara mandiri setelah masa tugas tim berakhir.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada penyaluran alat, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk menerapkan dan mengembangkan teknologi tersebut secara berkelanjutan.
Karena itu, keterlibatan kelompok tani dan penyuluh pertanian tetap penting untuk mendukung penggunaan alat, memastikan proses produksi berjalan dengan baik, serta mengevaluasi manfaat biochar terhadap kondisi lahan.
Petani juga perlu memperhatikan kualitas bahan baku dan proses pembuatannya. Pengolahan yang tepat dapat membantu mengurangi praktik pembakaran terbuka, sedangkan penggunaan biochar perlu menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik lahan agar memberikan manfaat optimal.
Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah Dukung Inovasi Desa
Program pemanfaatan limbah pertanian ini sejalan dengan dorongan Presiden Prabowo Subianto pada 16 Mei 2026 agar generasi muda menghadirkan inovasi dan solusi nyata melalui kedekatan dengan masyarakat serta kalangan akademisi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan pemerintah dalam menerjemahkan hasil kajian menjadi kebijakan yang tepat sasaran.
AHY menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta pada 30 Juli 2026. Ia menilai data empiris dari lapangan dapat menjadi landasan penting dalam penyusunan kebijakan yang efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga mendorong peserta Ekspedisi Patriot untuk bekerja maksimal dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
Melalui penerapan biochar, program pendampingan di Selaparang berpotensi memperkuat praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Namun, keberlanjutan manfaatnya tetap membutuhkan penerapan yang konsisten, pendampingan yang memadai, serta evaluasi terhadap hasil penggunaan di lahan petani.











Komentar