Sisipublik.com – Populasi Banteng Jawa di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa), Jawa Barat, bertambah menjadi tujuh ekor setelah seekor anak banteng jantan lahir pada Selasa malam, 27 Oktober 2026. Kelahiran ini menjadi perkembangan penting bagi program pemulihan populasi satwa dilindungi di Cagar Alam Pananjung Pangandaran.
Anak banteng tersebut lahir sekitar pukul 22.23 WIB dari induk betina bernama Bindi dan pejantan Senta. Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengumumkan kelahiran itu pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Kelahiran ketiga Banteng Jawa di Purbajapa ini menunjukkan adanya perkembangan dalam program pengembangbiakan semi-alami. Namun, keberlanjutan program tetap bergantung pada pemantauan kesehatan satwa, pengelolaan habitat, dan perlindungan populasi dalam jangka panjang.
Kelahiran Ketiga Banteng Jawa di Purbajapa
Tim Purbajapa mencatat dua kelahiran sebelumnya pada 2025. Anak pertama lahir dari induk Uchi pada 27 Juli 2025, sedangkan anak kedua lahir dari Bindi pada 7 Agustus 2025.
Selanjutnya, tim mencatat perkawinan Bindi dan Senta pada 5 Januari 2026. Petugas kemudian memantau perkembangan kebuntingan secara berkala hingga kelahiran anak banteng ketiga pada akhir Oktober 2026.
Dengan demikian, jumlah Banteng Jawa di Purbajapa kini mencapai tujuh ekor. Populasi ini berkembang dari empat individu yang dilepasliarkan saat Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meresmikan pusat reintroduksi tersebut pada 11 Desember 2024.
Purbajapa Pulihkan Keberadaan Banteng Jawa di Pananjung
Program reintroduksi ini bertujuan memulihkan populasi Banteng Jawa (Bos javanicus) di habitat alaminya. Satwa tersebut berstatus terancam punah dan memerlukan upaya konservasi berkelanjutan.
Sebelum program reintroduksi berjalan, Banteng Jawa telah dinyatakan hilang dari Cagar Alam Pananjung Pangandaran sejak 2003. Pelepasliaran pada Desember 2024 menjadi langkah untuk mengembalikan keberadaan satwa ini di kawasan tersebut.
Purbajapa menggunakan pendekatan pengembangbiakan semi-alami dengan empat individu indukan yang berasal dari tiga lembaga konservasi. Taman Safari Indonesia Bogor menyumbangkan Uchi, Taman Safari Indonesia Prigen menyediakan Bindi, sedangkan Taman Safari Indonesia Gianyar, Bali, menyumbangkan dua pejantan bernama Bejo dan Senta.
Melalui pendekatan ini, pengelola berupaya mendukung perkembangbiakan banteng sekaligus mempersiapkan kondisi yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan satwa.
Sembilan Petugas Menjaga Kesehatan dan Habitat Banteng
Purbajapa menempati areal sekitar lima hektare di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Sebanyak sembilan petugas lapangan menjalankan pemeliharaan dan pengawasan satwa setiap hari.
Tugas mereka mencakup pemberian pakan dan nutrisi tambahan, pemeriksaan kesehatan, pemantauan masa birahi, serta pemeliharaan kandang, padang gembala, dan pagar pembatas. Rangkaian kegiatan tersebut mendukung kesejahteraan satwa sekaligus membantu pengelola memantau perkembangan populasi.
Saat ini, tim medis Purbajapa memantau kondisi anak banteng dan induknya untuk memastikan keduanya tetap sehat. Pemantauan setelah kelahiran menjadi bagian penting dalam menjaga kelangsungan hidup anak banteng dan kesehatan induknya.
Kolaborasi Menjadi Kunci Konservasi Banteng Jawa
Kementerian Kehutanan melalui BBKSDA Jawa Barat menjalankan program ini bersama sejumlah mitra. Kolaborasi tersebut melibatkan Taman Safari Indonesia, PT Star Energy Geothermal Darajat II Limited, Pemerintah Kabupaten Pangandaran, dan masyarakat.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Mahfudz, menyampaikan apresiasi kepada BBKSDA Jawa Barat dan para mitra atas kelahiran anak banteng tersebut.
Kelahiran ini menjadi perkembangan positif bagi upaya pelestarian satwa asli Jawa. Meski demikian, pertambahan jumlah individu perlu diikuti pemantauan kesehatan, pengelolaan habitat, serta evaluasi berkelanjutan agar program reintroduksi dapat memberikan hasil jangka panjang.
Bagi Purbajapa, kelahiran anak banteng ketiga menambah harapan bagi pemulihan populasi Banteng Jawa di Pananjung Pangandaran. Keberhasilan berikutnya akan bergantung pada kemampuan pengelola menjaga kesehatan satwa dan mempertahankan kondisi habitat yang mendukung perkembangbiakan.











Komentar