Sisipublik.com – Riki Rhino kembali menunjukkan potensi animasi lokal dalam menggabungkan isu konservasi dengan pengembangan kekayaan intelektual (IP) Indonesia. Melalui sekuel Riki Rhino: Kerajaan Burung, pengembangnya membawa cerita tentang satwa dan lingkungan Indonesia ke pasar yang lebih luas.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) melihat perkembangan waralaba tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat industri film dan animasi nasional. Film produksi PT Putra Sentosa Karya Gemilang bersama Batavia Pictures itu seluruhnya dikembangkan dan diproduksi di Indonesia.
Riki Rhino Gabungkan Konservasi dan Pengembangan IP
Riki Rhino menjadikan Badak Sumatera sebagai salah satu unsur penting dalam pengembangan ceritanya. Wakil Menteri Ekraf Irene Umar mengatakan film animasi dapat menjalankan fungsi hiburan sekaligus membawa pesan konservasi dan membuka peluang pengembangan IP lokal.
Menurut Irene, penggarapan Riki Rhino: Kerajaan Burung juga menunjukkan kemampuan pelaku animasi Indonesia mengolah isu lokal menjadi cerita yang memiliki relevansi lebih luas.
Pengembangan karakter dalam waralaba ini menggunakan riset faktual. Tim kreatif melakukan observasi langsung di Sumatran Rhino Sanctuary, Taman Nasional Way Kambas, untuk memperkuat unsur cerita sekaligus menghadirkan pesan mengenai pelestarian keanekaragaman hayati.
Perjalanan Riki Rhino Menuju Pasar Internasional
Selain membawa isu lingkungan, waralaba Riki Rhino telah memperlihatkan peluang IP animasi Indonesia untuk menjangkau penonton internasional. Film pertamanya yang rilis pada 2020 mencatat 45.145 penonton bioskop.
Pada tahun yang sama, film tersebut mendapat distribusi di Inggris, Amerika Latin, Afrika, Turki, dan Malaysia. Karya itu kemudian hadir melalui sejumlah platform video-on-demand internasional.
Sementara itu, Riki Rhino: Kerajaan Burung telah memperoleh penayangan terbatas di Timur Tengah dan Turki pada 2024. Setahun kemudian, versi sulih suara bahasa Inggris hadir di Amerika Serikat dan Kanada. Film tersebut selanjutnya dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 2027.
Pertumbuhan Industri Animasi Membuka Peluang IP Lokal
Perkembangan Riki Rhino berlangsung ketika subsektor film, animasi, dan video menunjukkan pertumbuhan ekonomi. Data Kementerian Investasi/BKPM dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDB subsektor tersebut meningkat dari Rp10,1 triliun pada 2023 menjadi Rp11,87 triliun pada 2024.
Selain itu, jumlah tenaga kerja juga bertambah dari 284.536 orang pada 2024 menjadi 328.661 orang pada 2025. Realisasi investasi naik dari Rp1,5 triliun pada 2024 menjadi Rp2,14 triliun pada 2025.
Data tersebut menunjukkan semakin besarnya ruang ekonomi bagi pengembangan karya kreatif, termasuk animasi dan IP lokal. Karena itu, pengembangan karakter yang memiliki identitas Indonesia dapat menjadi salah satu jalur untuk memperluas nilai ekonomi karya kreatif ke pasar internasional.
Dalam sekuel terbarunya, Riki dan Beni dikisahkan melakukan perjalanan dari Kalimantan menuju Papua untuk menyelamatkan ekosistem pesisir dari ancaman tsunami. Dengan latar tersebut, film memperluas pesan lingkungan sekaligus mempertahankan identitas lokal dalam cerita yang menyasar audiens global.
Pemutaran terbatas Riki Rhino: Kerajaan Burung berlangsung di Ashta District 8, Jakarta, Senin (5/10). Kegiatan tersebut dihadiri Direktur PT Putra Sentosa Karya Gemilang Joni Yuwono serta produser Genesis Timotius dan Lukman Hakim. Irene Umar hadir bersama Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekraf Doni Setiawan.











Komentar