Konservasi Lahan Miring Jadi Kunci BRIN Jaga Produktivitas Kunyit di Tengah Perubahan Iklim

- Jurnalis

Minggu, 25 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Petani dapat menerapkan penanaman mengikuti garis kontur, mulsa organik, dan pengelolaan air untuk menjaga kesuburan lahan budidaya kunyit (Ilustrasi AI: sisipublik.com)

Petani dapat menerapkan penanaman mengikuti garis kontur, mulsa organik, dan pengelolaan air untuk menjaga kesuburan lahan budidaya kunyit (Ilustrasi AI: sisipublik.com)

Sisipublik.com – Konservasi lahan miring untuk budidaya kunyit menjadi salah satu langkah yang diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna menjaga kesuburan tanah, mengurangi erosi, dan mempertahankan ketersediaan air di tengah perubahan iklim. Upaya ini penting agar petani dapat menjaga produktivitas tanaman sekaligus melindungi lahan pertanian dalam jangka panjang.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Biota (PRSB) BRIN, Trimanto, menjelaskan bahwa lahan miring menghadapi risiko kehilangan lapisan tanah subur ketika hujan mengalir deras mengikuti lereng. Kondisi tersebut dapat membawa unsur hara, mengurangi kelembapan tanah, dan menghambat perkembangan rimpang kunyit.

Konservasi lahan miring untuk budidaya kunyit melalui lima teknik

Dalam bimbingan teknis penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk komoditas kunyit di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada 20 Oktober 2026, Trimanto memperkenalkan lima pendekatan konservasi tanah dan air yang dapat petani sesuaikan dengan karakteristik lahan.

Pertama, penanaman mengikuti garis kontur. Petani menyusun barisan tanaman melintang terhadap arah lereng pada ketinggian yang relatif sama. Pola ini membantu memperlambat aliran air hujan dan memberi waktu bagi air untuk meresap ke dalam tanah.

Kedua, pembuatan guludan dan teras. Teknik ini membantu mengendalikan aliran permukaan serta mengurangi kekuatan air yang bergerak menuruni lereng. Namun, petani perlu mempertimbangkan kestabilan tanah dan kondisi lereng sebelum membangun teras atau saluran air agar tidak meningkatkan risiko longsor.

Ketiga, penambahan bahan organik. Kompos matang, pupuk kandang, dan sisa tanaman yang sesuai dapat memperbaiki struktur tanah serta membantu mempertahankan kelembapan. Selain itu, bahan organik mendukung aktivitas organisme tanah yang berperan dalam menjaga kesuburan lahan.

Baca Juga :  RCBO Gantikan MCB, Pemerintah Siapkan Standar Baru Pengaman Instalasi Listrik

Keempat, penggunaan mulsa organik. Petani dapat menutup permukaan tanah menggunakan jerami, rumput kering, atau daun. Lapisan tersebut membantu mengurangi penguapan, meredam pukulan air hujan, menekan pertumbuhan gulma, dan mengurangi risiko erosi.

Kelima, pembuatan rorak atau lubang resapan. Teknik ini membantu menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah atau tersimpan secara terkendali. Dengan pengelolaan yang tepat, air tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan tanaman ketika curah hujan berkurang.

Pemilihan lahan menentukan keberhasilan budidaya kunyit

Selain menerapkan konservasi, petani perlu memeriksa kondisi lahan sebelum memulai budidaya. Trimanto menekankan pentingnya mempertimbangkan kestabilan lereng, kedalaman dan jenis tanah, pola aliran air, potensi erosi, serta ketersediaan sumber air.

Kunyit (Curcuma longa L.) tumbuh baik pada tanah gembur, subur, memiliki drainase yang baik, dan tidak mudah tergenang. Kondisi tanah yang sesuai mendukung perkembangan akar serta pembentukan rimpang sebagai bagian utama tanaman yang dipanen.

