Bisnis Hidrogen Diproyeksikan Makin Menjanjikan di Era Energi Bersih

- Jurnalis

Kamis, 6 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Bisnis Hidrogen Diproyeksikan Makin Menjanjikan di Era Energi Bersih

Ilustrasi - Bisnis Hidrogen Diproyeksikan Makin Menjanjikan di Era Energi Bersih

Sisipublik.com – Bisnis hidrogen berpeluang tumbuh pesat seiring percepatan transisi energi menuju ekonomi rendah karbon. Hidrogen dapat berperan sebagai pembawa energi untuk mendukung pengurangan emisi di berbagai sektor.

Pemanfaatannya mencakup pembangkit listrik, industri, hingga transportasi. Karena itu, perkembangan teknologi dan kebijakan energi bersih membuka ruang yang semakin besar bagi industri hidrogen di masa mendatang.

Bisnis Hidrogen Mulai Mendapat Perhatian Lebih Besar

Chief Operating Officer Pasifik Gas Indonesia, Adryan Malindra, mengatakan bisnis hidrogen memiliki prospek yang sangat besar. Menurutnya, Indonesia sebenarnya sudah memanfaatkan hidrogen sejak lama, meski penggunaannya masih banyak mengandalkan grey hydrogen dari gas alam.

Sementara itu, penggunaan green hydrogen mulai berkembang, termasuk untuk kebutuhan pembangkit listrik. Adryan memperkirakan pemanfaatan hidrogen hijau akan semakin luas dalam beberapa tahun mendatang.

“Prospek bisnis hidrogen sebenarnya akan sangat masif,” ujar Adryan dalam siaran wawancara yang dikutip pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah negara yang lebih maju dalam transisi energi telah memasukkan hidrogen hijau sebagai bagian dari sistem energi bersih. Kondisi tersebut menunjukkan peluang pengembangan industri hidrogen masih terbuka luas.

Green hydrogen sendiri menghasilkan hidrogen melalui proses elektrolisis air. Proses tersebut menggunakan listrik untuk memisahkan hidrogen dan oksigen dari air.

Menurut Adryan, teknologi itu berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Penggunaannya terutama berpeluang berkembang pada sektor transportasi dan industri yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Selain itu, hidrogen juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi sebagian penggunaan gas alam.

Listrik Murah Menjadi Kunci Produksi Hidrogen Hijau

Meski menawarkan peluang besar, pengembangan hidrogen hijau tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu faktor terpenting berkaitan dengan ketersediaan listrik dengan biaya yang kompetitif. Pasalnya, biaya listrik ikut menentukan harga produksi green hydrogen. Semakin efisien sumber listrik yang digunakan, semakin besar peluang hidrogen hijau bersaing dengan sumber energi lainnya.

Baca Juga :  Koperasi BKMT Diproyeksikan Jadi Simpul Ekonomi Umat hingga Desa

Selain listrik, Indonesia juga perlu memperkuat infrastruktur pendukung. Jaringan pipa dan moda transportasi khusus dapat membantu distribusi hidrogen dari lokasi produksi menuju pengguna. Adryan menilai pemerintah juga memegang peran penting dalam membangun ekosistem tersebut. Regulasi yang jelas dan pemberian insentif dapat mendorong pelaku usaha memperluas investasi pada sektor hidrogen.

“Di negara-negara maju, perkembangan hidrogen dalam lima tahun terakhir didorong sangat kuat oleh regulasi dan insentif pemerintah,” katanya.

Indonesia Mulai Membangun Ekosistem Hidrogen

Indonesia mulai mempercepat pengembangan hidrogen dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menyiapkan berbagai regulasi untuk mendukung pemanfaatan energi tersebut.

Pada saat yang sama, sejumlah badan usaha milik negara juga menjalankan proyek percontohan. Berbagai proyek itu menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem hidrogen nasional. Menurut Adryan, perkembangan tersebut menunjukkan industri hidrogen mulai memperoleh ruang di Indonesia. Namun, pemanfaatan dalam skala luas masih membutuhkan waktu dan dukungan berbagai pihak.

