KDKMP Banyumas Mulai Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Avtur Pertamina

- Jurnalis

Minggu, 1 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Program pengumpulan minyak jelantah melalui empat KDKMP di Banyumas menjadi proyek percontohan kerja sama Kementerian Koperasi dan Pertamina untuk mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (foto: kementerian koperasi)

Program pengumpulan minyak jelantah melalui empat KDKMP di Banyumas menjadi proyek percontohan kerja sama Kementerian Koperasi dan Pertamina untuk mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (foto: kementerian koperasi)

Sisipublik.com – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mulai mengembangkan usaha pengumpulan minyak jelantah setelah Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan PT Pertamina (Persero) meluncurkan proyek percontohan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026).

Program pengumpulan minyak jelantah KDKMP tersebut melibatkan empat koperasi sebagai titik awal pengembangan usaha ekonomi hijau. Melalui skema ini, koperasi menghimpun minyak bekas memasak dari masyarakat dan pelaku usaha untuk memasok kebutuhan bahan baku energi ramah lingkungan.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, kerja sama tersebut membuka peluang usaha baru bagi koperasi sekaligus mendorong masyarakat mengelola limbah rumah tangga secara lebih produktif. Pemerintah juga menyiapkan proyek percontohan ini sebagai model pengembangan di berbagai daerah.

“Ini bisa menjadi model yang bisa digunakan di seluruh KDKMP di seluruh Indonesia,” kata Ferry.

Pengumpulan Minyak Jelantah KDKMP Buka Peluang Ekonomi Hijau

Dalam skema bisnis tersebut, KDKMP bertindak sebagai pengepul resmi yang membeli atau menghimpun minyak jelantah dari masyarakat. Selanjutnya, koperasi menyalurkan bahan baku tersebut kepada PT Pertamina Patra Niaga untuk diproses di fasilitas pengolahan Pertamina.

Hasil pengolahannya berpotensi menjadi sustainable aviation fuel (SAF), yakni bahan bakar penerbangan berkelanjutan berbasis bahan baku terbarukan. Produk tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung pengurangan penggunaan bahan bakar fosil di sektor penerbangan.

Ferry menjelaskan, pemerintah merancang skema ini agar memberikan manfaat ekonomi bagi anggota koperasi. Dengan demikian, minyak jelantah yang sebelumnya menjadi limbah dapat menghasilkan pendapatan sekaligus membuka kegiatan usaha produktif di tingkat desa dan kelurahan.

Baca Juga :  Perusahaan Tidak Jalankan B50 Bakal Hadapi Sanksi, Pemerintah Awasi Masa Transisi Hingga Oktober 2026

Selain manfaat ekonomi, program ini juga menyasar persoalan pencemaran lingkungan. Ferry mengingatkan masyarakat agar tidak membuang minyak jelantah sembarangan karena limbah tersebut dapat mencemari sumber air dan lingkungan sekitar.

“Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana mengajak masyarakat agar punya kesadaran terhadap lingkungan hidup,” ujarnya.

Pertamina Siapkan Pengolahan Minyak Jelantah Menjadi SAF

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyambut kolaborasi tersebut sebagai bagian dari pengembangan inovasi energi ramah lingkungan. Menurutnya, Pertamina telah melakukan sejumlah pengujian untuk mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Simon menyebut Pertamina pernah menguji penerbangan menggunakan bahan bakar berbasis minyak jelantah pada pesawat CN235. Perusahaan kemudian melanjutkan pengujian bersama Garuda Indonesia.

Pada 2025, Pertamina juga melakukan uji penerbangan menggunakan avtur campuran SAF bersama Pelita Air untuk rute Jakarta-Denpasar pulang-pergi.