Sebaliknya, hujan berintensitas tinggi dapat meningkatkan limpasan dan mengikis lapisan tanah bagian atas. Saat kemarau, kekurangan air juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Karena itu, pengelolaan tanah dan air perlu menjadi bagian dari perencanaan budidaya sejak awal.

Adaptasi perubahan iklim membutuhkan pengelolaan air

Perubahan pola hujan menambah tantangan bagi petani kunyit. Kekeringan dapat mengurangi ketersediaan air, sedangkan hujan berlebihan dapat menyebabkan genangan dan meningkatkan risiko pembusukan rimpang.

Baca Juga :  Biaya Perawatan Baterai Mobil EV dan Hybrid, Ini Kisaran yang Perlu Disiapkan

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, petani dapat mengatur irigasi dan drainase, menggunakan mulsa untuk mempertahankan kelembapan tanah, serta menyesuaikan waktu tanam dengan pola cuaca setempat. Pemilihan bibit sehat dan penggunaan bahan tanam yang sesuai juga mendukung pertumbuhan tanaman.

Selain itu, petani perlu menjaga kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah melalui bahan organik, serta menerapkan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Pengamatan tanaman dan kondisi lingkungan secara berkala membantu petani mendeteksi gangguan lebih awal.

Trimanto menilai perencanaan kalender tanam, pemantauan risiko iklim, dan pemanfaatan teknologi pendukung dapat membantu petani menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi setempat.

Produktivitas pertanian perlu sejalan dengan kelestarian tanah

Menurut Trimanto, keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari tampilan tanaman yang hijau dan subur. Petani juga perlu memantau berkurangnya tanah yang hanyut, kondisi genangan, kelembapan tanah, serta kesehatan dan pertumbuhan tanaman.

Di sisi lain, penerapan teknik konservasi perlu mempertimbangkan biaya, tenaga kerja, dan waktu. Dengan begitu, petani dapat memilih metode yang sesuai dengan kemampuan serta kondisi lahan tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha pertanian.

Melalui pendekatan tersebut, BRIN mendorong pengelolaan budidaya kunyit yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjaga sumber daya tanah dan air agar tetap mendukung produksi pertanian dalam jangka panjang.

Berita Terkait

Radio HF Jadi Andalan Komunikasi Darurat saat Jaringan Seluler dan Satelit Terganggu
Biochar Selaparang Ubah Limbah Jagung Menjadi Penyubur Tanah
Daur Ulang Limbah Panel Surya, BRIN Kembangkan Teknologi Pemulihan Silikon
Cek Garansi iPhone Sebelum Membeli, Ini Cara Memastikan Status Perlindungannya
Cara Cek WiFi Rumah Dipakai Orang Lain dan Memblokir Perangkat Asing
Teknologi PVT BRIN Manfaatkan Panas Panel Surya untuk Pengeringan Hasil Panen
Biogas dari Kotoran Sapi Bantu Warga Manokwari Selatan Atasi Kelangkaan Minyak Tanah
Dual Monitor Bantu Pangkas Perpindahan Jendela Saat Kerja di Laptop dan PC
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Konservasi Lahan Miring Jadi Kunci BRIN Jaga Produktivitas Kunyit di Tengah Perubahan Iklim

Minggu, 25 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Radio HF Jadi Andalan Komunikasi Darurat saat Jaringan Seluler dan Satelit Terganggu

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Biochar Selaparang Ubah Limbah Jagung Menjadi Penyubur Tanah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Daur Ulang Limbah Panel Surya, BRIN Kembangkan Teknologi Pemulihan Silikon

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Cek Garansi iPhone Sebelum Membeli, Ini Cara Memastikan Status Perlindungannya

Berita Terbaru

Tim Ekspedisi Patriot ITS mendampingi kelompok tani di Kawasan Transmigrasi Selaparang, Lombok Timur, dalam pemanfaatan limbah pertanian menjadi biochar (foto: kementerian transmigrasi)

Teknologi

Biochar Selaparang Ubah Limbah Jagung Menjadi Penyubur Tanah

Sabtu, 24 Okt 2026 - 16:45 WIB