Hilirisasi Nikel Hadapi Tantangan Teknologi Baru, Indonesia Perlu Diversifikasi Industri Baterai EV

- Jurnalis

Kamis, 25 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Hilirisasi Nikel Hadapi Tantangan Teknologi Baru, Indonesia Perlu Diversifikasi Industri Baterai EV (foto: listrikindonesia)

Hilirisasi Nikel Hadapi Tantangan Teknologi Baru, Indonesia Perlu Diversifikasi Industri Baterai EV (foto: listrikindonesia)

Sisipublik.com – Hilirisasi Nikel Hadapi Tantangan Teknologi Baru menjadi perhatian penting di tengah ambisi Indonesia memperkuat posisinya dalam industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) global. Saat pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik berbasis nikel, industri baterai dunia justru bergerak ke arah yang semakin beragam dengan munculnya berbagai teknologi alternatif.

Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN, Sigit Setiawan, mengingatkan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Menurutnya, perkembangan teknologi baterai berlangsung sangat cepat sehingga kebijakan industri nasional perlu mengikuti dinamika pasar agar tetap relevan.

Selain itu, hasil kajian BRIN menunjukkan bahwa Hilirisasi Nikel Hadapi Tantangan Teknologi Baru karena industri kendaraan listrik tidak mengarah pada satu jenis baterai saja. Berbagai teknologi terus berkembang dan saling bersaing sesuai kebutuhan pasar, efisiensi biaya, serta karakteristik penggunaannya.

Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi Indonesia. Di satu sisi, investasi besar telah mengalir untuk membangun rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel. Namun di sisi lain, sejumlah produsen global mulai memperluas penggunaan teknologi baterai yang tidak sepenuhnya bergantung pada nikel.

Hilirisasi Nikel Hadapi Tantangan Teknologi Baru di Industri Baterai

Salah satu teknologi yang menarik perhatian adalah sodium-ion battery. Teknologi ini memanfaatkan sodium yang tersedia dalam jumlah melimpah dan berpotensi menawarkan biaya produksi yang lebih kompetitif. Apabila teknologi tersebut berkembang lebih cepat dan menguasai segmen pasar tertentu, kebutuhan nikel untuk kendaraan listrik dapat berkurang.

Baca Juga :  Jadwal Timnas Indonesia Vs Mozambik, Garuda Championship Series Siap Hadir di GBK

Selanjutnya, perkembangan baterai solid-state, Lithium Iron Phosphate (LFP), dan Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP) turut mengubah peta persaingan industri baterai global. Teknologi LFP semakin populer karena menawarkan biaya produksi yang lebih rendah, daya tahan penggunaan yang panjang, serta tidak membutuhkan nikel sebagai bahan utama.

Karena itu, meningkatnya penggunaan LFP dan berkembangnya LMFP berpotensi mengurangi permintaan nikel pada sektor kendaraan listrik maupun penyimpanan energi.

Risiko bagi Investasi dan Industri Berbasis Nikel

Perubahan teknologi baterai membawa sejumlah konsekuensi terhadap investasi yang selama ini berfokus pada nikel. Risiko tersebut meliputi potensi kelebihan kapasitas produksi, tekanan terhadap harga komoditas, hingga berkurangnya nilai ekonomi aset industri apabila arah teknologi global berubah lebih cepat dari perkiraan.

Menurut Sigit, fokus pengembangan industri tidak cukup hanya meningkatkan produksi satu jenis material. Indonesia juga perlu membangun ekosistem industri yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang terus berubah.

Selain itu, sektor baterai menghadapi tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Produksi baterai membutuhkan energi besar, standar manufaktur yang ketat, serta biaya operasional yang kompetitif. Di sisi lain, pasar internasional kini semakin memperhatikan penggunaan energi rendah karbon dalam proses produksi.

Baca Juga :  Jadwal KRL Jogja Solo, yang Perlu Diketahui Penumpang

Penguatan Teknologi dan Inovasi Jadi Kunci

Sigit menilai Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan keunggulan sumber daya mineral. Negara juga perlu memperkuat kemampuan teknologi, manufaktur, riset, dan pengembangan komponen pendukung kendaraan listrik.

Pengembangan perangkat lunak, sistem manajemen baterai, serta inovasi teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Karena itu, strategi industri perlu lebih fleksibel dan tidak terpaku pada satu jenis teknologi baterai.

Indonesia dapat mengembangkan berbagai opsi secara bersamaan, mulai dari baterai berbasis nikel, LFP, sodium-ion, hingga teknologi baru yang berpotensi muncul pada masa mendatang. Pengembangan bahan baku alternatif seperti mangan juga dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas peluang industri.

Pada akhirnya, masa depan kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya alam. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan. Indonesia masih memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam industri EV global, asalkan mampu membaca arah perkembangan teknologi dan menyiapkan strategi yang lebih beragam, inovatif, serta berkelanjutan. (j/*)

Berita Terkait

Investasi FreeNow di Morowali Berpotensi Serap 1.000 Tenaga Kerja Lokal
Transaksi Emas Digital Tembus Rp299 Triliun, Bappebti Soroti Keamanan Investasi
Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin
Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja
Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha
BPDLH Kelola Dana Lingkungan USD1,3 Miliar, Menkeu Tekankan Transparansi dan Dampak
Ekspor Baterai Kendaraan Listrik Jadi Ujian Hilirisasi dan Tanggung Jawab Lingkungan
Menperin Sarmuji Dorong Sinkronisasi Kebijakan agar Industri Dalam Negeri Tumbuh Lebih Cepat
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:17 WIB

Investasi FreeNow di Morowali Berpotensi Serap 1.000 Tenaga Kerja Lokal

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Transaksi Emas Digital Tembus Rp299 Triliun, Bappebti Soroti Keamanan Investasi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Sumur Rakyat Berizin Jadi Andalan, Bahlil Siapkan Etanol untuk Kurangi Impor Bensin

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Defisit APBN 2027 Turun Jadi 2,4 Persen, Suahasil Nazara Prioritaskan Efisiensi Belanja

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha

Berita Terbaru