Sisipublik.com – Deteksi Gula Darah Tanpa Jarum menjadi salah satu inovasi yang terus di kembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menjawab kebutuhan pemantauan glukosa yang lebih nyaman. BRIN menghadirkan teknologi yang mampu mendeteksi kadar glukosa secara noninvasif, cepat, dan berlangsung secara real-time, melalui sensor berbasis Surface Plasmon Resonance (SPR).
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Fotonika BRIN, Lia Aprilia, memaparkan perkembangan teknologi sensor yang memanfaatkan karakteristik optoelektronik dengan tingkat sensitivitas tinggi.
Deteksi Gula Darah Tanpa Jarum Menjawab Tantangan Diabetes
Deteksi Gula Darah Tanpa Jarum menjadi semakin penting seiring meningkatnya jumlah penyandang diabetes di berbagai negara. Lia menjelaskan bahwa glukosa merupakan sumber energi utama tubuh dengan kadar normal sekitar 80–120 mg/dL.
Menurut Lia, metode pemeriksaan glukosa yang banyak di gunakan saat ini masih memerlukan pengambilan sampel darah. Proses tersebut sering menimbulkan rasa tidak nyaman dan membutuhkan waktu sebelum hasil analisis tersedia. Oleh sebab itu, BRIN mengembangkan pendekatan baru yang lebih praktis untuk mendukung pemantauan kesehatan sehari-hari.
Sensor SPR Hadirkan Pemantauan Glukosa Lebih Cepat
Sensor Surface Plasmon Resonance (SPR) bekerja dengan mendeteksi perubahan indeks bias yang muncul akibat interaksi biomolekul pada permukaan logam tipis. Teknologi ini menawarkan sensitivitas tinggi tanpa memerlukan pelabelan tambahan atau label-free, sehingga mampu mengamati interaksi biomolekul secara langsung dalam waktu nyata.
Selanjutnya, prinsip kerja tersebut memungkinkan sensor mengenali perubahan biomolekul secara presisi. Kemampuan itu membuka peluang besar untuk menghadirkan perangkat pemantauan glukosa generasi baru yang lebih praktis di gunakan masyarakat.
Lia menilai teknologi SPR berpotensi menjadi platform sensor glukosa yang memberikan hasil akurat sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna. Bahkan, pengembang dapat mengintegrasikan sensor tersebut ke berbagai perangkat kesehatan untuk mendukung pemantauan kondisi tubuh secara rutin.
Perkuat Riset Nasional di Bidang Fotonika dan Biosensor
Pengembangan sensor SPR juga memperkuat kapasitas riset nasional di bidang fotonika dan biosensor. Melalui inovasi ini, BRIN tidak hanya berupaya menghadirkan perangkat diagnostik yang lebih efektif, tetapi juga memperluas peluang lahirnya teknologi kesehatan berbasis penelitian dalam negeri.
Di sisi lain, teknologi tersebut berpotensi mendukung layanan kesehatan yang lebih efisien, mudah di akses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Harapannya, penyandang diabetes dapat memperoleh solusi pemantauan glukosa yang lebih nyaman sehingga kualitas hidup mereka terus meningkat.
Forum Ilmiah Percepat Kolaborasi Peneliti
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi, menegaskan pentingnya forum ilmiah sebagai wadah pertukaran pengetahuan antarpeneliti. Menurutnya, kegiatan seperti ORNAMAT mampu memperluas wawasan mengenai perkembangan riset sekaligus mendorong kolaborasi dalam pengembangan teknologi kesehatan.
Lebih lanjut, ia berharap forum tersebut mempercepat pemanfaatan inovasi Surface Plasmon Resonance untuk deteksi glukosa dan berbagai aplikasi kesehatan lainnya. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, BRIN optimistis inovasi teknologi kesehatan nasional dapat berkembang lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (j/*)










Komentar