Sisipublik.com – Sistem transportasi cerdas menjadi salah satu solusi yang terus berkembang seiring meningkatnya jumlah kendaraan dan tingginya mobilitas masyarakat. Kondisi tersebut memunculkan berbagai tantangan, mulai dari kemacetan, kecelakaan lalu lintas, hingga konsumsi energi yang semakin besar dan peningkatan emisi gas rumah kaca.
Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong pengembangan Intelligent Transportation System (ITS) atau sistem transportasi cerdas. Teknologi ini memadukan sistem transportasi dengan teknologi informasi, komunikasi, sensor, serta kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Galih Nugraha Nurkahfi, menjelaskan bahwa sistem transportasi cerdas yang ia kembangkan bersama tim mengintegrasikan sensor, komputasi, pelacakan telekomunikasi, dan kecerdasan buatan ke dalam infrastruktur transportasi maupun kendaraan.
Menurut Galih, sejumlah faktor mendorong pengembangan ITS. Selain tingginya mobilitas masyarakat dan kemacetan lalu lintas, aspek keselamatan jalan, efisiensi energi, keterbatasan infrastruktur, perkembangan teknologi, kebutuhan pasar, hingga kemajuan kendaraan otonom ikut memperkuat kebutuhan tersebut.
Sistem Transportasi Cerdas Manfaatkan Beragam Sensor
Selanjutnya, implementasi ITS memanfaatkan berbagai sensor yang terpasang di jalan dan kendaraan. Sensor tersebut meliputi deteksi kendaraan, kamera pengawas atau CCTV, sensor kecepatan, sensor kepadatan lalu lintas, sensor kualitas udara, sensor cuaca, sensor parkir, hingga sensor kebisingan.
Berbagai data yang terkumpul kemudian membantu pemantauan kondisi lalu lintas secara menyeluruh. Dengan demikian, pengelola transportasi dapat mengambil keputusan secara cepat dan lebih akurat.
Di sisi lain, kendaraan modern dan kendaraan otonom juga memanfaatkan teknologi sensor yang semakin canggih. LiDAR, radar, kamera, sensor ultrasonik, GPS, serta Inertial Measurement Unit (IMU) bekerja secara bersamaan untuk mengenali lingkungan sekitar, mendeteksi objek, menentukan posisi kendaraan, serta mendukung navigasi otomatis.
Galih menegaskan bahwa integrasi berbagai sensor tersebut menjadi fondasi penting dalam menghadirkan kendaraan tanpa pengemudi yang aman dan andal.
Sistem Transportasi Cerdas Didukung Komputasi Modern
Selain sensor, perkembangan ITS mendapat dukungan dari teknologi komputasi terkini. Mobile Edge Computing (MEC) memungkinkan pemrosesan data berlangsung dekat dengan sumber informasi sehingga sistem dapat merespons kondisi lalu lintas secara real time.
Sementara itu, teknologi cloud computing menyediakan kapasitas penyimpanan dan analisis data dalam jumlah besar. Kemampuan tersebut mendukung perencanaan transportasi jangka panjang sekaligus memperkuat pengembangan model kecerdasan buatan.
Melalui pengembangan ini, BRIN ingin menghadirkan sistem transportasi yang lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan. Selain itu, teknologi tersebut juga mendukung mobilitas masyarakat secara berkelanjutan.
Galih menilai sinergi antara teknologi sensor, komputasi, kecerdasan buatan, dan data science menjadi faktor utama dalam membangun ekosistem transportasi masa depan.
Ekosistem tersebut tidak hanya cerdas dan saling terhubung, tetapi juga mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan global. Dengan demikian, sistem transportasi masa depan dapat menghadirkan layanan yang lebih efisien dan mendukung kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. (j/*)










Komentar