“Contoh yang sudah kami lakukan adalah di Pertamina kami sudah melakukan uji terbang beberapa tahun yang lalu dengan pesawat CN235, setelah itu dengan maskapai Garuda Indonesia, dan pada tahun 2025 kami sudah melakukan uji terbang dengan avtur yang telah kami campur untuk maskapai Pelita Air dari Jakarta menuju Denpasar dan Denpasar kembali ke Jakarta,” ujar Simon.

Baca Juga :  Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Jadi Langkah Baru PLN EPI Perkuat Energi Hijau Nasional

Melalui kerja sama dengan empat KDKMP di Banyumas, Pertamina berharap memperoleh pasokan bahan baku minyak jelantah secara lebih terorganisasi. Perusahaan merencanakan penyaluran bahan baku tersebut ke kilang Pertamina Cilacap untuk mendukung pengembangan produksi SAF.

Simon menegaskan, Pertamina akan terus menyempurnakan skema kerja sama agar pengumpulan minyak jelantah menghasilkan produk bernilai tambah.

Banyumas Jadi Lokasi Percontohan Pengumpulan Minyak Jelantah

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyambut penunjukan daerahnya sebagai lokasi proyek percontohan. Menurutnya, Banyumas memiliki potensi pasokan minyak jelantah yang besar karena aktivitas wisata kuliner dan usaha makanan berkembang di wilayah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Banyumas menyatakan siap mendukung pelaksanaan program melalui empat KDKMP yang terlibat. Sadewo berharap koperasi di daerahnya dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengembangkan usaha pengumpulan limbah minyak goreng.

Sementara itu, Kemenkop mendorong pembentukan ekosistem pengumpulan yang melibatkan rumah tangga, warung makan, restoran, industri kecil, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Melalui kampanye “Jelantah Jadi Berkah: Koperasi Menggerakkan Kesejahteraan Rakyat melalui Ekonomi Hijau”, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat menyalurkan minyak jelantah melalui koperasi.

Jika model bisnis ini berjalan efektif, KDKMP berpeluang memperluas sumber pendapatan sekaligus mengambil peran dalam rantai pasok energi terbarukan nasional. Namun, keberlanjutan program tetap bergantung pada konsistensi pasokan, tata kelola pengumpulan, serta kelayakan ekonomi bagi koperasi dan masyarakat.

Berita Terkait

Peternak Ayam Parigi Moutong Dibekali Keterampilan untuk Perkuat Ekonomi Desa
Pemerintah Perkuat Cadangan Energi, Storage Minyak 60 Hari dan Bioetanol E20 Disiapkan
Kemendag Bidik Pasar Kanada, 200 UMKM Kerajinan Disiapkan Perluas Ekspor hingga 2030
Budaya Produksi Halal Perlu Mengakar, Kemenag Dorong Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Pabrik Baterai CATL-Antam Mulai Produksi, Pemerintah Siapkan Peresmian 1.413 Titik Listrik Desa
Tenant F&B IYS 2026 Buka Peluang Belajar dan Perluas Jejaring Bisnis Anak Muda
Standardisasi Mutu Beras Oransbari Jadi Kunci Menembus Pasar Premium
Wamendag Roro Tekankan Riset Pasar untuk Perluas Ekspor Produk Kreatif Indonesia
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 06:00 WIB

Peternak Ayam Parigi Moutong Dibekali Keterampilan untuk Perkuat Ekonomi Desa

Rabu, 4 November 2026 - 23:00 WIB

Pemerintah Perkuat Cadangan Energi, Storage Minyak 60 Hari dan Bioetanol E20 Disiapkan

Rabu, 4 November 2026 - 06:00 WIB

Kemendag Bidik Pasar Kanada, 200 UMKM Kerajinan Disiapkan Perluas Ekspor hingga 2030

Senin, 2 November 2026 - 15:00 WIB

Budaya Produksi Halal Perlu Mengakar, Kemenag Dorong Tanggung Jawab Pelaku Usaha

Minggu, 1 November 2026 - 22:00 WIB

KDKMP Banyumas Mulai Kumpulkan Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Avtur Pertamina

Berita Terbaru