Ia melihat transportasi sebagai salah satu sektor yang memiliki peluang besar. Kendati demikian, hidrogen tidak harus berhadapan langsung dengan kendaraan listrik berbasis baterai atau electric vehicle (EV). Adryan justru melihat kedua teknologi tersebut dapat saling melengkapi. Hidrogen dinilai lebih sesuai untuk kendaraan komersial yang membutuhkan jarak tempuh dan kapasitas angkut besar.

“Hidrogen bukan kompetitor EV, tetapi menjadi pelengkap,” ujarnya.

Ia mencontohkan China yang mulai mengembangkan kombinasi teknologi kendaraan listrik dan hidrogen. Pendekatan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan kendaraan dengan karakter penggunaan yang berbeda.

Baca Juga :  Harga Tiket GIIAS 2026 Resmi Berlaku, Simak Daftar Tarif hingga Merek Otomotif yang Hadir

Teknologi Makin Efisien, Biaya Produksi Berpotensi Turun

Indonesia juga memiliki pengalaman panjang dalam pemanfaatan hidrogen. Sejak dekade 1990-an, sejumlah pembangkit listrik telah menggunakan hidrogen, terutama untuk kebutuhan pendinginan.

Kini, perhatian terhadap hidrogen semakin meningkat karena teknologi tersebut memiliki potensi sebagai sumber energi rendah emisi. Perkembangan teknologi produksi juga turut membuka peluang baru bagi industri.

Adryan mengatakan biaya teknologi produksi hidrogen terus mengalami penurunan. Produksi massal, terutama di China, ikut mendorong harga teknologi menjadi semakin kompetitif. “Biaya teknologi terus turun. Dulu masih diproduksi secara terbatas, sekarang sudah memasuki tahap mass production,” jelasnya.

Selain teknologi elektrolisis, penurunan harga panel surya juga dapat membantu menekan biaya produksi green hydrogen. Listrik dari energi surya dapat menjadi salah satu sumber energi untuk menjalankan proses elektrolisis.

Dengan kondisi tersebut, pengembangan energi terbarukan dan teknologi hidrogen dapat berjalan beriringan. Keduanya dapat membantu menciptakan sumber energi yang lebih rendah emisi sekaligus mendukung proses transisi energi.

Pemerintah Perlu Perkuat Infrastruktur dan Insentif

Ke depan, Adryan berharap pemerintah terus memperjelas regulasi dan memperluas insentif untuk industri hidrogen. Pemerintah juga perlu mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung. Penyediaan listrik dengan harga kompetitif menjadi salah satu kebutuhan utama. Selain itu, pembangunan fasilitas distribusi dan stasiun pengisian hidrogen juga perlu mendapat perhatian.

Jika berbagai faktor tersebut berkembang secara bersamaan, ekosistem hidrogen nasional berpeluang tumbuh lebih cepat. Pada akhirnya, pengembangan tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendukung target dekarbonisasi Indonesia. (j/*)

Berita Terkait

Transaksi Emas Digital Tembus Rp299 Triliun, Bappebti Soroti Keamanan Investasi
Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin
Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja
Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha
BPDLH Kelola Dana Lingkungan USD1,3 Miliar, Menkeu Tekankan Transparansi dan Dampak
Ekspor Baterai Kendaraan Listrik Jadi Ujian Hilirisasi dan Tanggung Jawab Lingkungan
Menperin Sarmuji Dorong Sinkronisasi Kebijakan agar Industri Dalam Negeri Tumbuh Lebih Cepat
Ekspor Industri Mainan Naik, Kemenperin Dorong Produk Lokal Perluas Pasar Global
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:00 WIB

BPDLH Kelola Dana Lingkungan USD1,3 Miliar, Menkeu Tekankan Transparansi dan Dampak

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Ekspor Baterai Kendaraan Listrik Jadi Ujian Hilirisasi dan Tanggung Jawab Lingkungan

Berita Terbaru