Sisipublik.com – Konservasi lahan miring untuk budidaya kunyit menjadi salah satu langkah yang diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna menjaga kesuburan tanah, mengurangi erosi, dan mempertahankan ketersediaan air di tengah perubahan iklim. Upaya ini penting agar petani dapat menjaga produktivitas tanaman sekaligus melindungi lahan pertanian dalam jangka panjang.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Biota (PRSB) BRIN, Trimanto, menjelaskan bahwa lahan miring menghadapi risiko kehilangan lapisan tanah subur ketika hujan mengalir deras mengikuti lereng. Kondisi tersebut dapat membawa unsur hara, mengurangi kelembapan tanah, dan menghambat perkembangan rimpang kunyit.
Konservasi lahan miring untuk budidaya kunyit melalui lima teknik
Dalam bimbingan teknis penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk komoditas kunyit di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada 20 Oktober 2026, Trimanto memperkenalkan lima pendekatan konservasi tanah dan air yang dapat petani sesuaikan dengan karakteristik lahan.
Pertama, penanaman mengikuti garis kontur. Petani menyusun barisan tanaman melintang terhadap arah lereng pada ketinggian yang relatif sama. Pola ini membantu memperlambat aliran air hujan dan memberi waktu bagi air untuk meresap ke dalam tanah.
Kedua, pembuatan guludan dan teras. Teknik ini membantu mengendalikan aliran permukaan serta mengurangi kekuatan air yang bergerak menuruni lereng. Namun, petani perlu mempertimbangkan kestabilan tanah dan kondisi lereng sebelum membangun teras atau saluran air agar tidak meningkatkan risiko longsor.
Ketiga, penambahan bahan organik. Kompos matang, pupuk kandang, dan sisa tanaman yang sesuai dapat memperbaiki struktur tanah serta membantu mempertahankan kelembapan. Selain itu, bahan organik mendukung aktivitas organisme tanah yang berperan dalam menjaga kesuburan lahan.
Keempat, penggunaan mulsa organik. Petani dapat menutup permukaan tanah menggunakan jerami, rumput kering, atau daun. Lapisan tersebut membantu mengurangi penguapan, meredam pukulan air hujan, menekan pertumbuhan gulma, dan mengurangi risiko erosi.
Kelima, pembuatan rorak atau lubang resapan. Teknik ini membantu menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah atau tersimpan secara terkendali. Dengan pengelolaan yang tepat, air tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan tanaman ketika curah hujan berkurang.
Pemilihan lahan menentukan keberhasilan budidaya kunyit
Selain menerapkan konservasi, petani perlu memeriksa kondisi lahan sebelum memulai budidaya. Trimanto menekankan pentingnya mempertimbangkan kestabilan lereng, kedalaman dan jenis tanah, pola aliran air, potensi erosi, serta ketersediaan sumber air.
Kunyit (Curcuma longa L.) tumbuh baik pada tanah gembur, subur, memiliki drainase yang baik, dan tidak mudah tergenang. Kondisi tanah yang sesuai mendukung perkembangan akar serta pembentukan rimpang sebagai bagian utama tanaman yang dipanen.
Sebaliknya, hujan berintensitas tinggi dapat meningkatkan limpasan dan mengikis lapisan tanah bagian atas. Saat kemarau, kekurangan air juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Karena itu, pengelolaan tanah dan air perlu menjadi bagian dari perencanaan budidaya sejak awal.
Adaptasi perubahan iklim membutuhkan pengelolaan air
Perubahan pola hujan menambah tantangan bagi petani kunyit. Kekeringan dapat mengurangi ketersediaan air, sedangkan hujan berlebihan dapat menyebabkan genangan dan meningkatkan risiko pembusukan rimpang.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, petani dapat mengatur irigasi dan drainase, menggunakan mulsa untuk mempertahankan kelembapan tanah, serta menyesuaikan waktu tanam dengan pola cuaca setempat. Pemilihan bibit sehat dan penggunaan bahan tanam yang sesuai juga mendukung pertumbuhan tanaman.
Selain itu, petani perlu menjaga kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah melalui bahan organik, serta menerapkan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Pengamatan tanaman dan kondisi lingkungan secara berkala membantu petani mendeteksi gangguan lebih awal.
Trimanto menilai perencanaan kalender tanam, pemantauan risiko iklim, dan pemanfaatan teknologi pendukung dapat membantu petani menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi setempat.
Produktivitas pertanian perlu sejalan dengan kelestarian tanah
Menurut Trimanto, keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari tampilan tanaman yang hijau dan subur. Petani juga perlu memantau berkurangnya tanah yang hanyut, kondisi genangan, kelembapan tanah, serta kesehatan dan pertumbuhan tanaman.
Di sisi lain, penerapan teknik konservasi perlu mempertimbangkan biaya, tenaga kerja, dan waktu. Dengan begitu, petani dapat memilih metode yang sesuai dengan kemampuan serta kondisi lahan tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha pertanian.
Melalui pendekatan tersebut, BRIN mendorong pengelolaan budidaya kunyit yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjaga sumber daya tanah dan air agar tetap mendukung produksi pertanian dalam jangka panjang.











Komentar