Sisipublik.com – Kinerja pertanian menjadi salah satu indikator yang mengantarkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke posisi teratas dalam Government Performance Assessment yang dirilis IndexPolitica Indonesia pada September 2026. Amran meraih skor 91, tertinggi di antara 10 menteri yang masuk dalam pemeringkatan tersebut.
Penilaian itu menggunakan pendekatan berbasis bukti melalui metode Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA). IndexPolitica menyatakan evaluasi tersebut mengukur capaian yang dapat diukur dan diverifikasi, bukan popularitas maupun tingkat pemberitaan seorang menteri.
Kinerja pertanian menjadi dasar penilaian
Kinerja pertanian mendapat sorotan karena sejumlah indikator produksi dan ekonomi menunjukkan penguatan dalam dua tahun terakhir. Salah satunya terlihat dari produksi beras nasional 2025 yang mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibandingkan 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling. Setelah dikonversi, produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 34,69 juta ton.
Selain produksi pangan, kinerja pertanian juga tercermin dari peningkatan indikator kesejahteraan petani. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional mencapai 129,19 pada Agustus 2026, naik 1,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, Kementerian Pertanian mencatat pertumbuhan PDB sektor pertanian sepanjang 2025 mencapai 5,74 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang memperkuat kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional.
Penilaian berbeda dari survei kepuasan publik
Hasil IndexPolitica juga memperpanjang catatan positif Amran dari penilaian lembaga berbeda. Dalam survei Indikator Politik Indonesia pada Oktober 2025, Amran memperoleh tingkat kepuasan publik 84,9 persen, tertinggi di antara pejabat yang masuk dalam daftar tersebut.
Namun, kedua penilaian tersebut menggunakan pendekatan berbeda. Indikator Politik mengukur kepuasan masyarakat terhadap kinerja pejabat, sedangkan IndexPolitica menggunakan evaluasi berbasis capaian kebijakan dan indikator yang dapat diverifikasi. Karena itu, skor 91 dari IndexPolitica tidak dapat disamakan dengan tingkat kepuasan publik 84,9 persen.
Founder dan Peneliti Senior IndexPolitica Indonesia Denny Charter menegaskan bahwa evaluasi lembaganya berfokus pada hasil kerja, bukan popularitas. Dengan pendekatan tersebut, paparan media tidak otomatis menentukan posisi seorang menteri.
Capaian pangan menopang agenda swasembada
Peningkatan produksi beras menjadi salah satu capaian penting sektor pertanian dalam periode tersebut. BPS mencatat produksi beras 2025 meningkat 4,07 juta ton dibandingkan 2024.
Pemerintah kemudian menjadikan peningkatan produksi pangan sebagai bagian dari agenda swasembada. Kementerian Pertanian juga menempatkan penguatan produksi, perlindungan petani, serta stabilitas pangan sebagai bagian dari kebijakan sektor pertanian.
Pada saat yang sama, pemerintah mempertahankan sejumlah kebijakan untuk memperkuat posisi petani. Kebijakan tersebut antara lain penyederhanaan aturan pupuk bersubsidi dan penetapan harga pembelian gabah petani.
Dengan demikian, posisi Amran dalam penilaian IndexPolitica tidak hanya berkaitan dengan skor pemeringkatan menteri. Capaian produksi pangan, pertumbuhan sektor pertanian, dan indikator kesejahteraan petani menjadi konteks penting untuk membaca hasil evaluasi tersebut.
Kementerian Pertanian menyatakan akan melanjutkan program swasembada pangan sebagai bagian dari agenda ketahanan dan kemandirian pangan nasional.











Komentar